
Damar benar-benar bahagia dengan rezeki yang sudah didapatkannya. Ia ingin membagikan kebahagiaan itu pada ibu dan adik-adiknya. Makanya ia secara tidak sadar lupa kalau sudah diusir dari rumah, hingga begitu jam kerja berakhir langsung pulang ke kontrakan.
"Abang!" teriak Sigit dan Lala yang sedang duduk-duduk di depan teras kontrakan. "Abang, Lala rindu sama Abang. Abang kenapa tidak pernah pulang?" kata Lala.
"Iiihh, La, Abang kan baru pergi beberapa hari saja. Lagian kalau Abang pulang secepat itu nanti Bunda bisa marah dan mengusir Abang lagi. Kasihan dong sama bang Damar." ujar Sigit.
"Kalian sehat-sehat, kan?" Tanya Damar, sambil menjawab pipi si bungsu. "Abang ada duit nih buat jajan." Damar mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah, lalu memberikannya pada adiknya. Keduanya menyambut dengan gembira. Mereka sampai bersorak gembira karena sebelumnya tak pernah memegang uang sebesar itu. Paling besar uang jajan yang didapatkan adalah sepuluh ribu rupiah, itupun jarang. Kadang hanya dua sampai lima ribu.
"Wahhh semoga rezeki Abang tambah banyak ya supaya bisa ngasih kami uang terus." celetuk Lala sambil tersenyum.
"Bisa saja kamu, La. Tapi aku juga akan berdoa yang sama, siapa tahu tiap bulan bisa dapat segini." Sigit juga ikut berdoa.
Mendengar suara Sigit dan Lala yang bercakap-cakap dengan Damar, Bunda dan Nanda keluar rumah. Mereka penasaran, apakah yang datang benar-benar Damar?
"Abang?" kata Nanda.
"Bun!" Meski baru berpisah beberapa hari, Damar sudah sangat merindukan ibunya. Iya langsung menghambur kepelukan ibunya. "Bun, Damar rindu!" Seru Damar. "Bun, Damar punya kabar bahagia. Semoga setelah ini perekonomian keluarga kita akan semakin membaik. Bunda tahu, on Agas menaikkan gaji Damar jadi lima juta rupiah sebulan. Damar juga dapat bonus yang cukup besar." Damar memperlihatkan lembaran ratusan ribu yang tadi diberi om Agas pada ibunya. "Ini semua untuk bunda. Terus, Damar juga disuruh kuliah lagi."
"Kuliah?" tanya bunda dan Nanda secara bersamaan.
__ADS_1
"Yap." jawab Damar dengan yakin. "Tenang saja, untuk biayanya, om Agas yang akan menanggung semuanya. Damar tinggal daftar saja. Damar juga masih tetap kerja dan dapat gaji yang sama. Nanti Damar kerjanya pulang kuliah. Namanya karyawan istimewa. Gaji dan bonus juga masih tetap sama. Hanya waktu kerjanya saja yang mundur di jam malam."
"Oh bisa begitu ya?" Bu Anis menganggukkan kepalanya. Ia juga senang mendengar berita dari putra sulungnya. Tak pernah terbayangkan olehnya suatu saat anak sulungnya itu akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi mengingat Damar yang ogah-ogahan menuntut ilmu. Ia juga awalnya ragu dengan kemampuan anaknya mencari nafkah, tapi mendengar cerita anaknya, yang bahkan sudah digadang-gadang akan menjadi pegawai di perusahaan setelah lulus kuliah, Bu Anis semakin bangga.
"Ya bisa dong Bun, Alhamdulillah nya Damar dapat kesempatan itu. Semoga ini bisa jadi obat untuk bunda karena selama ini Danar selalu main-main belajarnya." kata Damar.
"Enggak apa-apa, Mar. Setidaknya bunda sudah tidak perlu khawatir lagi tentang masa depan kamu. Rezeki kamu Alhamdulillah semakin membaik. Bunda bangga!" ujar Bu Anis.
