
Damar baru saja hendak mandi, ketika tiba-tiba Dita masuk ke kamar sambil tersenyum. Ia menyembunyikan sesuatu di tangannya yang diletakkan di belakang badan. Setelah meminta Damar untuk kembali duduk di tempat tidur, barulah ia menunjukkan alat penunjuk kehamilan.
"Maksudnya?" Damar mengerutkan kening.
"InshaAllah kita akan jadi orang tua, sayang." ucap Dita. "kamu akan jadi ayah, dan aku akan jadi ibu."
"MashaAllah. Alhamdulillah ... Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah, terimakasih sayang, sudah memberiku kebahagiaan." mata Damar berkaca-kaca, ia mengecup kening istrinya dengan tangan gemetar. Masih belum percaya jika ia akan segera memiliki keturunan. Begitu baiknya Tuhan padanya. Ia yang bukan siapa-siapa, dipercaya menjadi seorang ayah. Padahal hidupnya saja belum sempurna baiknya. Tapi dalam hatinya Damar berjanji, kelak akan menjaga anaknya dengan baik, ia tak akan membiarkan anaknya seperti dirinya, kehilangan kasih sayang ayahnya.
Pagi ini teramat cerah rasanya. Satu berita bahagia yang dibawa Dita tak hanya membuat Damar gembira, tapi juga jadi kebahagiaan untuk Bu Anis, sebagai calon nenek, juga Nanda, Sigit dan Lala. Sebagai calon om dan Tante. Mereka amat antusias, tak sabar menanti kelahiran bayi ini.
Dita begitu bersyukur. Apa yang ia takutkan sebelumnya ternyata tak terbukti. Allah memberinya kebahagiaan di waktu yang tepat. Ia benar-benar mendapatkan keluarga seperti yang diharapkan.
Sesuai janji Dita hari ini pada ibu mertuanya, ia akan mengantarkan untuk bertemu keluarganya. Sebenarnya Damar dan Bu Anis sudah melarang, mereka ingin Dita beristirahat, tetapi Dita menolak sebab ia ingin menepati janjinya. Lagipula ia tak merasakan keluhan apapun pada kehamilannya yang baru memasuki bukan ketiga.
__ADS_1
"Yakin nggak apa-apa?" Damar masih khawatir, ia berat melepaskan istrinya, tapi ia tak juga bisa menemani karena di bengkel sudah banyak pekerjaan yang menantu. Tak mungkin juga ia minta izin sementara sudah banyak tagihan yang menantu. Apalagi ia akan segera punya bayi, Damar tak mau anaknya hadir sementara kondisi keuangannya masih kurang. Anak ini harus bahagia dan ia akan memperjuangkannya.
"Tenang saja, enggak apa-apa kok!" Dita mengacungkan ibu jarinya. Usai mencium tangan suaminya, ia segera berlalu sambil membonceng Bu Anis.
Motor yang dilakukan Dita berjalan dengan kecepatan sedang. Dua orang itu sebenarnya sama-sama gugup. Bu Anis masih khawatir kalau keluarganya tak bisa menerimanya, namun ia sendiri sudah tak sanggup menahan rindu. Sementara Dita, meski hanya menemani, ia juga punya ketakutan yang tak kalah besar seperti yang dirasa mertuanya. Ia takut Bu Anis ditolak. Entah bagaimana caranya nanti agar ia bisa menenangkan hati ibu dari suaminya tersebut.
Sampai di halaman rumah orang tua Bu Anis, Dita dan Bu Anis sama-sama diam di atas motor, tak ada yang berinisiatif untuk turun duluan. Malahan Bu Anis menyuruh Dita untuk maju sebab ia merasa belum siap.
"Tapi, aku harus bilang apa, Bun?" tanya Dita.
"Duh, kenapa jadi aku?" Dita berdiri mematung di samping motornya, sementara ibu mertuanya mengintip dari pagar sebelah. Sesekali memberi isyarat agar Dita tak diam saja, segera maju menuju pintu. Dengan ragu-ragu, Dita melangkah menuju pintu. Ia tak bisa terus berdiri mematung disana sebab masalahnya tak akan selesai. Kalau sudah begini, ia jadi menyesal kenapa tadi tak mengikuti kata-kata suaminya untuk tinggal saja di rumah, beristirahat, atau ke sekolah mengajar. Entah karena gugup atau memang efek hamil muda, Dita merasa nyeri di perutnya. "Duh," gugup bercampur menahan nyeri membuatnya berkeringat, sementara ia menenangkan diri sendiri, tiba-tiba pintu depan terbuka. "Ya Allah ...." Dita memicing matanya, tak sanggup jika harus diomelin pemilik rumah yang menurut mertuanya galak-galak.
