Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Kontrakan Untuk Bunda


__ADS_3

"Bunda nggak mau tinggal di sini!" Bu Anis menolak ketika diperlihatkan sebuah rumah dengan dua kamar yang berada tak jauh dari rumahnya Dita dengan alasan terlalu kecil, padahal sebelumnya kontrakan yang mereka tumpangi hanya separuh dari rumah ini. Dua kamar, sebuah ruang tamu dan dapur kecil yang disekat dengan kamar mandi. Sementara rumah ini punya dua kamar, ruang tamu, ruang keluarga merangkap ruang makan, dapur yang lumayan serta sebuah kamar mandi yang terpisah dengan dapur.


"Bun, tolong, beberapa bulan ini di sini dulu ya. Kalau sudah ketemu kontrakan yang lebih besar, Damar janji akan memindahkan bunda ke tempat yang lebih nyaman " janji Damar pada ibunya. Selain keterbatasan dana, ia juga butuh waktu untuk menemukan refrensi kontrakan yang cocok.


"Apasih, Mar. Bunda bilang nggak mau, berarti nggak mau. Jangan paksa-paksa bunda tinggal di tempat yang tidak nyaman seperti ini. Kamu mau jadi anak durhaka? Ingat ya, anak laki-laki, meski sudah menikah ia tetap milik ibunya. Jadi jangan coba-coba membuang bunda ke sini agar kamu bisa lepas tanggung jawab!"


"Siapa yang mau lepas tanggung jawab sih, Bun? Damar mencarikan kontrakan karena Damar belum punya rumah. Itu rumah Dita, Bun. Bukan rumah kita. Damar juga pengen memberikan yang terbaik untuk Bunda dan adik-adik, tapi sabar dulu. Damar sedang berusaha. Bunda juga tidak perlu khawatir, meski kita beda rumah, Damar akan tetap berusaha bertanggung jawab pada Bunda!"


"Kalau begitu kita pulang. Bunda tetap mau tinggal di sana bersama kamu!"


Damar benar-benar sudah geram, ia ingin marah sebab ibunya berbuat sesuka hatinya saja. Tapi ditahan sebab ia tahu ibunya sengaja memancing emosinya agar nanti bisa menjadikan istrinya sebagai kambing hitam.


***


"Jadi, dimana kamar bunda?" tanya Bu Anis.


"Kamar?" Damar dan Dita saling pandang. Di rumah ini hanya ada dua kamar, satu sudah ditempati oleh Dita dan Damar, sisa satu lagi, ditempati oleh adik-adik Damar. "Bunda tidur sama Nanda dan Lala dulu. Sigit biar tidur di luar " Kata Damar.

__ADS_1


"Kenapa begitu?" tanya Bu Anis.


"Kan cuma ada dua kamar, Bun. Masa kami yang harus mengalah. Makanya Damar kan sudah menawarkan untuk ngontrak sendiri tapi bunda menolak. Sekarang baru sadar jadi masalah, kan." Damar menegaskan agar ibunya tidak memaksakan kehendak sebab ia pun bisa juga memaksa akan memindahkan ibunya ke kontrakan kalau tetap berulah. Damar terpaksa bersikap tegas sebab ia tak ingin istrinya menjadi tidak nyaman sebab sekarang saja Dita sudah terlihat kewalahan menghadapi ibu dan adik-adiknya.


Rumah ini memang tak cukup kalau harus menampung dua keluarga. Apalagi ada Sigit yang jelas-jelas bukan mahrom untuk Dita. Ia akan menjadi tidak nyaman di rumahnya sendiri. Gerakannya akan terbatas sebab harus mengenakan kerudung, padahal rumah ini tak cukup luas, hanya ada kamar sebagai ruang privasi.


"Ya sudah. Kami di sini saja dulu." Kata Bu Anis. "Lalu mana sarapannya? Ini sudah jam sembilan lebih lho, sudah terlambat sekali sarapannya. Masa tidak ada yang berinisiatif menyiapkan!" Bu Anis mulai cari gara-gara, menyindir halus menantunya.


