Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Gosip


__ADS_3

Koridor sekolah yang semula ramai saat jam istirahat mendadak sunyi ketika Bu Dita berpapasan dengan Damar. Murid-murid yang berada di sekitar sana sontak memandang ke arah mereka berdua, ada juga yang berbisik dengan teman sebelahnya. Bu Dita yang cukup sensitif langsung menyadari ada yang tak beres, sementara Damar sempat cuek, ia masih dengan santai menyapa wali kelasnya tersebut, tapi setelah diberi isyarat barulah Damar mengerti bahwa ada yang tak beres. Bu Dita buru-buru pergi kembali ke ruang guru, sementara Damar tetap di koridor. Ia sempat kesal karena sebenarnya ada yang ingin dibicarakannya pada Bu Dita.


"Kenapa?" Damar bertanya pada salah seorang murid yang berada tak jauh darinya.


"Eh, nggak apa-apa Bang." jawab anak tersebut. Ia bersiap kabur, tapi dicekal oleh Damar.


"Nggak apa-apa kenapa ngelihat aku seperti itu? Ada yang aneh?" Damar agar meninggikan nada suaranya


"Enggak kok, bang," anak itu hendak kembali menghindar untuk kedua kalinya, tapi dengan cekatan Damar merah kerah bajunya sehingga ia tak bisa kabur. Mungkin ini hari sial untuknya sebab Damar membawanya ke sisi kelas terdekat yang tempatnya agak tersembunyi. Tempat yang dirasa Damar aman untuk mengintimidasi.


"Kenapa?" tanya Damar untuk kedua kalinya, tentunya masih mencengkram kerah baju murid tersebut sambil melotot untuk menakut-nakuti.


"I ... itu, cuma penasaran saja bang,"


"Penasaran apa?"


Anak itu gelagapan. Tidak berani menjawab, tapi kalau ia tetap tutup mulut bisa-bisa habis dipukul oleh Damar. Tentu saja anak itu tahu bagaimana trek record Damar di sekolah ini. Si pembuat masalah yang suka berbuat sesuka hatinya, ditambah dua kali tidak lulus membuat ia dituakan. Tidak ada yang berani padanya, bahkan sebagian guru segan pada Damar.


"Itu bang, kata orang-orang Abang pacaran sama Bu Dita," jawabnya, dengan suara sangat kecil, berharap Damar tidak mendengar.


"Apa? Siapa yang menyebar gosip seperti itu?" Damar melotot


"Duhhh maaf bang, nggak benar ya bang?" Anak itu minta ampun. "Maafin saya ya bang, saya menyesal, bang, sudah percaya gosip itu "


"Kamu dengar dari siapa?" gertak Damar.


"I ... Itu, anak-anak yang bilang, Bang "


"Siapa? bawa dia kesini atau kamu aku hajar!"

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, anak itu menyeret temannya yang menyebar gosip tersebut, begity juga dengan yang menyebar gosip pada anak pertama, menyeret penyebar gosip padanya. Seret menyeret sampai empat kali hingga akhirnya sampailah pada si sumber berita yang tentunya membuat Damar geram. Si pembuat gosip tersebut adalah Nanda, adiknya tersebut.


"Kamu kenapa sih harus nyebarin gosip seperti itu?" tanya Damar pada adiknya.


"Gosip? Siapa bilang itu gosip, benar kan Abang dan Bu Dita ada sesuatu?" balas Nanda dengan santai.


"Issss, iya. Tapi jangan beritahu siapa-siapa dulu!"


"Kenapa?"


"Ya nggak enaklah. Bu Dita juga jadi nggak nyaman. Tadi anak-anak ngelihatin kami, Bu Dita Sampai nggak enak hati ke kantin "


"Sudah tahu bakal tidak nyaman, kenapa masih berani-beraninya menjalin hubungan dengan murid sendiri."


"Nan!"


"Bang, anggap saja aku membantu Abang dan Bu Dita untuk go publik. Supaya nanti nggak bikin orang-orang kaget, nggak ada salahnya kan semua orang tahu sejak sekarang." Nanda tersenyum mengejek. "Harusnya Abang dan Bu Dita berterima kasih lho sama aku. Gara-gara aku semua orang tahu." Ia tertawa mengejek.


