Guruku Tersayang

Guruku Tersayang
Rezeki Anak Salih


__ADS_3

Untuk sementara waktu, Damar memutuskan tinggal di mess bengkel tempatnya bekerja. Om Agas mengizinkannya di sana, tentunya dengan bantuan Pian juga. tadi,setelah pulang dari rumah pak Wiguna, Damar menelepon Pian, sayangnya ia tengah berada di luar kota untuk mengikuti bimbingan belajar sebelum ujian masuk perguruan tinggi negeri.


[Abang nggak usah khawatir, om Agas sudah nyiapin semuanya. Abang tinggal di sana saja dulu. Sepekan lagi aku akan pulang. Kita ketemuan ya!] Seru Pian dari ujung telepon.


Kini Damar sudah berada di mess. Ia menempati kamar yang berukuran tujuh meter persegi. Di dalamnya sudah ada satu tempat tidur kecil beserta bantal dan gulingnya. Untuk sementara waktu ia harus berada di sini.


Sebenarnya Damar sangat menyukai kamar ini sebab kosongan, tidak sumpek dari kamar yang ia tempati bersama Sigit sebab kamar mereka diisi oleh barang-barang titipan bunda. Ia bisa mengatur semuanya sesukanya.


Tiba-tiba Damar teringat ibu dan adiknya. Ia ingin menghubungi Sigit, tapi takut kalau yang mengangkat adalah bunda sebab Hp di rumah itu hanya dua. Satu Hp butut miliknya. Satu lagi Hp yang dipegang ibunya namun sering dipakai oleh adik-adiknya. Kalau bunda tahu, Damar khawatir Bunda marah.


Untuk menenangkan diri, Damar memutuskan salat. Sebaik-baiknya penolong dan pemberi rasa tenang hanyalah Allah.


Usai salat ia lanjut mengaji hingga malam menyongsong. Sebenarnya Damar terhitung belum lancar mengaji. Bahkan mungkin bacaan Quran adik-adiknya jauh lebih baik darinya. Ia memang malas membaca Al-Qur'an. Dulu waktu kecil ia juga sering bolos kalau di suruh ke TPA, ditambah ibunya yang tak terlalu mengawasi sebab sibuk mencari uang untuk mereka. Saking asyiknya mengeja huruf-huryf Hijaiyah, Damar sampai tertidur di atas sajadahnya.


***


Pukul tujuh pagi, Damar sudah mulai bekerja di bengkel. Ia sedang menyelesaikan perbaikan sebuah mobil mewah. Damar dipercaya karena ia satu-satunya karyawan di sini yang berani mengotak-atik kendaraan keluaran Eropa tersebut. Ini mobil kedua dengan jenis yang sama yang akan diperbaiki Damar, mobil pertama berhasil ia taklukkan, makanya pelanggan lain mempercayakan mobilnya juga pada Damar.


"Mar, kalau sudah selesai nanti segera ke kantor saya, ya." pesan Om Agas yang sudah memperhatikan Damar sejak lima belas menit lalu. Om agar selalu takjub dengan cara kerjanya.

__ADS_1


Damar mengiyakan. Lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Setelah selesai ia tes mesin.


"Beres. Alhamdulillah!" Kata Damar. Lalu menyerahkan kunci pada supervisor. Kini Damar melenggang menuju ruang om Agas.


"Ada apa ya, om?" tanya Damar, khawatir pekerjaannya ada yang salah. Ia berpikir keras. Dua hari lalu ada mobil Eropa yang datang, saat yang lain menolak, ia memaksakan diri untuk memeriksanya. Apakah itu yang membuatnya dipanggil.


"Mar, bagaimana, tinggal di mess kerasan?" tanya Om Agas.


"Alhamdulillah kerasan om. Tapi tetap saja kangen pulang." Damar tersenyum malu-malu, sementara om Agar tertawa.


"Oh ya, saya memanggil kamu ke sini karena saya memperhatikan cara kamu bekerja. Saya salut pada kamu, Mar. Kamu sangat menekuninya. Yang lebih membuat saya kagum adalah kamu sangat jenius dalam urusan permesinan. Benar yang dikatakan Pian dan rasanya saya sangat beruntung bisa punya karyawan seperti kamu!"


