Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Pengakuan Nanda


__ADS_3

Damar dan istrinya masih menunggu di kursi tunggu depan ruang praktek psikolog. Hari ini jadwal kdua Nanda konsultasi. Sejak gagal kuliah di kedokteran, Nanda berubah menjadi pendiam. Ia sering melamun, lalu tiba-tiba menangis. Tak jarang ia selalu bermimpi buruk, mengigau memanggil ibunya. Sayangnya, hingga hari ini pun Bu Anis belum juga mau datang. Damar sudah membujuk, tapi tidak berhasil, ibunya punya seribu satu alasan. Padahal selain membesuk Nanda, Damar juga berencana mengajak ibunya konsultasi pada tenaga ahli sebab kemarin menurut ahli yang menangani Nanda, ibunya berperan atas luka batin yang dialami Nanda. Ia pun harus disembuhkan agar kondisi mental Nanda kembali membaik. Sebab kalau tidak, Nanda akan bisa kembali hancur mentalnya jika ibunya tak berubah. Tak semua orang sanggup mendengarkan tekanan lewat perbuatan maupun perkataan.


Akhirnya Nanda keluar juga. Wajahnya benar-benar kuyu. Matanya masih merah dan masih ada sisa air mata yang belum kering. Damar membatin, iba pada adiknya yang dahulu begitu gemilang namun kini berubah seperti ini. Kasihan sekali Nanda.


"Kita kembali ke kamar ya." kata Damar, bersiap mendorong kursi Roda Nanda yang digunakan sebagai alat bantu jalan sementara karena lemahnya tubuh Nanda usai banyaknya tekanan dari bunda. Damar benar-benar iba pada adiknya, ia berharap adiknya bisa kembali pulih seperti dulu lagi. Meski mereka jarang bicara, dan biasanya Damar hanya akrab dengan Sigit dan Lala tapi Damar peduli pada Nanda.


"Bang," Nanda menahan. Ia agak ragu, apakah ini saat yang tepat seperti kata psikolog nya,ataukan nanti saja. Tapi sejujurnya Nanda tak akan bisa tenang sebelum membuat pengakuan.


"Apa?" Damar melirik adiknya.


"Aku ingin bicara,"


Damar mendorong kursi roda Nanda menuju kamarnya, diikuti oleh Dita. Sampai di sana, cukup lama Nanda diam hingga akhirnya ia buka suara.


"Mungkin aku tak lulus karena karena." ucap Nanda.


"Hah?" Damar melirik istrinya. "Kenapa Nan?"


"Bang, akulah yang sudah mengganti lembar jawaban Abang saat ujian kelulusan dengan lembar jawabanku." Nanda mengaku. "Saat ujian, aku sengaja tidak mengisi lembar jawaban dengan baik. Aku mengisi asal-asalan. Setelah Abang pergi, kertasnya aku ganti!"


"Jangan sembarangan bicara, Nan. Kamu sedang tidak baik-baik saja." Kata Damar.


"Aku berkata jujur, Bang!"

__ADS_1


"Kamu pikir semudah itu mengganti lembar jawaban orang? Kan ada pengawas. Lagipula kita juga beda kelas."


"Aku dan kak Rana sudah membayar pengawasnya, bang. Mereka masih terhitung saudara dengan kak Rana, jadi mudah sekali bagi kami melakukan kecurangan ini."


"Astagfirullah Nanda!"


Sejak awal Nanda membuat pengakuan, Damar sebenarnya sudah naik pitam. Tapi ia mencoba mengingkari, sebab memang tak akan semudah itu melakukan kecirangan kecuali memang ada orang dalam seperti yang dikatakan Nanda.


Damar kecewa sekali. Kenapa adiknya tega melakukan itu semua. Bukankah selama ini Nanda adalah salah satu orang yang selalu merengek agar Damar cepat lulus sebab ia malu punya Abang yang tidak lulus-lulus. Tapi kenapa tega melakukan semua itu?


Ini benar-benar jahat! Nanda tak hanya membuat Damar tidak lulus, ia juga sudah menutup kesempatan Damar mendapatkan beasiswa dari om Agas untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Nasi sudah jadi bubur, semua sudah terlanjur terjadi, Damar tak tahu harus melakukan apa.


