
Bu Anis masih diam, meski putranya sudah mengajukan protes. Setelah mengeluarkan semua uneg-unegnya, Damar baru diam. Tak lama terdengar suara Bu Anis menghembuskan nafas. "Hmmm, aneh sekali kamu, Mar. Kenapa harus protes dengan perjodohan Nanda. Hanya gara-gara beda usia? Kamu nggak lupa, kan, pernikahan bunda dan ayahmu beda usia. Kamu dan istrimu pun begitu. Lalu apa salahnya kalau Nanda menikah dengan orang yang lebih tua darinya? Mungkin begitulah jodohnya. Iya, kan?"
"Astagfirullah Bunda. Ya berbeda. Bunda mencintai ayah saat memutuskan untuk menikah, begitu juga dengan Damar yang mencintai Dita, makanya tak ada masalah dengan perbedaan usia. Tapi Nanda, sama sekali nggak menyukai babeh Johan!" kata Damar. Ia benar-benar jengkel dengan ibunya yang malah menjadikan pernikahannya dan pernikahan ibunya sebagai contoh. "Lagipula kalau bunda tidak mencintai Ayah, nggak akan mungkin bunda mau menikah dengan ayah. Iya, kan? Bunda juga nggak akan sakit hati seperti sekarang ini hingga menjadikannya sebagai kambing hitam."
"Mar, dengar ya, jangan bawa-bawa bunda dan ayahmu. Bunda nggak suka! Ayahmu itu bukan laki-laki yang bertanggung jawab, berbeda dengan babeh Johan. belum menikah saya ia sudah menyanggupi memberi mahar yang besar."
"Lho, kan Bunda yang awalnya membawa-bawanya. Menyamakan kasus ini dengan kasus bunda. Iya, kan?"
"Ughhh," Bu Anis kesal, ia marah pada putranya. "Kamu itu kalau dibilangin sukanya melawan. Kamu tahu tidak, babeh Johan sudah menjanjikan mahar besar untuk Nanda. Empat puluh juta, tunai. Ia juga akan memberikan satu kontrakannya untuk kita. Apa nggak menggiurkan itu? Kapan lagi punya semua itu. Nanda nggak perlu lagi kerja nggak jelas seperti sekarang, kamu juga nggak perlu keluar uang untuk biaya hidup apalagi persiapan dia kuliah. Kamu bisa nabung uangnya untuk persiapan kuliah Sigit dan Lala. Lagian kapan lagi kita punya kontrakan, iya, kan?"
"Bunda aneh ya. Tega, hanya demi uang mengorbankan anaknya sendiri. Apa bagi bunda kebahagiaan Nanda itu nggak penting. Babeh Johan itu lebih pantas dengan bunda, bukan dengan Nanda. Apalagi dia sudah punya dua istri dan anak cukup banyak. Bunda yakin dia bisa adil? Jangan sampai dia membuat kehidupan Nanda semakin menderita. Kasihan, Bun, sama anak sendiri. Sudahlah. Dengarkan Damar, jangan dilanjutkan lagi. Atau Damar yang akan maju!"
"Apa maksudmu, Mar? Kamu mau menghalangi perjodohan ini?"
"Ya Bun. Damar akan melakukan apapun untuk menghentikan ini semua. Kapan perlu mulai sekarang Nanda kembali tinggal dengan Damar saja kalau bunda tetap ngotot. Damar juga akan laporkan ke polisi kalau bunda masih memaksakan kehendak. Biar polisi yang mengurus semua ini!"
"Damar!"
__ADS_1
"Maaf Bun, ini adalah keputusan Damar."
Damar hendak meninggalkan rumah ibunya, ia akan membawa serta Nanda, tapi Sigit dan Lala menghadang, mereka juga ingin ikut dengan Damar. Tak sanggup jika harus terus bertahan dengan sikap ibunya yang semakin aneh. Apa-apa uang.
"Sigit, Lala ... jangan tinggalkan bunda, kalian harus tahu, apa yang bunda lakukan demi kebaikan kalian. Apa kalian nggak capek hidup miskin seperti ini? Kalian harus paham itu!" tegas Bu Anis.