"Oh iya, maaf Bun, tadi saya masaknya cuma untuk berdua. Saya siapkan sekarang." Dita tergopoh-gopoh hendak ke dapur, tapi terhenti dengan kata-kata yang terlontar dari mulut mertuanya.


"Bun? Duuuhh jangan panggil saya Bunda ya. Rasa-rasanya tidak pantas. Kamu itu kan bekas guru anak saya. Usianya juga lumayan jauh, pokoknya nggak pantaslah!" cetus Bu Anis.


Damar sudah membaca, akan ada banyak ulah ibunya untuk membuat Dita tidak nyaman sebab ibunya belum bisa menerima Dita seutuhnya sebagai menantu. Makanya ia bertekad akan menjadi garda terdepan untuk istrinya.


"Saya tahu kamu tak akan mungkin bersikap tidak sopan pada bunda, makanya saya minta agar kamu bersikap tegas kalau-kalau bunda melakukan hal-hal yang tidak baik. Saya yakin bunda tak akan berhenti sampai di sini, jadi ketika saya tidak ada di sisi kamu, berjanjilah untuk membela diri kamu sendiri." kata Damar, saat berada di kamar bersama istrinya.


"Ya sayang, InshaAllah." kata Dita.

__ADS_1


"Oh ya, maaf ya, karena kedatangan ibu dan adik-adik, akhirnya rencana bulan madu kita berantakan. Padahal saya ingin kita bersenang-senang." Keluh Damar.


"Sudah, sabar dulu. Semoga saja apa yang kita lakukan ini bisa mendatangkan berkah untuk keluarga kecil kita."


"Aamiin." Damar mengecup kening istrinya. Ia merasa sangat bersyukur bisa berjodoh dengan Dita. Ia merasa tidak salah pilih sebab perempuan itu sempurna di matanya. Selain cantik fisiknya, cantik juga hatinya.


***


Hingga saat ini Damar masih berusaha mencari tempat tinggal yang nyaman untuk ibu dan adik-adiknya. Ia tahu Dita tak nyaman, makanya ia ingin segera mengakhiri ketidak nyamanan itu meski ibunya tetap berusaha untuk menggagalkan niatannya.


"Memang sudah boleh mengajukan pinjaman untuk membeli rumah, om?" tanya Damar, saat istirahat usai bekerja ditemani om Agas yang sedang memantau pekerjaan Damar.


"Hahahaha, sebenarnya saya tidak memberikan pinjaman apalagi yang berbunga untuk karyawan, Mar. Tapi karena kamu spesial di sini, saya akan berikan kamu pinjaman agar kamu bisa membeli rumah secara tunai. Kamu nyicilnya ke saya saja, tanpa bunga!" Kata om Agas.


"MashaAllah. Alhamdulillah. Makasi banyak om!" Damar benar-benar terharu, ia sampai lari ke mushalla bengkel untuk sujud syukur. Berapa baiknya Allah kepadanya. Selama ini Danar terkenal sebagai anak yang cuek, tak peduli pada keluarganya dan sangatlah urakan. Tapi sekarang Allah memberinya kesempatan untuk berubah jadi lebih baik.


Sebagai anak laki-laki tertua, Damar menyadari kalau ibu dan adik-adiknya yang masih belum menikah adalah tanggung jawabnya. Makanya ia berniat untuk bekerja keras memenuhi kebutuhan ibu dan adiknya. Tentunya tak lupa untuk menafkahi perempuan yang telah dinikahinya, yaitu Dita.

__ADS_1


Damar belajar kalau nafkah istri termasuk yang utama juga. Jadi meski istrinya juga bekerja, punya penghasilan sendiri, ia juga bertekad tetap untuk kebutuhan keluarganya harus dari dirinya sendiri.


__ADS_2