Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Keputusan


__ADS_3

Pagi ini, Damar terpaksa minta tolong ibu dan adiknya untuk menemani Dita sampai ia kembali kerja. Damar takut kejadian kemarin terulang lagi, namun ia juga belum bisa izin karena ada beberapa yang harus diselesaikannya. Statusnya yang hanya pegawai biasa membuatnya harus masuk.


"Bun, kalau ada apa-apa kasih tahu Damar ya." Pinta Damar.


"Iya iya. Sekarang berangkatlah. Kamu harus percaya sama bunda. Bunda pasti akan membantu kamu. Lagipula sudah bunda katakan, bagi Bunda, Dita bukan sekedar menantu, tapi seperti anak kandung sendiri..samalah seperti Nanda dan Lala. Jadi jangan khawatir lagi ya. Cari uang yang banyak saja." Bu Anis menepuk pelan punggung anaknya sembari mendorong agar sulungnya itu segera pergi.


Meski mulutnya tersenyum, namun sebenarnya perempuan paruh baya itu tengah menyimpan sedih sebab kasihan dengan kondisi menantunya saat ini. Meski tak tahu semuanya secara detail, tapi secara garis besar ia paham bagaimana jalan hidup Dita. Nyaris tak ada bahagia dalam hidupnya. Diam-diam Bu Anis menyesal sebab pernah menjadi sumber duka untuk menantunya tersebut. Andai dari dulu ia sadar, setidaknya ia bisa memberikan sedikit saja kebahagiaan setelah banyak kebahagiaan yang diberikan oleh Dita untuk dirinya.


Ia mendapatkan bakti anaknya karena usaha Dita. Ia bisa diterima kembali oleh keluarganya juga karena Dita. Bahkan menantunya itu juga memberinya seorang cucu tampan yang menggemaskan.


Tanpa sadar Bu Anis meneteskan air mata. Ia benar-benar menyesali semua sikapnya. Teringat kembali kejadian semalam saat Dita histeris. Ia sudah mengetahui dari putranya bahwa menantunya itu sepertinya terkena baby blues. Dari Nanda ia tahu secara garis besar apa itu baby blues.


"Ya Allah dzalimnya aku " Bu Anis mengusap pelan air matanya.


"Bunda nangis?" tanya Lala yang kebetulan hari ini tidak masuk sekolah karena baru selesai ujian.


"Enggak, bunda hanya menyesal saja," jawab Bu Anis sekedarnya. Sedang berbincang dengan bungsunya, tiba-tiba terdengar suara teriakan Dita yang membuat mereka segera bergegas masuk.


"Ada apa, Dit?" tanya Bu Anis dengan khawatir sebab melihat menantunya panik.


"Si siapa ini? Kenapa ada bayi di sini?" tanya Dita dengan raut wajah bingung.


"Itu Daffa, anak kamu." kata Bu Anis.

__ADS_1


"Daffa? Anak?" Dita masih tampak bingung. "Saya sudah menikah?"


"Iya. Kamu juga sudah punya anak. Ini, namanya Daffa." Bu Anis menyodorkan Daffa dalam pelukan Dita.


"Oh?" masih kebingungan, Dita membawa Daffa dalam dekapannya. Ia seperti sedang mengingat-ingat sesuatu, entah apa. "Ibu? Maksud saya, ibu, ibunya Damar, kan?"


"Iya. Kamu kenapa Dit?" Bu Anis juga ikut Bingung.


"Dita?" Dita mengerutkan keningnya, ia bingung, kenapa wali muridnya tak memanggilnya Bu Dita? Lalu untuk apa juga mereka di rumahnya? "Maaf, ibu ada apa ya ke sini?" Dita memberanikan diri mempertanyakan keberadaan Bu Anis untuk menjawab pertanyaan di benaknya.


"Damar yang menyuruh ibu ke sini," kata Bu Anis. Ia juga Tambah bingung. Dita seperti tiba-tiba berubah. Apa ini efek baby blues? Bu Anis tidak paham.


***


Tadi ibunya menelepon. Mengabarkan kondisi istrinya yang dianggap aneh. Seperti asing dengan mertua, ipar bahkan putranya sendiri.


