
"Apa yang bunda bicarakan dengan Bu Dita?" Damar menyelidik, ia belum mau pergi sebelum ada jawaban dari ibunya.
"Bukan apa-apa." Jawab ibunya.
"Nggak mungkin, kalau nggak ada apa-apa, kenapa harus bicara sembunyi-sembunyi segala?"
"Itu urusan Bunda. Yang jelas, bunda sudah tidak masalah kamu menikah dengannya. Yang jelas kalau ada apa-apa di kemudian hari, kamu jangan nyesal Mar. Jangan nyusahin bunda juga. Termasuk kalau kamu mau berpisah dan kalian sudah punya anak, bunda nggak mau direpotkan dengan anak-anak kalian. Ngerti!"
"Ya Bun, InshaAllah itu semua nggak akan terjadi. Bunda doakan yang baik-baik saja "
"Bagaimana bunda bisa mendoakan yang baik kalau kamu saja nggak nurut sama Bunda. Disuruh nikah sama Rana malah milih ibu-ibu."
Sebelum terjadi perdebatan berikutnya, Damar buru-buru cabut, tapi ia tak kembali ke mess, melainkan menyusul Bu Dita ke rumahnya. Ia ingin tahu apa yang dibicarakan oleh ibunya.
"Bu, tolong bicara jujur. Kita akan memulai kehidupan baru, saya tidak mau ada yang ditutup-tutupi." Pinta Damar. Ia belum bisa tenang sebelum mengetahui semuanya. Ia sangat yakin ada yang tidak beres karena rasanya tak mungkin ibunya yang semula menentang mati-matian tiba-tiba berubah melunak hanya dengan berbicara. Pasti isi pembicaraan mereka sesuatu yang penting. "Tolong Bu, jujurlah. Saya percaya sama ibu, kita bisa saling terbuka."
"Baiklah. Bu Anis minta saya menyerahkan rumah ini menjadi hak miliknya sebagai jaminan saya nggak akan meninggalkan kamu, Mar." kata Bu Dita.
"Apa?"
"Ya, hanya ini harta benda berharga milik saya, makanya Bu Anis minta ini, Mar. Ia ingin sebelum akad semua sudah dibalik nama atas nama Bu Anis."
"Lalu ibu setuju?"
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi, Mar "
"Astagfirullah, Bu,"
"Mar ... kamu sudah berjuang keras demi hubungan ini, saya pikir inilah waktunya untuk saya juga berjuang demi hubungan Ini. Saya tidak mau perjuangan ini sia-sia hanya karena uang, toh kalau kita sudah menikah maka semua milik saya otomatis juga akan menjadi milik kamu, begitu juga sebaliknya. Ya, kan?"
"Tapi Bu. Ahhhh, apa yang dilakukan ibu saya itu tetap saja salah. Berarti bunda merestui kita karena bunda sudah mendapatkan rumah ibu. Lagi pula, kami tidak punya apa-apa, Bu. Saya baru memulai dan entah akan berhasil atau tidak."
"Tidak apa-apa, Mar. Sudahlah. Jangan jadikan ini masalah. Kelak, ibumu juga akan jadi ibu saya. Anggap saja ini bagian dari bakti. Harta bisa dicari. Lagipula rumah ini hanya jadi jaminan oleh Bu Anis, kalau-kalau saya meninggalkan kamu. Semoga saja hubungan kita baik-baik sampai seterusnya sehingga apa yang kita khawatirkan tidak perlu terjadi."
Damar tak bisa berkata lagi. Ia hanya bisa pasrah dan berharap ibunya tak melakukan hal-hal yang salah dengan rumah Bu Dita.
***
Damar masih duduk mematung di depan kaca berukuran sedang. Kalau saja Pian tak mengingatkan agar ia bergegas karena akad akan dimulai tiga puluh menit lagi di kantor KUA dan ia tak boleh terlambat, kalau tidak mungkin Damar masih saja sibuk dengan lamunannya.
Bu Dita adakah perempuan baik, selama ini hidupnya tidak neko-neko. Untuk kebahagiaannya, Bu Dita berjuang agar dihalalkan oleh lelaki yang menjalin hubungan dengannya. Aditya. Tetapi lelaki itu tak kunjung mau menjalin komitmen meski usia mereka sudah memasuki kepala tiga. Padahal menikah adakah impian dari Bu Dita. Damar tahu semuanya karena ia adalah pengagum rahasia Bu Dita dan selalu mencari tahu informasi tentang gurunya tersebut.
"Bang, ayo!" ajak Pian. Ia dan kedua orang tuanya sudah menunggu. Pian memang sengaja mengajak ayah dan ibunya, sebab selain sudah kenal Damar dan menganggap Damar kayaknya anak sendiri, Pian juga ingin memberikan support kepada teman sekelas yang kini sudah dianggapnya seperti Abang angkat sendiri. "Keburu ditunggu Bu Dita, lho "
"Iya sebentar." Kata Damar.
"Kenapa sih bang, kayak resah sekali?"
__ADS_1
"Iya nih,"
"Yaelah bang. Resahnua nanti saja kalau sudah sah. Sekarang buruan. Biasanya pengantin nggak sabaran mau ijab, ini malah sebaliknya." Pian mengejek Damar, tapi hanya ditanggapi dengan senyuman tipis. "Kasihan atuh bang pengantin perempuannya nungguin terlalu lama!'
Pian berhasil menyeret Damar dari mess. Bersama orang tua Pian, mereka pergi ke kantor KUA. Sepanjang perjalanan, ayah Pian memberikan petuah pernikahan seperti yang biasa dilakukan para ayah sebelum putranya naik ke pelaminan.
"Ingat baik-baik, Mar. Usai akad, kamu sudah memiliki tanggung jawab sebagai kepala keluarga dan kamu wajib menjaganya, menuntunnya untuk mendapatkan surga Allah!" pesan ayahnya Pian.
Sampai di kantor KUA, BU Dita sudah menunggu bersama keluarga paman dan bibinya. Bu Anis dan ketiga adik Damar juga sudah datang. Bu Anis sempat menyindir putranya yang terlambat datang.
"Apa ini nggak pertanda, Mar. Baru mau memulai saja kamu sudah terlambat, mungkin pertanda kalau kamu belum siap!" ucap Bu Anis.
***
Damar duduk di hadapan pak Wiguna, selaku wali dari Bu Dita. Di sebelahnya sudah duduk Bu Dita berhadapan dengan bapak penghulu, serta dua saksi pernikahan.
"Bismillah ... saya terima nikah dan kawinnya Dita Pratiwi Ningrum dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar lima juta rupiah dibayar tunai!" Qabul yang diucapkan Damar dengan lantang usai pak Wiguna mengucap ijab.
"Bagaimana para saksi?" Tanya pak penghulu.
"Sah. Sah!" ucap dua saksi secara serentak.
Baarakallahu likulii wahidimmingkumaa fii shaahibihi wa jama'a bainakumma fii khayrin. Ayahnya Pian memimpin doa untuk dua orang pengantin.
__ADS_1
"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih. ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya." Damar membacakan doa untuk perempuan yang telah resmi menjadi istrinya sambil memegang ubun-ubunnya.
"Aamiin ... Aamiin ... ya Rabbal Alamin." Bu Dita mengaminkan doa suaminya dengan suara lirih.