"Kenapa?"


"Bu Dita malu. Paham kamu!"


"Malu? Hehhh? Hahahaha, sudah tahu Bamal malu tapi masih nekat juga. Kalau masih malu ya harusnya sudahi semuanya, jangan main api lagi. Kecuali memang Bu Dita sudah siap menanggung malu "


"Nanda, ini nggak lucu,"


"Siapa juga yang bilang ini lawakan? Abang itu harusnya sadar, kayak nggak ada perempuan lain saja. Masa harus pacaran sama guru sendiri. Sebenarnya yang malu bukan hanya Bu Dita, tapi aku juga. Semua orang memandang aneh ketika tahu kalian pacaran. Dikiranya Abang nggak normal karena sukanya sama yang lebih tua."


"Memangnya ada aturan tidak boleh pacaran sama yang lebih tua? Enggak kan."

__ADS_1


"Bang, sadarlah. Kayak nggak ada perempuan lain saja."


"Aku sadar Nanda, kamu yang harusnya sadar. Jangan ikut campur urusan Abang!"


"Aku akan terus mencampuri sampai Abang sadar dan putus sama Bu Dita. Aku akan melakukan segala cara supaya kalian menyerah. Aku nggak rela Bu Dita jadi kakak ipar ku!" tegas Nanda.


"Eh kamu ya," kesal, Secara reflek Damar mencubit pipi adiknya.


"Awwww, bang sakit!" Nanda memukul tangan abangnya hingga lepas dari pipinya. setelah itu gadis itu mengusap pipinya yang memerah akibat dicubit abangnya. "Abang jahat. Gara-gara perempuan itu abang tega sama aku." Dengan mata berkaca-kaca ia meninggalkan abangnya dengan kekesalannya.


Sementara itu Damar terkejut dengan sikapnya sendiri. Ia benar-benar tak bermaksud melakukan semua itu pada Nanda, makanya ia menyesal sudah mencubit pipi adiknya sendiri.. Damar ingin mengejar Nanda, meminta maaf pada adiknya yang biasanya manis dan penurut..Sayangnya adiknya tersebut sudah terlanjur masuk ke kelasnya..Damar sangat yakin, bicara sekarang hanya akan menambah masalah baru. Ia tak ingin membuat adiknya makin sedih. Damar berjanji akan minta maaf kalau sudah di rumah nanti.


***


Sudah tiga puluh menit sejak bel pulang berbunyi. Suasana sekolah pun sudah sepi, tak ada lagi siswa-siswi yang berlalu-lalang. Hanya ada Damar seorang, menanti seseorang di balik pohon beringin tak jauh dari gerbang sekolah. Begitu sosok yang ditunggunya keluar, Damar segera menyusul.


"Bu ... Bu Dita," panggil Damar.


"Damar, ngapain kamu?" Bu Dita segera jaga jarak sembari melihat ke kiri dan kanan. Ia tampak benar-benar tidak nyaman.


"Tidak usah khawatir Bu, sudah tidak ada siapa-siapa."


"Damar, pergilah!"


"Tapi Bu, ada yang mau saya bicarakan."


"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Sekarang pergilah!"


"Enggak Bu, saya ...."

__ADS_1


"Apa? mau bahas nikah lagi? Enggak usah mimpi. Saya tidak mau menikah dengan kamu, sampai kamu bisa memberikan saya mahar seratus juta!" Tegas Bu Dita, ia sebenarnya tak ingin menambah beban Damar, tapi Bu Dita harus melakukan sesuatu agar Damar berhenti menemuinya. Apalagi mengajaknya menikah.


Tadi Nanda sudah bicara dengannya. Adik Damar sudah menyatakan keberatannya dengan keputusan Damar untuk menikahinya. Sebenarnya Bu Dita juga tahu diri, sebelumnya ia tak ingin memberikan kesempatan, tetapi sikap Damar membuatnya luluh. hanya saja jika memang keputusan mereka untuk bersama ditentang oleh orang terdekat Damar maka ia siap untuk mundur. Mumpung perasaan ini belum dalam.


__ADS_2