"Maafkan aku, bang," pinta Nanda.


Tega, sungguh tega Nanda melakukan ini semua. Padahal jika ia berhasil nanti, sebagai adik, Nanda juga pasti akan merasakan hasilnya juga. Selama ini Damar mengakui belum bisa menjadi anak dan Abang yang baik untuk ibu dan adik-adiknya. Ia selalu berbuat seenaknya. Tapi setelah mengenal Dita, ia ingin berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi. Namun saat ia tengah berusaha merubah nasibnya, adiknya lah yang justru jadi penghalangnya.


Aghhhhh! Damar menghantam pohon yang add di depannya. Ia benar-benar kesal. Belum bisa rela jika kenyataannya adiknya lah yang menjadi penyebab ia gagal kuliah. "Kenapa sih Nan, kenapa?" Damar merutuk.


"Damar?" Bu Anis berdiri tak jauh dari anaknya. "Ngapain kamu disini? Mana Nanda? Kamu nangis?" Bu Anis mendekat. "Kenapa Mar?"


"Bun, maaf. Damar boleh sendiri dulu?" pinta Damar.


"Kenapa? Bunda sudah datang jauh-jauh ke sini malah diusir."

__ADS_1


"Maaf Bunda, Damar sedang sedih,"


"Kenapa Mar? Cerita sama bunda. Bunda ini ibu kamu, kalau ada apa-apa jangan ngobrol sama Dita saja, tapi cerita juga dong sama bunda."


"Nanda yang sudah menukar lembar jawaban Damar sehingga Damar nggak lulus, Bun,"


"Apa? Tapi bagaimana mungkin, Mar. Nggak akan bisa semudah itu meski anak itu pintar. Lagian buat apa coba?"


"Entahlah. Tapi dia bekerjasama dengan Rana."


"Ya ampun Nanda. Kenapa dia jadi bodoh begini? Bunda nggak habis pikir, sepertinya setelah istri kamu masuk dalam kehidupan kita, semuanya jadi berantakan."


"Bun, ini semua nggak ada hubungannya dengan Dita. Justru Dita yang sudah membuat Damar berubah menuju arah yang lebih baik lagi. Lagipula bunda nggak berhak menyalah-nyalahkan istri Damar, apalagi nggak ada hubungannya sama sekali. Nanda yang berbuat kenapa Dita yang dijadikan kambing hitam."


"Kamu ini ya, Mar. Coba pikirkan baik-baik. Kalau kamu nggak menikahi guru kamu itu, maka Rana akan tetap jadi calon mantu bunda. Maka Rana nggak akan ngajak Nanda untuk mengatur siasat agar kamu tidak lulus. Makanya, pikir dulu, Mar. Semuanya ada sebab akibatnya. Bunda saja paham!"


"Ya Allah Bun, sudahlah. Jangan bahas ini lagi. damar tidak mau Dita yang disalahin karena kenyataannya Dita lah yang banyak membantu keluarga kita! Lagipula ya Bun, kenapa bunda nggak berbuat adil dengan mengalahkan Rana juga? Sudah jelas-jelas dia otak permasalahannya, kenapa malah Dita yang ditembak. Aneh!"


"Halah, kamu itu sudah kena peletnya si Dita itu, makanya kamu selalu bgebelain Dita. Apa salahnya sih Mar kamu bgebelain Bunda, memihak pada bunda sekali saja. Bunda kan juga ingin merasakan kalau kamu memihak sama bunda, apalagi sekarang Nanda sudah seperti itu. Tapi bunda sudah punya rencana untuk Nanda "


"Rencana apa lagi, Bun?"


"Nanti, kalau dia sudah pulang dari rumah sakit akan bunda beritahu kalian semua. Tapi ingat Mar, kamu harus nurut sama Bunda..ngerti!"

__ADS_1


Damar tidak mau mengiyakan ibunya sebab ia tak yakin rencana ibunya adalah rencana baik untuk adiknya. Meski Nanda sudah berbuat curang yang cukup fatal, tapi tetap saja Damar tak bisa membiarkan adiknya tersakiti. Ia sangat menyayangi keluarganya dan bertekad untuk melindungi mereka.


__ADS_2