Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Pulang


__ADS_3

Dita memberikan sebuah ide untuk Bu Anis, ia mengajak mertuanya pulang ke rumahnya. Awalnya Bu Anis menolak. Sudah puluhan tahun ia tak kembali, bagaimana mungkin ia sekarang pulang dengan keadaan masih mengenaskan seperti sekarang ini. Ia berpikir akan menjadi bahan tertawaan keluarganya yang cukup terpandang. Bu Anis menolak. Tapi Dita tak mau menyerah begitu saja. Yang namanya rindu, obatnya adalah berjumpa, meski hanya sekedar mengintip dari jauh.


"Bagaimana kalau ada yang menyadari keberadaan saya?" tanya Bu Anis. "Bisa-bisa mereka marah lalu mengusir saya lagi


"Gampang sekali, ibu tinggal pakai masker dan selendang. Asal tidak mencolok, kayaknya nggak akan ketahuan. Kita juga akan jaga jarak dari lokasinya. aku Bagaimana? Setidaknya melihat dulu dari jauh, kalau sudah berani baru kita bertanya.": Ucap Dita.

__ADS_1


Bu Anis bimbang. Ia yang memang sudah sangat rindu sulit sekali menolak tawaran menantunya. Seperti hewan ternak yang diikat, ia menurut saja ketika dibonceng ke kawasan Jakarta Timur, tempat tinggalnya di masa kecil hingga ia lulus kuliah dan sempat bekerja tiga tahun di kantor ayahnya.


"Ya Allah ... ya Allah ... ya Allah," Bu Anis tak bisa menahan air matanya ketika melihat rumah itu. Bangunannya memang sudah banyak berubah, tentu saja karena ada renovasi, tapi kenangan yang ada di sana tak akan pernah hilang diingatan Bu Anis. Ia bahkan dengan lancar bercerita pada Dita tentang hal-hal yang pernah dilakukannya saat kecil.


"Pagar itu selalu saya panjatin setiap sore ketika saya masih kecil hingga sekolah menengah pertama. Saya sengaja memanjatinya agar bisa memantau kedatangan ayah saja." ia tersenyum menunjuk pagar tinggi tersebut.

__ADS_1


"Ibu saya, ia dosen, entah bagaimana ia sekarang. Dulu ibu selalu marah kalau saya suka manjat-manjat karena ibu takut saya jatuh. Saya itu putrinya satu-satunya. Saya punya dua Abang laki-laki, makanya ibu saya sangat menyayangi saya dan berharap saya menikah dengan laki-laki yang sepadan dengan keluarga kami. Tapi saya tetap kekeh ingin menikah dengan ayanya Damar, Keluarga saya tentu tak terima, mereka memberi dua pilihan. Antara orang tua atau ayahnya Damar. Karena saya memilih menikah dengan laki-laki yang saya cintai, ibu dan ayah saya murka, makanya mereka mengusir saya!" Kembali Bu Anis menangis.


Dita tak berbicara sepatah katapun. Ia hanya menyimak sembari sesekali mengusap lembut punggung mertuanya dengan harapan bisa menghilangkan sedikit kesedihan di hidupnya.


"Saya tidak tahu harus mengatakan apa, Bu. tapi ibu harus yakin akan ada jalan untuk bertemu dengan keluarga sendiri. Mereka juga pasti sudah menunggu kepulangan ibu. marahnya Keluarga biasan."

__ADS_1


"Tapi bagaimana kalau tidak?" Bu Anis masih belum melepaskan pandangannya dari rumah orang tuanya.


Rindu itu teramat besar. rindu itu yang membuat seorang anak perempuan yang lemah lembut menjadi penuh luka di hatinya saat keberadaannya ditolak.


__ADS_2