Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Nanda Dijodohkan


__ADS_3

"Bang, maafin aku," pinta Nanda dengan wajah yang masih merasa bersalah. Entah sudah berapa kali ia mengulang hal yang sama. Damar yang sebelumnya kesal pada akhirnya bisa merelakan. Meski sempat sangat marah, tapi akhirnya ia luluh juga. Iba dengan adiknya sendiri. Nanda seperti mendapat balasan yang setimpal atas perbuatannya.


Ia awalnya mau memperkarakan kasus ini secara hukum, tapi Dita mengingatkan bahwa bukan hanya Rana dan pengawas yang membantunya yang akan terseret, tapi juga Nanda sebagai salah seorang yang terlibat. Makanya Damar memilih untuk mengurungkan semuanya. Tapi ia tak melepaskan Rana begitu saja, ia mendatangi anak manja itu.


Sampai di rumah Rana, Damar langsung menggedor-gedor seperti orang kesurupan. Melihat Damar datang, Rana begitu bahagia. Ia sampai tak berhenti berkata-kata. Menyuruh Damar masuk sambil berteriak-teriak memanggil ibunya. Andai saja Damar tak menghalanginya, mungkin Rana sudah memeluk Damar berulang kali. Saking ia menahan rindunya. Sejak masuk rumah sakit, Rana tak pernah lagi bertemu dengan Damar. Ibunya mengurungnya, bahkan ke kampus pun ia dilarang. Kata Bu Bintang, Rana baru boleh keluar rumah kalau sudah mau melupakan Damar. Tapi karena terbiasa dimanja dan selalu mendapatkan apa yang ia mau semenjak kecil, makanya ia menolak mentah-mentah syarat dari ibunya. Ia tak peduli pendidikannya berantakan, asal jangan melepaskan Damar. Sebenarnya Rana sudah berusaha menghubungi Nanda untuk tahu kabar Damar, tapi ia tak lagi menggubris Rana.


"Mama ... mama lihat. Akhirnya Damar datang sendiri. Betul kan apa yang Rana katakan, Damar itu adalah jodoh Rana karena cinta Rana besar untuknya. Tuhan pasti iba pada Rana makanya mengembalikan Damar kembali untuk Rana!" Teriak gadis itu pada ibunya yang baru datang.


"Ada apa ke sini, Damar? Bagaimana dengan istrimu?" tanya Bu Bintang.


"Ma, tolonglah. Jangan bicarakan dia lagi. Dia nggak pantas untuk Damar. Rana lah pasangan yang tepat untuk Damar!" seru Rana.


"Cukup!" kata Damar. "Kedatangan saya ke sini hanya minta pertanggungjawaban dari kamu Rana. Kamu kan yang sudah membuat rencana agar saya tidak lulus sekolah. Iya, kan?"


"Kamu bicara apa, Mar? Nanda bilang apa?" tanya Bu Bintang dengan suara bergetar.


"Tunggu Dulu. Jangan-jangan ibu juga tahu semuanya?" Damar menunjuk mantan kepala sekolahnya. "Benar kan, ibu juga tahu? Atau ibu juga ikut membantu? Astagfirullah, orang macam apa sih kalian? Kenapa kalian tega melakukan semua itu pada saya? Kenapa! Apa salah saya? Benar-benar sakit ya kalian! Apalagi sampai melibatkan adik saya." Damar naik pitam.

__ADS_1


"Kamu ... bicara apa sih, Mar?" tanya Rana dengan suara terbata. "Kamu salah paham, Mar. Jangan marah ya. Aku bisa jelasin ini semua,"


"Sudah, sudah. Tidak perlu. Malas saya bicara dengan kalian. Ingat, ibu harus bertanggung jawab untuk semuanya atau suatu saat ibu akan menerima balasannya dari Tuhan. Saya memang tak bisa melakukan apapun tapi Tuhan pasti akan membalasnya, Bu!" Damar berteriak.


"Semua ibu yang menyayangi putrinya pasti akan berusaha melakukan apapun untuk memenuhi keinginan anaknya." Bu Bintang beralasan.