Sampai di halaman rumah Damar memarkir motornya sembarangan, lalu meloncat masuk ke dalam rumah. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat Dita yang sedang duduk di ruang tamu bersama Bu Anis juga Lala kaget. Bayi yang digendong Bu Anis, semula tertidur ikut kaget. Tapi untunglah Bu Anis sigap menimang sehingga ia bisa dengan mudah menidurkan kembali cucunya.


"Damar, sudah berapa kali ibu katakan, jangan bersikap seperti anak kecil, kamu harus bisa menjaga sikapmu. Lihat itu, bayi saya jadi nangis!" Dita kesal.


"Damar? Ibu?" Damar jadi ikutan bingung, tapi ia terus berpikir keras. Ada apa dengan istrinya?


Kenapa tiba-tiba, rasanya Dita bersikap seperti seorang guru. Seperti sikapnya dahulu pada dirinya. Apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Damar, sini kamu." Dita memberi isyarat agar Damar segera mendekat. "Dengar ya, untuk apa ibu dan adik kamu di sinj?" tanya Dita dengan suara berbisik, khawatir ibunya Damar mendengar. "Saya benar-benar tidak nyaman. Khawatir suami saya tiba-tiba pulang dan saya nggak bisa menjawab. Jadi sekarang tolong kamu ajak ibu dan adik kamu pulang ya." Pinta Dita.


Kini Damar benar-benar tidak bisa berkata-kata. Ia bingung. Entah apa maksud istrinya. Sepertinya ada yang tidak beres karena rasanya tak mungkin jika isterinya bercanda. Damar sangat tahu kalau Dita itu tipikal orang yang serius dan tak pandai untuk bercanda. Lalu kenapa istrinya?


***


Damar, Dita dan pak Wiguna kini berada di rumah sakit. Mereka bertiga sengaja datang untuk mengetahui kondisi Dita saat ini..Damar terpaksa minta tolong paman istrinya sebab Dita terus menolak pergi dengannya. Bahkan ia yang biasanya tenang kini mulai marah sebab Damar, ibu dan adiknya tak juga pergi.


Tak ingin terjadi sesuatu pada istrinya, juga tak tega jika harus memaksakan kehendak, akhirnya Damar berinisiatif meminta bantuan paman Wiguna selaku keluarga Dita yang masih ada. Untungnya Dita mau menuruti pamannya. Bahkan meski dalam kondisi bingung, ia tetap ikut ke rumah sakit sesuai perintah pamannya.


"Jadi, istri saya kenapa dok?" Tanya Damar yang tidak sabar.


"Saya belum bisa memastikan apa yang terjadi padanya sebab harus melewati rangkaian pemeriksaan dulu." Kata dokter yang memeriksa Dita.


Mereka mengikuti arahan dokter. melakukan serangkaian tes yang cukup menguras tenaga. Hingga akhirnya hasilnya keluar juga.


"Bu Dita mengalami penurunan daya ingat atau yang disebut juga penyakit alzheimer, terjadi akibat penumpukan protein abnormal yang mengganggu kinerja sel-sel saraf di otak. Dalam jangka panjang, otak akan kehilangan beragam fungsi, seperti mengontrol pikiran, memori, dan bahasa.


Gangguan memori ini tidak dapat diobati. Hanya diperlambat saja. Pasien semakin lama akan lupa banyak hal dan kehilangan kemampuan termasuk sekedar mengurus dirinya sendiri.


meski begitu, ada beberapa sisa memori yang masih bisa diingatnya. Agar pasien tak merasa sendiri." jelas dokter.


Tentu saja Damar tak bisa mencerna semua itu. Ia butuh waktu untuk memahami kalau ternyata istrinya sedang sakit. Ia harus membuat keputusan cepat untuk keluarga kecilnya karena sekarang Dita tak ingat apa-apa tentang ia dan anaknya.

__ADS_1


"Paman, ayo kita pulang." tiba-tiba Dita bicara. Ia yang semula termenung saja kini terlihat khawatir. "Paman, aku harus segera pulang, aku takut Aditya mencari karena aku tak ada di rumah." Ungkap Dita yang membuat Paman Wiguna dan Damar saling pandang.


__ADS_2