Namun berbeda dengan ibunya, Nanda malah cemberut. Tak ada yang menyadari ekspresi kecewa yang ia suratkan. Sebenarnya ia senang jika abangnya berpendidikan, tapi ia khawatir abangnya tak jadi membiayai kuliahnya. Bagaimana ini? Nanda langsung ketar-ketir.
Bunda yang menyadari perubahan wajahnya bertanya. "Kenapa, Nan?"
"Ya tetap Abang lah Nan. Abang akan tetap berusaha kok. Ini semua juga merupakan cara supaya dapat uang banyak untuk kamu!" Seru Damar.
"Bang, orang kalau kerja sambil kuliah itu nggak akan maksimal, akan ada yang jadi korban. Apalagi selama ini Abang nggak pernah serius kalau belajar. Abang yakin atasan Abang akan memberikan gaji besar untuk Abang? Yang ada malah nanti kinerja Abang menurun karena kuliah dan gajinya juga turun atau bahkan diberhentikan. Lalu bagaimana dengan kamu?" kata Nanda.
"Nan, doakan Abang kamu yang baik-baik, bukannya pesimis." bujuk bunda.
"Bun, jangan berharap banyak pada bang Damar. Lagipula bunda kira itu semua benar-benar untuk kita? Enggaklah, Bun. Pencapaian bang Damar ya untuk dirinya sendiri. Bang Damar mempersiapkan semua ini ya untuk Bu Dita. Kan mereka mau menikah!" cecar Nanda.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Nan, Bu Dita tak seperti itu. Kamu kenapa sih selalu saja berpikir negatif tentang Abang dan Bu Dita. Kamu nggak tahu, kan, kenapa Abang menerima ini semua, ya karena demi kamu juga. Demi bunda, demi Sigit dan demi Lala. Nggak hanya untuk Bu Dita. Lagipula dia juga bisa mengandalkan dirinya sendiri. Dia itu perempuan berpendidikan, sudah punya pekerjaan sebagai guru. Jadi jangan menyalahkan dia terus!" tegas Damar.
"Tapi kenyataannya juga akan seperti itu. Sekarang Abang bisa mengelak, nanti juga belum tentu...."
"Apasih, Nan? Yang belum tentu terjadi sudah kamu masalahkan. Kamu sudah terlalu jauh ikut campur urusan pribadi Abang. Lagipula aku menikah dengan siapa itu bukan urusan kamu dan jangan pernah menjelekkan calon pasanganku. Ia tak punya salah apapun pada kamu, Nan."
"Apa, nggak punya salah? Abang, kita QQ jadi seperti ini ya karena dia!"
"Ya Allah ... itu karena kamu yang selalu berpikir negatif. Kamu suka sekali mencari gara-gara. Suatu saat kamu akan mengerti dan malu sudah berprasangka buruk pada Bu Dita!" tegas Damar.
"Bukan hanya aku yang nggak suka, tapi bunda juga!"
"Terserah. Aku pergi dulu. Sepertinya kalian sudah tidak bisa diajak diskusi baik-baik. Pikiran kalian sudah negatif terus." Damar hendak pergi, tapi Nanda meneriaki abangnya agar bertanggung jawab terhadap dirinya, ibu mereka dan dua adiknya yang lain.
"Abang anak laki-laki, harusnya Abang bertanggung jawab atas kami berempat. Jangan cuma memikirkan kesenangan sendiri. Belum juga ada baktinya sudah berpikir mau menikah." ejek Nanda.
"Damar, yang dikatakan Nanda benar. Bunda mau kamu berpikir lagi apakah akan tetap menikahinya atau tidak. Ingat Mar, kalau kamu nekat maka lebih baik kita putus hubungan saja!" bunda menegaskan.
"Astagfirullah Bun," Damar tak habis pikir, kenapa keluarganya jadi posesif begitu padanya padahal ia ingin memberikan yang terbaik. Memangnya menikah bisa jadi penghalang untuk berbakti pada orang tua?
__ADS_1
"Bunda tenang saja, Damar akan bawa Bu Dita ke sini. Ia yang akan bicara langsung pada kalian semua bahwa pikirannya tak sepicij itu!" tegas Damar. Ia lalu naik ke atas motor tuanya, lalu berlaku membawa amarah yang sudah memuncak.