"Siapa?" tanya seorang perempuan yang sudah berumur. Ia memicingkan matanya, mencoba mengenali Dita, tapi ia tetap tak tahu.
__ADS_1
Tanpa harus berkenalan, Dita sangat yakin kalau itu adalah neneknya Damar, atau ibu dari mertuanya. Wajah mereka sangatlah mirip. Dita yang ingin segera menghampiri hanya bisa meringis menahan sakit. "Kenapa? Sedang sakit, kah?" perempuan tua itu beranjak mendekat, lalu membimbing Dita untuk masuk ke dalam rumahnya. "Kamu sakit?"
"Iya, perutnya nggak nyaman," kata Dita, ia meringis.
"Sebentar ya, saya ambilkan minum dulu. Kamu pucat sekali." segera perempuan itu berjalan masuk ke dalam, tak lama ia keluar membawa segelas air putih diikuti lelaki yang Dita perkirakan usianya lebih tua beberapa tahun dari mertuanya. Mungkin itu kakak Bu Anis, tapi entah yang nomor berapa.
Dita menghabiskan segelas air putih pemberian nenek mertuanya. Lalu setelah tenang ia malah kembali gugup karena kini ada dua orang yang siap mendengarkan penjelasan tentang siapa dirinya. Mereka tak melepaskan Dita dari tatapannya.
"Perkenalkan, nama saya Dita, Nek ... pak." Kata Dita dengan sopan. Ia yang seorang guru dan terbiasa ramah pada siapapun dapat dengan mudah membaur dengan keluarga mertuanya. Dita tak ingin bertele-tele, ia menjelaskan siapa dirinya dan tujuannya datang ke sini. Tentu saja kabar yang ia bawa membuat nenek dan pamannya Damar kaget, sekaligus kesal. Kaget karena tak menyangka seperti ini cara mertuanya untuk kembali pada keluarga, kesal karena merasa Bu Anis meski sudah tua tapi tetap saja tak berubah-ubah. Masih saja suka berbuat seenaknya saja.
"Memang benar-benar si Anis, dari dulu selalu saja menyusahkan orang lain. Siapapun yang ada di sisinya pasti akan kerepotan. Sekarang malah memperalat menantu sendiri. Benar-benar!" Nenek Wili, neneknya Damar menggerutu. Ia geleng-geleng kepala. "Lihat adikmu itu, setelah menghilang lama bukannya kapok, berlutut minta maaf, tapi gengsinya masih juga besar. Mama sangat yakin kalau kedatangannya kesini pasti bukan atas inisiatifnya sendiri, ia pasti disuruh seseorang." Nenek Wili menatap Dita, meminta penjelasan tentang dugaannya. Melihat Dita diam sambil tersenyum meringis membuat nenek itu semakin yakin. Lagian bagaimana mungkin ia bisa tidak tahu karakter anak perempuan yang dilahirkannya.
"Sudah lah Ma, yang penting dia pulang. Dari pada minggat terus-menerus. Mama juga kan yang sering mengeluh, takut meninggal belum ketemu Anis." nasihat pak Anton, Meredam emosi ibunya. "Dit, ibu mertua kamu dimana?"
__ADS_1
"Ada, di sama om. Sebentar saya panggilkan." Dita hendak beranjak menjemput mertuanya, tapi ditahan pak Anton, ia yang maju duluan, menjemput adik bungsunya.
Dita hanya bisa melihat dari balik tirai, tanpa bisa mendengar percakapan kakak beradik itu, tapi Dita bisa melihat pemandangan mengharukan. Seperti anak kecil, Bu Anis menangis meraung-raung hingga mengundang perhatian banyak orang, ia memeluk abangnya dengan penuh kerinduan. Dua saudara itu sama-sama melepas rindu, lalu berjalan berangkulan menuju rumah mereka.