
Berat sebenarnya, tapi Bu Anis tetap menjalani Konsul dengan psikolog karena anaknya semuanya kompak akan menjauh jika ia menolak. Mereka akan diboyong ke rumah Damar. Tentu saja gertakan tersebut sukses membuat Bu Anis mundur teratur, nyalinya ciut.
"Damar harus pergi dulu. Hari ini tak bisa bolos karena pekerjaan Damar sudah menumpuk." Kata Damar. "Oh ya, Bunda akan ditemani oleh Dita. Ia yang akan melayani semua kebutuhan Bunda, jadi mohon kerja samanya. Janga pernah melakukan hal-hal yang menyakitinya. Ingat, ia istri Damar ya Bun, yang berarti menantu Bunda!" ucap Damar. aku
"Apaan sih kamu, Mar. Lagian kenapa juga harus dia yang nungguin. Kalau kamu kerja kan ada si Nanda. Dia kan lagi nggak kerja, kenapa bukan dia saja yang menemani Bunda!" Bu Anis protes. Ia tak bisa terima jika perempuan ini yang berada di sisinya. Sebenarnya Bu Anis susah bisa merasakan bagaimana perhatiannya seorang Dita, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengakuinya. "Ya sudah ya sudah. Terserah kalian saja, yang penting kamj bilangin padanya agar janga mengganggu, jangan pergi jauh-jauh, segera hadir saat bunda membutuhkan! ngerti!"
Dita hanya mengangguk, setelah suaminya pergi dia dengan telaten mengurus segala hal kebutuhan ibunya.
__ADS_1
Dengan sabar juga Dita menunggu ibu mertuanya, ia sama sekali tidak beralih meski Bu Anis cukup lama di dalam.
Setelah dua jam, tiba-tiba Bu Anis keluar. Dita langsung menyongsong. Bertanya sedikit tentang proses yang tengah dijalani Bu Anis, meski dijawab jutek. Sadar masih belum berhasil, akhirnya ia mengajak Bu Anis untuk makan sebelum pulang. Dita tak ingin kehilangan kesempatan, ia sengaja mengulur waktu berpisah.
Antara Dita dan ibu mertuanya awalnya masih terlihat kaku, ibunya masih menampakkan sikap penolakan. hingga akhirnya, usai belanja,mereka akhirnya berubah jadi akrab. seperti tidak pernah saling membenci sebelumnya. ibunya bahkan mulai mengungkap isi hatinya, tentang rindunya pada keluarga.
Dita menampung semua cerita -cweita itu..Kini ia paham kenapa hati perempuan itu seakan sangat keras, ujian hidup yang dijalaninya tidaklah mudah. Ia benar-benar mengandalkan dirinya selama ini, dan Dita meyakini kalau mertuanya sudah teramat lelah.
__ADS_1
"Bu, boleh tidak kalau saya merawat ibu?" Tanya Dita, hati-hati.
Hiks," air mata Bu Anis kembali tumpah, ia menangis sesenggukan. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya, menandakan bahwa ada banyak beban di kepalanya.
"Silakan ibu menangis saja, ayo dibuat lapang hatinya, setelah itu kita mulai lagi semuanya dari awal." kata Dita. Bu Anis pun menurut saja, ia mengeluarkan semua beban yang dirasanya. Tentang perasaan takutnya suatu hari tak bisa memberikan apa-apa lagi, atau juga makanan yang disukai anak-anak. Lalu apa yang harus dilakukannya?
"Ka ... Kamu, kenapa baik padaku? kenapa mau bersusah-susah, padahal aku sangat membencinu,bahkan aku tak ingin kamu menikah dengan anakku. Hingga detik ini aku berharap sembari melihat kehidupan kalian tak akan tahan lama!"kata Bu Anis sejujurnya.
__ADS_1