Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Sudah Tidak Akur


__ADS_3

Sepuluh menit telah berlalu, bunda sepertinya telah lelah menangis sambil mengeluarkan semua racunnya. Kepedihannya, luka yang membuatnya tak bisa merasakan kebahagiaan, kekecewaannya yang terlalu besar pada Nanda.


Sebagai anak sulung laki-laki, Damar bisa merasakan bagaimana beban yang selama ini ditanggung ibunya. Ia masih menilai wajar setiap keluhan ibunya. Selama ini memang ia tak pernah mengenal keluarga ibunya, maupun ayahnya. Dari desas-desus yang ditahunya, Keluarga ibunya mengusir ibunya karena menikah dengan ayah. Sementara keluarga ayahnya tak pernah peduli dengan pernikahan kedua orang tuanya. Keberadaan mereka bukan sesuatu hal yang penting, ditambah ayahnya pun tak pernah berinisiatif mengenalkan mereka pada keluarganya. Yang Damar tahu, keluarganya hanyalah kedua orang tuanya dan ketiga adiknya.


"Bun, maafin kami yang belum bisa membahagiakan bunda." Damar berlutut di hadapan ibunya yang tengah duduk di kursi. "Damar memang tak sebaik adik-adik, tapi Damar janji akan berusaha membahagiakan bunda. Begitu juga dengan adik-adik, mereka juga pasti ingin sekali membahagiakan bunda, membalas semua jasa-jasa bunda meski tak akan mungkin bisa terbalas. Kami tidak ingin melihat Bunda bersedih. Selama ini Damar sering membebani Bunda dan Damar menyesalinya."


Penyesalan yang diutarakan Damar, meski belum bisa menjadi obat untuk Bu Anis, namun cukup membuatnya lega. Perempuan yang sebentar lagi genap berusia empat puluh lima tahun itu hanya menghela nafas, dengan langkah tertatih ia masuk ke kamarnya tanpa mengatakan sepatah katapun. Damar tahu ibunya sangat kecewa, bahkan melebihi kekecewaan yang dirasakan dibandingkan batalnya ia menikah dengan Rana.


***


Damar menuju teras rumah, di sana ada Nanda yang masih menangis ditemani Dita. Damar menghampiri, Nanda yang melihat kedatangan abangnya langsung menghambur dalam pelukan. "Bang, maafin Nanda!" Isak tangis Nanda.


"Maaf untuk apa, Nan? Kegagahan kamu ini bukan salah kamu. Abang tahu, untuk masalah pendidikan kamu tak akan pernah main-main, kamu pasti sudah berusaha semaksimal mungkin." Kata Damar dengan bijak.


"Bukan ... bukan itu." Nanda tak mampu berkata-kata, namun Damar mengira adiknya merasa bersalah sebab sudah mengecewakan ibunya. Damar memahami dan bisa menerima. Ia juga pernah berada di posisi itu, meski ia sudah sungguh-sungguh. Kembali lagi, manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan hasil akhirnya. Mungkin ini cara Tuhan untuk mengingatkan Nanda agar tak jadi sombong dengan kecerdasannya.

__ADS_1


"Kamu tidak bisa perlu khawatir, meski belum bisa masuk perguruan tinggi negeri, kamu masih tetap bisa jadi dokter. Kamu masih bisa kuliah di swasta. Saat ini banyak kampus swasta yang tak kalah bagusnya." Kata Damar pada adiknya.


"Tapi kampus swasta kan mahal, bang." Keluh Nanda.


"Tak mengapa, kalau rezekinya jadi dokter pasti akan Allah kasih jalan " Jawab Damar, menguatkan adiknya meski sebenarnya ia pun belum punya gambaran akan dapat biaya dari mana. Ia hanya mencoba untuk pasrah kepada Allah, hanya mengandalkan Allah dalam setiap urusannya dan itu pun diaminkan oleh Dita yang mendukung usulan suaminya.


***


Seperti usulan Damar, Nanda kembali mendaftar di lima kampus swasta. Mulai dari kampus yang dinilai terbaik, bahkan menyaingi kampus negeri hingga kampus yang kwalitasnya biasa saja dengan agreditasi masih C. Nanda mengikuti semua ujian masuknya secara sungguh-sungguh. Ia ingin mengobati kekecewaan hati ibunya dengan belajar sungguh-sungguh. Nanda ingin membuktikan pada ibunya bahwa ia tetap anak yang bisa dibanggakan. Satu kali gagal adalah pelajaran berharga untuknya.