"Bun, kami nggak ingin kaya raya dari hasil mengorbankan saudara sendiri." Kata Sigit. "Lagipula bunda tega sekali. Kak Nanda selama ini selalu berbuat baik sama bunda, dialah anak yang paling berbakti pada bunda, kenapa bunda malah tega ingin mengorbankannya?"
"Kamu itu tahu apa sih, Git? Bunda itu ibu kalian. Bunda ingin memberi yang terbaik untuk kalian. Jadi jangan salah sangka dulu. Pahami itu." Bu Anis berusaha membujuk dua anaknya yang paling kecil, namun mereka tak menggubris. Tetap bertahan ingin ikut dengan Damar. Karena takut ditinggal sendirian, akhirnya Bu Anis merelakan pembatalan perjodohan Nanda dengan babeh Johan. "Puas kamu, Mar! Nanti kamu juga yang akan menyesal. Ini demi kebaikan kita bersama. Kalau Keluarga kita kaya, tak akan ada lagi orang-orang yang memang remeh kita dan keluarga besar bunda akan menerima bunda kembali." Bu Anis sampai merengek mengungkapkan isi hatinya, tentang kerinduan nya pada keluarga, terutama ibunya. Tapi hingga kini ia tak berani bertemu sbeha ia bukan siapa-siapa. Ia hanyalah seorang janda miskin dengan empat orang anak yang belum bisa membuatnya bangga.
"Kenapa begitu? Bunda nggak suka, Mar. Bunda tak perlu bicara dengan siapapun!" Bu Anis marah, ia tersinggung dengan apa yang ditawarkan Damar, namun ia juga tak punya nyali untuk protes, sebab takut ditinggal sendirian. "Kalau kalian tetap memaksakan kehendak, bunda menyerah saja!"
"Baik kalau begitu. Damar akan pergi!" meski hanya pura -pura tapi Damar benar-benar beranjak dari tempatnya. ibunya langsung ketar-ketir.
"Baiklah baiklah. Terserah kamu saja, Damar. kalau kamu nggak peduli lagi dengan bubea, enggak apa-apa!" Bu Anis pura-pura ngambek. Ia sebenarnya ingin berlalu saja, tapi juga takut akan ditinggal anaknya.
***
__ADS_1
Mengikuti rencana Damar, pagi ini Bu Anis dan sulungnya sudah berada di rumah sakit untuk mengikuti konseling dengan psikolog. Semua atas rekomendasi Dita untuk mengetahui sekaligus mengobati luka batin Ibunya.
"Kemana lagi sih ini?" Bu Anis marah-marah, terlihat betul bahwa ia tak ikhlas menjalani semuanya, namun tak ada pilihan lain dari pada ditinggalkan oleh anak-anaknya.
Dengan sabar Damar dan Dita, lebih tepatnya Dita, yang mengarahkan Bu Anis. Ia bahkan menunggui ibu mertua nya, semnetara putranya Damar memilih menunggu di luar sebab menghindari perdebatan.
Satu-persatu luka batin Bu Anis dibuka. Ia menceritakan beban-bebannya dalam menjalani kehidupan ini, dimana ia dituntut untuk bisa mengayomi suami yang seharusnya melindungi dia.
Selesai terapi, Bu Anis keluar dengan perasaan campur aduk. ia bahkan terlihat sangat lelah sekali, matanya bahkan sembab pertanda habis menangis meski Bu Anis tak mengakui sbeba ia menangis di alam bawah sadarnya, namun tetap saja ia masih belum bisa menerima hidupnya yang sekarang, makanya ia menggerutu saat bertemu anak menantunya.
"Masih berapa lama lagi bunda menjalani ini semua?" tanya Bu Anis ogah-ogahan.
"Sabar ya Bun, ini demi kebaikan bunda "
"Iyalah. Tapi besok-besok bunda ingin berangkat sendiri saja!" Tegas Bu Anis yang sudah punya rencana akan bolos tetapi....
Damar tak menggubris. Ia dan Dita hanya berlalu, membiarkan ibunya kembali mengomel dengan segala keluhannya.
__ADS_1