
Berulang kali Rana membujuk Bu Anis agar mau membantunya. Namun usahanya tidak berhasil. Bahkan kini bu Anis benar-benar tidak berpihak padanya meski Rana sudah menjanjikan banyak hal. Termasuk sebagian dari warisannya. Sayangnya Rana belum tahu kalau Bu Anis kini bukan lagi Bu Anis yang dahulu. Sahabat ibunya itu tidak lagi mengalami kesulitan perekonomian karena ia sudah kembali pada keluarganya, yang otomatis masalah keuangannya menjadi stabil sebab ditunjang oleh ibunya.
"Terimalah kenyataan Ran, Damar sudah menikah dan sebentar lagi ia akan memiliki keturunan. Tante tidak bisa lagi membantu kamu sebab menjaga keutuhan keluarga Damar dan Dita sekarang juga menjadi tugas Tante." Kata Bu Anis.
"Tapi Tan, Tante juga tidak bisa memungkiri kenyataan kalau Bu Dita sedang tidak baik-baik saja. Kapanpun ia bisa kehilangan nyawanya dengan kondisi kehamilan seperti itu, kan." ucap Rana tanpa beban sedikitpun.
"Kamu tega sekali bicara seperti itu, Ran. Tante benar-bemar tidak menyangka kamu jahatnya sangat totalitas. Sekarang lebih baik pergilah. Jangan ganggu Damar dan Dita. Tante sangat yakin Dita tidak akan kenapa-napa. Lagipula jika hal buruk terjadi pun, saya tak akan pernah mau menerima kamu sebagian menantu saya, entah keturunan seperti apa yang akan saya miliki jika bermenantu seperti kamu!" dengan tegas Bu Anis memutuskan hubungan dengan Rana. Ia sudah menyadari khilafnya selama ini, bahkan menyesali dan tak menyangka Rana begitu jahatnya.
Bu Anis sudah berjanji pada dirinya sendiri akan berusaha membantu menjaga keutuhan rumah tangga anak dan menantunya. Lagipula ia ingin menebus semua salahnya pada Dita. Apalagi Dita juga sudah berjasa membuatnya bisa berkumpul kembali dengan ibu dan abangnya.
***
Dita baru saja menyuntikkan obat pengencer darah ke perutnya. Sebuah rutinitas yang tak pernah alfa untuk perkembangan bayinya. Ia yang semula takut membunuh semua rasa itu hingga tersisa optimistis bahwa bayi ini akan lahir dengan selamat.
"Sudah?" Damar muncul dengan raut wajah lelah setelah lembur selama dua hari. Pekerjaannya di bengkel memang sedang banyak-banyaknya. Itulah kenapa ia beberapa kali Alfa mengantar Dita ke rumah sakit.
__ADS_1
"Hmm," jawab Dita. Lalu membetulkan posisi duduknya.
"Kamu pasti lelah." tebak Damar, sembari menyisir rambut panjang Dita dengan jarinya.
"Sedikit."
"Nanti, kalau kondisi bayinya sudah lebih baik, kita jalan-jalan berdua ya. Sekalian bulan madu." ajak Damar.
Dita tak menjawab, hanya memandangi wajah lelah Damar yang tak berapa saat langsung berubah terlelap. Tiga bulan lalu lelakinya juga mengatakan hal yang sama, namun hingga sekarang belum juga ia realisasikan. Malahan yang ada semakin sibuk dengan tugas-tugasnya.
Sebenarnya Dita sudah berusaha menerima kondisi itu sebab ia tahu suaminya melakukan semua demi masa depan mereka. Tapi, dengan kondisi sedang hamil ditambah sakit membuat Dita sering membatin. Tak jarang ia menangis diam-diam sebab merasa kesepian. Ia seperti melewati semuanya sendiri. Bahkan kadang mulai muncul rasa untuk menyerah.