Dimana salahnya? Wajah Nanda yang memucat, namun tetap berusaha berpikir keras. Ia merasa sudah bisa mengerjakan soal-soal ujian masuk dengan sangat baik. Nanda yakin tak aklda jawaban yang tak bisa diketahuinya. Ia bisa semua. Tapi kenapa hasilnya begini? Apa yang salah? Lagi-lagi Nanda dibuat bingung.


Gadis cerdas yang biasanya selalu optimis ini sekarang sebaliknya. Ia jadi pesimis, bahkan merasa masa depannya sudah suram. Tahun ini ia tak akan bisa melanjutkan pendidikan di negeri maupun swasta. Ia hanya akan jadi pengangguran.


Jas putih hanya akan jadi mimpi yang tak akan pernah bisa dicapainya. Nanda hancur, ia bahkan kehilangan semangat hidupnya. Semua cemooh bahkan kata-kata ibunya yang merendahkan dirinya di tekan bulat-bulat. Ia menganggap dirinya memang seperti itu. Hanya seorang anak yang tidak berguna, bodoh, sombong, tak punya masa depan bahkan tak berguna, hanya jadi beban hidup. Bahkan ibunya dengan tega mengatakan agar ia mati saja!

__ADS_1


"Bun, jangan bicara seperti itu. Kasihan Nanda!" Kata Damar dengan tegas. Ia terpaksa pulang dari tempat kerjanya usai ditelepon Sigit, hanya untuk menengahi pertengkaran ibu dan adiknya. Lebih tepatnya ibunya yang mengatai Nanda, meski adiknya tak ada perlawanan sama sekali.


"Ya Bun, Nanda akan mati." jawab Nanda dengan suara lirih, nyaris tak terdengar.


"Nan!" Damar langsung memeluk adiknya yang masih diam namun perlahan terisak-isak. "Tidak apa-apa gagal sekarang, pasti ada hikmahnya. InshaAllah kamu pasti bisa jadi dokter. Abang yakin itu. Abang tahu kamu adik Abang yang paling pintar, kamu kebanggaan di keluarga kita. Kamu yang akan mengangkat derajat keluarga setelah kamu jadi dokter." Kata Damar, menyemangati adiknya.


"Enggak Bang, Nanda cuma beban keluarga." ia mulai terisak.


Bukannya iba, ibunya malah memaki-maki. "Halah, makanya dari awal jangan sombong. Lihat kan sekarang. Kamu itu hanya beban keluarga. Cuma bikin malu keluarga ini. Kamu sama saja seperti ayahmu. Beban. Beban. Beban!" Teriak Bu Anis, sambil menunjuk wajah putrinya dengan emosi meletup-letup.


"Bun, tolonglah," pinta Damar lagi.


"Apa Mar? Kamu mending abaikan saja anak sampah ini. Beban keluarga. Dia nggak akan tahu bagaimana susahnya orang cari duit, dia hanya menambah beban saja. Hiiiihhh, bunda kesal sekali, melihat wajahnya sama seperti melihat wajah bapak kalian. Sibenan hidup itu yang sudah menghancurkan hidupku! Kenapa siiiih? Kenapa bayangan dia tak pernah hilang. Paling tidak dia bawa juga sekalian anak-anaknya yang jadi beban hidupku ini!" Bu Anis mulai meracau. Emosinya tak terkendalikan. Damar sampai kebingungan menenangkan ibunya. Sementara Nanda terus menangis sebab kata-kata tajam ibunya


"Diam!" Akhirnya Damar berteriak untuk menghentikan semua kegaduhan ini. Ia benar-benar pusing. Pundaknya terasa lelah, bebannya begitu berat. Ia ikut bingung melihat ibu dan adiknya. Mereka adalah dulu dua orang yang bak kembar sifat dan sikapnya, sekarang malah sebaliknya, seperti musuh bebuyutan dimana ibunya menyerang Nanda habis-habisan. Lalu sekarang harus bagaimana?

__ADS_1


__ADS_2