Hamil Anak Dari Suami Orang

Hamil Anak Dari Suami Orang
Kunjungan Bima dan Raisa


__ADS_3

KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹


Meskipun Zayline terlihat cukup ragu untuk mengantarkan Raisa dan Bima untuk bertemu dengan Indri. Tetapi dia mencoba untuk meyakinkan dirinya kalau dia harus memberikan keadilan untuk sahabat yang sudah dia anggap seperti saudara itu.


Mungkin, meskipun Rico tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan Indri, tetapi ada Raisa dan Bima yang akan memperhatikan Indri dengan kandungannya.


Ketika sampai di rumah sakit, Zayline lebih dulu masuk ke dalam ruangan Indri untuk melihat apa yang sedang di lakukkan oleh temannya itu.


“Indri.” Panggilnya, di saat dia melihat Indri yang baru saja hendak turun dari tempat tidurnya.


“Eh, Zay? Kok kamu di sini? Aku pikir kamu udah pulang.” Sahutnya, melihat Zay yang sedang berjalan ke arahnya.


“Aku memang tadi sempat pulang, untuk


Mandi dan ganti baju, kamu mau ngapain?” Zayline membantu Indri yang sepertinya hendak turun dari tempat tidurnya.


“Aku ingin ke Toilet Zay, apaan sih kamu lebay banget.” Indri menggelengkan kepalanya pelan, ketika Zay terlalu mengkhawatirkannya. Padahal lukanya hanya di tangan masih jauh dari nyawa.


“Indri.” Suara lain menegurnya, membuat Indri langsung menoleh ke arah sumber suara.


Kening Indri mengerut karena melihat sosok yang tak asing baginya. “Kak Raisa, ngapain di sini?” Tanyanya langsung to the point. Lau dia kembali melihat Zayline.


“Zay?”


“Maaf Indri, tapi aku hanya -“ kalimatnya terputus, karena helaan nafas Indri yang terlalu berat terdengar.


Wanita itu kembali duduk di tempat tidurnya, karena dia masih belum mempunyai cukup tenaga untuk berdiri lama.


Raisa mendekat ke arah Indri, lalu dia tersenyum dengan lembut. “Indri, Zayline tadi sudah menceritakan semuanya, Kakak mohon maaf yang sebesar - besarnya atas nama Rico ya.”

__ADS_1


“Benar Nak Indri, saya juga sebagai Papahnya Rico, memohon maaf yang sebesar - besarnya atas apa yang putra saya lakukkan terhadap kamu.” Indri membulatkan matanya besar, ketika dia melihat ke arah Bima, apa lagi ketika dia mendengar jika pria paruh baya ini adalah papah dari Rico.


Indri sejenak menundukan kepalanya, lalu dia melihat kembali ke arah Raisa dan Bima. “Om, Kak Raisa, kalian tidak seharusnya meminta maaf kepada saya, karena di sini di dalam hal ini sayalah pihak yang bersalah.” Air matanya kini mulai menetes kembali, menggambarkan betapa sakit hatinya setiap kali dia mendengar apa lagi mengingat apa yang di katakan Rico barusan pada pesan singkatnya.


“Saya yang seharusnya memeriksa terlebih dahulu siapa pria yang sedang menjalin hubungan dengan saya, seharusnya saya menanyakan lebih dulu apa statusnya, dan bodohnya saya, ketika saya sudah tahu dia mempunyai istri, saya malah seperti mengabaikan hal itu dan terus saja berhubungan bersamanya.” Raisa yang mendengar semua kalimat yang di utarakan oleh Indri, merasa ikut sedih dan langsung memeluk wanita yang sudah terlihat sangat lemah.


“Bukan Indri, ini bukan salah kamu, Jujur saya sebagai kakaknya bahkan juga sangat kecewa, tetapi kakak juga tidak bisa berbuat apapun selain memberikan dukungan pada kamu.” Ucap Raisa, memberikan dukungannya pada Indri.


Bimapun ikut menghela nafasnya, dia juga cukup kecewa dengan semua yang terjadi belakangan ini. “Indri, Om tahu, di dalam keadaan seperti ini tidak seharusnya Om membicarakan hal seperti ini sama kamu, tetapi, apakah Om boleh mengetahui apa planning kamu ke depannya? Dengan Bayi yang merupakan Cucu saya, apakah Saya juga boleh ikut mengetahuinya?” Pertanyaan Bima itu, sontak membuat pelukan Raisa terurai.