Brak. Dita segera bangkit dari duduknya saat ia merasa matanya panas. Tak ingin menangis di hadapan suaminya, meski sedang tidur, makanya Dita segera keluar dari kamar. Di dekat westafel barulah akhirnya air matanya tumpah.
"Aku benar-benar kesepian!" Dita membatin. Dadanya sesak, matanya terus menangis. Bahkan semakin deras air matanya. Meski sendiri, Dita sengaja menutup mulutnya dengan tangan agar Isak tangisnya tak di dengar suaminya.
__ADS_1
Rumah ini adalah saksi bisu bagaimana rasa sepi itu selalu menemani hari-hari Dita. Ia yang sejak kecil sudah ditinggal ibunya harus merasakan hidup kesepian sebab ayahnya juga sering pulang malam karena tuntutan pekerjaan. Tak jarang ia melewati hari dengan tangisan. Kesepian itu memang menyakitkan, namun kala itu Dita tak tahu harus berbuat apa selain menangis menanti kepulangan ayahnya.
Setelah menikah, Dita mengura kesepian itu tak akan muncul di hidupnya lagi. Namun ternyata ia salah. Rasa sepi itu tetap ada, bahkan semakin besar. Sebenarnya Dita bisa saja mendatangi rumah mertuanya sebab di sana ada Bu Anis dan ketiga adik iparnya. Tapi Dita tak ingin merepotkan orang lain, makanya ia menyimpan semuanya sendiri.
Ia masih berharap akan rumah tangganya sendiri yang hangat. Ia yakin, kelak akan ada masanya Damar tak lagi sibuk, toh saat ini suaminya begitu demi kehidupan mereka yang lebih baik lagi. Juga nanti akan ada anak-anak yang ia lahiran. Anak-anak yang menambah ramai suasana di rumah ini dengan suara tawa, teriakan maupun tangisan.
Tanpa sadar, Dita yang semula menangis mulai tersenyum. Ia sudah membayangkan betapa bahagianya ia nanti dengan berbagai kehebohan yang dilakukan calon anak-anaknyq dan Damar. "Aku hanya harus bersabar, sedikit lagi!" gumam Dita sembari mengelus perutnya. Ia ingat sahabatnya Bu Venti, yang selalu mengeluh akan ulah anak-anaknya yang tak ada habisnya. Kelak ia pun akan merasakan semuanya, tapi itu semua tak akan membuatnya mengeluh, melainkan akan jadi kebahagiaan untuknya.
***
Sepasang mata itu masih mengamati Dita dari jarak beberapa meter. Ia tersembunyi di balik tirai pintu kamar. Damar, rupanya tak benar-benar tertidur, ia hanya tidur-tidur ayam. Bangun karena kaget oleh Dita yang bangkit tiba-tiba. Damar sebenarnya paham dengan kondisi Dita saat ini, ia tahu istrinya kesepian, namun ia tak punya pilihan lain. Ke depan akan banyak tanggungan yang harus diselesaikannya. Makanya ia mempersiapkan sebaik mungkin.
Untuk berobat Dita butuh biaya banyak. Juga biaya persiapan lahiran anaknya. Sebenarnya nenek dan pamannya sudah menawarkan bantuan, termasuk melunasi cicilan rumah ibunya. Tapi sebagai laki-laki ia merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan semuanya. Bagi Damar, pantang untuk menyerah meski sebenarnya ia kepayahan. Makanya tawaran itu ditolak dan ia memilih untuk bekerja keras dengan usahanya sendiri.
"Maafkan aku sayang," ucap Damar dalam hati. Ingin sekali ia segera mendekati istrinya, memeluknya erat sambil berjanji akan selalu menemani hari-hari istrinya agar tak lagi merasa kesepian. Namun Damar urung sebab ia belum bisa melepas tanggung jawab tersebut. Makanya Damar memilih kembali ke kamar, dengan perasaan bersalah.
__ADS_1