"Tapi saya tidak ingin menghambat karir kamu, Mar. Kamu masih sangat muda. Kalau kamu bekerja seperti ini kamu gak akan maju-maju. Karena itulah semalam saya berpikir untuk menyekolahkan kamu lagi."


"Sekolah?" Damar langsung panik. Ia tak suka belajar. Untuk lulus SMA saja rasanya sudah sangat sulit sebab ia malas-malasan, sekarang malah disuruh sekolah lagi.


"Jangan khawatir, Mar. Saya yakin kamu akan suka lanjut kuliah di bidang mesin. Tujuannya adalah agar kamu bisa meningkatkan kualitas kamu. Jangan hanya stag sebagai kuli saja. Bukannya kamu punya mimpi dan banyak tanggung jawab. Jadi sudah waktunya mengubah mindset kamu, Mar. Ayo belajar lagi. Kamu, mau, kan?"


"Duuuh om, begini ya, sebenarnya kalau disuruh belajar mesin saya suka tapi masalahnya saya ini anak pertama. Kami dari keluarga tidak mampu. Kalau saya berhenti kerja dan melanjutkan kuliah lalu siapa yang akan menjadi tulang punggung keluarga? Masa ibu saya lagi, om? Siapa yang akan membiayai kuliah saya dan adik-adik saya juga butuh sekolah. Yang tertua saja ingin kuliah tahun ini." Aku menjelaskan bagaimana kondisi saat ini agar Om Agas tak kecewa kalau aku menolak perintahnya melanjutkan pendidikan.

__ADS_1


"Hahahaha." Om Agas tertawa. "Saya suka pemuda yang bertanggung jawab seperti kamu. Yang memikirkan keluarganya. Dengar Mar, saya memberikan masukan kepada kamu bukan berarti saya menyuruh kamu berhenti kerja karena sejujurnya saya masih sangat butuh tenaga kamu. Tapi saya pikir, ilmu dan kemampuan kamu jauh lebih penting.


Saya yang akan menyekolahkan kamu. Saya akan membiayai semuanya. Jadi kamu tak perlu khawatir. Kamu tinggal daftar dan kuliah. Sementara, kamu juga masih jadi karyawan di sini. Kamu bisa kerja sore hari setelah pulang kuliah. Yang penting masuk perguruan tinggi. Nanti kalau kamu lulus akan saya arahkan bekerja di perusahaan saya sebagai tenaga mesin. Yang dipakai bukan lagi tenaga kamu, tapi otak kamu.


Dan untuk gaji, tiap bulan kamu akan tetap menerima gaji. Saya akan menaikkan gaji kamu mulai bulan ini menjadi lima juta rupiah. Kamu juga akan mendapatkan bonus dari tiap mobil Eropa yang kamu perbaiki. Bagaimanapun?"


"Ya Allah ... saya mau pak. Saya mau sekali!" kata Damar.


"Bagus. Kalau begitu persiapkan juga diri kamu untuk ujian masuk perguruan tinggi. Ingat, Mar, ini berhubungan dengan masa depan kamu. Jadi jangan sia-siakan ini!"


Senyum Damar mengembang setelah keluar dari ruang om Agas. Ia benar-benar tak menyangka mendapatkan banyak rezeki seperti ini. Bisa bertemu dengan om Agas saja sudah sangat disyukurinya, ditambah ia bisa bekerja dan kini akan disekolahkan. Ia berharap ini akan jadi jalannya untuk menggapai masa depan yang cerah.


Rezeki ini pasti Allah beri karena ia terus memperbaiki dirinya menjadi lebih baik lagi. Tak lupa Damar juga mengirimkan pesan pada Pian sebagai perantara yang sudah mempertemukan dirinya dengan om Agas. Damar sadar sudah hutang Budi begitu banyak padanya.


[Aku nggak tahu lagi bagaimana cara membalas kebaikan kamu, Yan. Semoga saja suatu hari nanti aku bisa membalasnya.] pesan Damar.


[Hahahaha, enggak usah kaku gitu, bang. Nanti traktir bakso saja :D] balas Pian.


[Siap!] Damar tersenyum. Tak menyangka mereka akan sedekat ini, seperti saudara sendiri. Padahal awalnya saling bertolak belakang.

__ADS_1


__ADS_2