Lalu Indri melihat ke arah perutnya, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukkan. Menjadi seorang wanita yang hamil tanpa menikah, sudah jelas pasti dia akan membuat citra buruk pada masyarakat.


“Mungkin, Indri akan melakukkan seperti apa yang Rico minta Om, Indri akan pergi ke Singapore, Negara yang paling dekat saat ini, yang juga melegalkan proses Abor si.” Jawabnya, meskipun terdengar sedikit ragu dalam kalimatnya.


“Indri, kamu serius? Kenapa kamu harus mendengarkan perkataan pria bodoh itu?!” Raisa cukup tekejut mendengar jika calon keponakannya akan di hilangian karena keinginan bapaknya.


Ada jeda sedikit, membuat Indri masih cukup lama terdiam karena dia juga tidak tahu harus menjawab apa.


Dia tertunduk untuk memikirkan hal itu, lalu dia tertawa dalam tangisnya. “Selain keyakinan, sekarang apa yang saya punya Om?” Tanyanya balik, pada Papah dari pria yang sudah membuangnya begitu saja.


“Terlepas dari dia pria bodoh atau tidak, tetapi permintaanya yang menginginkan saya untuk melakukkan abor si, adalah pilihan yang tepat. Saya ingin punya masa depan Om, Kak, saya tidak bisa kalau saya hanya berdiri seorang diri dengan membawa sebuah janin yang bahkan ayahnya saja tidak menginginkannya. Hidup saya sudah cukup hancur saat ini,” jawabnya, membuat Raisa melihat ke arah papahnya untuk meminta respon.


Bima juga sudah melihat keadaan Indri yang seperti ini, jelas dia paham bagaimana perasaan seorang wanita yang sangat hancur sepertinya, apa lagi semua ini karena ulah anaknya. Itu membuatnya sangat malu dan bahkan sebenarnya dia enggan memperlihatkan wajahnya yang sudah tidak mempunyai tampang karena sudah salah mendidik putranya hingga bisa menghancurkan masa depan orang lain.


Sedangkan Raisa, dia tidak bisa mengatakan jangan, karena dia juga tidak bisa memberikan solusi lain untuk Indri agar bisa hidup dengan baik, kalau hidupnya sudah hancur karena adiknya.


Karena tidak ingin membuat Indri terus menerus stress memikirkan hal itu, Raisa dan Bima mencoba mengalihkan pembicaraan mengenai kabar Indri saja, mereka sudah tidak membahas masalah kehamilan.


“Apapun yang kamu mau Indri, Om akan dukung, kalau mau buka usaha om akan kasih dananya, dan untuk masalah kuliah, om akan biayai sampai kamu bisa mendapatkan gelar Notaris seperti Mendiang ibumu.” Bima benar - benar memberikan dukungannya pada Indri.

__ADS_1


Entah ini memang sebuah dukungan dari seorang pria yang baik, atau dukungan dari seorang papah yang merasa bersalah karena perbuatan putranya.


Indri hanya tersenyum tipis saja menanggapinya, sampai mereka berpamitan untuk pulang, Indri hanya berbicara dan menjawab seperlunya saja.


“Zayline, bisakah kamu tanyakan pada dokter besok, aku ingin pulang ke rumah?!” Pintanya, setelah Bima dan Raisa pergi dari ruanganya.


“Loh kenapa? Kamukan belum sehat?” Tanya Zayline dengan bingung.


“Aku sudah cukup sehat menghadapi ujian badai besar ini, aku mau segera pulang dan mengurus semuanya. Aku akan membeli rumah baru dan pindah dari rumah itu.” Jawabnya, memberitahukan Zayline apa yang ingin dia lakukkan besok.


“Baiklah, besok aku akan meminta untuk dokter memulangkanmu besok.” Balas Zayline, dengan senyummya, dia juga tidak berniat untuk bertanya apa yang akan di lakukkan Indri ketika sudah pindah, dan masalah Abor si itu, dia sebenarnya juga ingin menanyakannya apakah dia serius akan melakukkannya atau hanya sebuah gertakan saja.


“Terima kasih ya Zay, kamu sudah membantu.” Ujar Indri dengan lembut dan tulus.


“Sama - sama Indri.” Balasnya lagi.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*

__ADS_1


__ADS_2