"Halah Bu, tidak semua keinginan anak kita harus diikuti. Apalagi itu keinginan yang salah. Saya bisa memahami jika Nanda dan Rana yang melakukan itu. Mungkin mereka tak bisa berpikir jernih. Tapi ibu ... Ibu, sungguh saya tidak percaya ibu tega melakukan ini semua. Ibu itu pendidik yang seharusnya memberi contoh baik. Harusnya ibu tegur Nanda dan Rana. Tapi kenapa justru ibu ikut terlibat? Benar-benar tidak bisa dimaklumi!"


"Mar, jangan marah ya." Rana masih berusaha meredam emosi Damar, tapi tak juga berhasil.


"Ingat baik-baik, kalau kalian tidak bertanggung jawab dan menganggap enteng semuanya maka tunggu saja balasan dari Tuhan. Saya akan terus berdoa hingga saya mendapatkan keadilan!" Damar mengancam.


***


Meski Damar sudah gagal saat kelulusan. Tapi om Agas tetap memberinya kesempatan. Ia akan tetap dapat beasiswa full tahun depan. Damar juga akan mengikuti ujian paket. Dita dan pamannya, pak Wiguna sudah mengurus semuanya. Ia hanya tinggal mempersiapkan diri.


Sementara itu, Damar dan Dita juga sudah memberi masukan pada Nanda untuk ikut ujian masuk perguruan tinggi tahun depan. Ia masih punya kesempatan satu kali lagi. Makanya ia harus mempersiapkan diri. Dita juga memberikan saran agar Nanda juga membuat pilihan lain di bidang kesehatan untuk cadangan jika kemungkinan terburuk kembali terjadi. Nanda setuju, pilihannya jatuh pada Akbid, akademi kebidanan.

__ADS_1


"Selama menunggu satu tahun ini, Aku akan bekerja, bang. Ya hitung-hitung ngumpulin dana juga untuk bantu-bantu meringankan beban Abang." kata Nanda.


"Sebenarnya tidak perlu sih Nan, yang penting kamu sehat saja, Abang sudah sangat merasakan tertolong." kata Damar. Kondisi psikis Nanda belum seutuhnya sembuh, makanya Damar tidak mau adiknya kembali mendapatkan tekanan.


"Enggak apa-apa, Bang. Dari pada enggak ngapa-ngapain. Selain nyari pengalaman, aku juga berharap dengan bekerja maka hati bunda terbuka kalau sebenarnya aku nggak pernah bermaksud main-main. Aku selalu serius menjalani semuanya. Dan aku ngga ada niatan untuk membuat bunda sedih apalagi marah."


"Baiklah, kalau begitu. Tapi ingat, jangan memaksakan diri." Tekad Nanda sudah bulat, ia akan bekerja di sebuah toko yang ada di mall.


***


Pagi ini, Damar dan istrinya datang ke rumah ibunya sesuai permintaan ibunya. Baru saja hendak masuk, tiba-tiba Nanda langsung menyongsong kehadiran abangnya dengan tangisan. Dengan suara terbata-bata menahan emosi ia menceritakan tentang rencana ibunya pada Damar.


"Bunda menjodohkan aku, Bang. Aku nggak mau, laki-lakinya sudah tua. Duda beranak enam, sudah punya dua istri juga. Aku nggak mau Bang. Aku mau kerja saja, tahun depan aku mau lanjut kuliah, bang!" kata Nanda.


"Dijodohkan? Maksudnya bagaimana?" Damar mencoba mencerna perkataan adiknya.


"Iya bang. Abang ingat Babeh Johan. Itu bang orangnya yang mau dijodohkan denganku. Aku ya nggak mau. Anak sulungnya saja lebih tua satu tahun dariku Huhuhu." Nanda semakin menangis.

__ADS_1


"Sstttt, sudah. Jangan menangis Nan. Abang akan bicarakan dengan Bunda." Damar segera masuk. Ia langsung menemui ibunya yang memang sudah menanti. Ibunya sudah mempersiapkan diri, tahu anak sulungnya akan protes mendukung adiknya yang keberatan. "Kenapa sih, Bun?" Damar tak habis pikir. "Laki-laki setua itu. Usianya sudah hampir lima puluh tahun, timpang sekali dengan Nanda yang baru delapan belas tahun."


__ADS_2