
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
Sedangkan Rico yang sudah pergi dari rumah Indri tadi, langsung buru - buru pergi ke Bandara, dia ingin melihat penerbangan Tiket ke Pekanbaru.
Tetapi ketika dia melihat pada situs online, tiket penerbangan ke Pekanbaru hanya dia dapatkan di malam hari.
Jadi dia berpikir akan mencari hotel terdekat dulu agar dia bisa beristirahat sejenak.
Tujuannya ingin ke Pekanbaru, karena dia ingin bertemu dengan Papahnya Indri. Dia tidak tahu apakah Papahnya Indri mau bertemu dengan dia atau tidak.
Tapi yang jelasnya, dia akan memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Rico pergi ke salah satu hotel terdekat dari Bandara, dan ketika dia sudah mendapatkan kunci kamarnya, dia bergegas langsung masuk ke dalam dan juga merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lemas sekali.
Sejak pagi, kepalanya terasa sangat berat sekali, hingga dia merasa seperti ingin terjatuh pingsan.
Tetapi karena dia merasa harus terlihat kuat di depan Indri, maka dia terus saja berusaha menahan sakitnya.
Rico memiringkan tubuhnya, agar bisa mendapatkan posisi yang bisa sedikit mengurangi rasa sakit di kepalanya.
Namun, tiba - tiba saja Rico merasakan sebuah cairan keluar dari hidungnya. Dia mengangkat tanganya untuk memegang cairan itu, dan ternyata dia sedang mimisan.
Rico tidak khawatir, karena belakangan ini hal seperti ini kerap kali terjadi. Rico hanya mengadahkan kepalanya ke atas berusaha agar darah mimisan itu tidak terus keluar dan menetes dari hidungnya, sembari dia mengingat vonis yang di berikan padanya 2 tahun lalu.
Flashback On
“Jadi berikan saya obat asam lambung saya dok.” Pintanya, ketika dia sudah mulai merasa kesal.
Tujuannya datang ke rumah sakit, hanya untuk mendapatkan obat Asam lambung serta oba Vertigonya. Namun, entah kenapa dokter yang ada di hadapannya ini malah memaksanya melakukkan pemeriksaan darah sekaligus CT-Scan, ini sangat membuang waktunya.
__ADS_1
“Maaf Tuan, mungkin ini memang berat, tapi saya sebagai dokter harus memberitahukannya kepada Anda, tentang kondisi Anda.” Sahut dokter itu, dengan wajahnya yang serius.
Namun Rico malah tertawa mendengarnya. “Dok, jangan terlalu berlebihan dok, saya hanya asam lambung dan Vertigo, saya memang suka mual, muntah, sakit kepala dan itu adalah gejala yang biasa. Jangan terlalu serius dok.” Balas Rico, merasa jika dokter di hadapannya ini sangatlah berlebihan.
“Tuan, jika asam lambung dan Vertigo, mereka tidak sering kambuh jika Anda sudah mengatur pola hidup sehat Anda, terlebih lagi Anda selalu rajin meminum obat yang saya berikan, maka dari itu pada hari ini saya yakin untuk meminta Anda menjalankan pemeriksaan lebih lanjut! Dan di sini sekarang saya sudah memegang hasilnya.” Ucap Dokter itu, dan menyerahkan amplop berisikan hasil pemeriksaan itu pada Rico.
Merasa jika dokter di hadapannya ini sedang sangat serius. Rico berpikir bahwa dia tidak bisa menganggap jika ini main - main lagi. Dia menegakkan tubuhnya, lalu menatap wajah dokter itu dengan serius. “Katakan dok, bagaimana hasil pemeriksaanya?!” Tanya Rico, akhirnya mulai penasaraan dengan kondiri dirinya sendiri.
Dokter tersebut sempat menghembuskan nafasnya sejenak. “Maaf Tuan, saya tahu ini bukan kabar baik, tapi saya harus memberitahukan kepada Anda, jika Anda terkena penyakit Kanker Otak stadium 3,”
“Dan kondisi ini bisa semakin parah, jika Anda mengabaikannya atau bahkan tidak mengobatinya dengan baik.”
DEG, jantung Rico berpacu sangat cepat, dia tidak tahu harus bagaimana mau merespon. Dia - dia hanya bisa terdiam dan mencerna apa yang barusan di katakan oleh dokter tentang kondisi tubuhnya.
“Saya akan mendaftarkan dan mulai menjadwalkan Chemotherapy untuk Anda, dan saya harap jika Anda bisa selalu tepat pada jadwalnya.” Ucap dokter itu lagi, karena Rico belum meresponnya sedikitpun.
“Dok, apakah pemeriksaanya sudah betul? Apakah kita butuh melakukkan tes untuk yang ke dua kalinya? Saya yakin semua ini salah dok, atau mungkin hasilnga ketukar, lebih baik kita lakukkan pemeriksaan lagi dok,” pintanya dengan memaksa.
“Ulang sekali lagi dok! Dan pastikan di laboratorium itu hanya ada hasil pemeriksaan saya?! Tidak boleh ada hasil yang lain supaya tidak tertukar lagi.” Pintanya, yang sebenarnya membuat sang dokter merasa keberatan. Namun Rico terus saja memaksa untuk melakukkan Tes ulang.
***
Satu minggu berlalu, dia sudah bolak balik mencari rumah sakit terbaik untuk melakukkan tes ulang, dan karena dirinya semakin sering melakukkan CT-Scan, kepalanya terasa lebih sakit dari yang sebelumnya.
Dan ini adalah rumah sakit terakhir yang dia datangi dalam seminggu ini. Jika hasilnya sama dengan rumah sakit lain, maka mau tidak mau dia harus menerimanya.
“Bagaimana dok?” Tanya Rico, ketika dia sudah memasrahkan hasilnya.
Dokter itu terlihat lemas, “hasilnya sama Tuan, Anda menderita Kanket otak stadium 3,”
__ADS_1
“Jika Anda memang sudah melakukkan pemeriksaan selama seminggu ini, saya sarankan Anda untuk berhenti Tuan, dan fokuslah pada pengobatannya, karena jika terus di biarkan, sel kanker itu akan semakin menyebar.” Jawab dokter itu, yang mau tidak mau membuka pikiran Rico untuk menerimanya.
“Apa saya tidak bisa sembuh dok?” Tanyanya dengan suaranya yang mulai lemah.
“Kita akan coba untuk selalu Kemo dan jiga meminum obat rutin ya Tuan, dan Anda juga harus semangat agar penyakit ini bisa sembuh.” Ucap dokter itu. Yang membuat Rico semakin merasa jika dia sudah tidak ada lagi harapan hidup.
Pulang dari rumah sakit, Rico mencoba untuk melupakan segalanya. Dia tidak memberitahukan pada siapapun tentang penyakit yang dia derita walaupun pada Ririn.
Tetapi semenjak saat itulah dia menginginkan seorang anak, agar Ririn mempunyai teman di saat dia sudah tidak ada, atau setidaknya anaknya itu akan menggantikan posisinya sebagai anak orang tuanya.
Flashback OFF
Rico melihat ke arah tangannya yang penuh dengan darah. Karena dia habis menyeka darah mimisannya itu dengan tangannya. “Jika sekarang dia akan pergi, maka tidak apa - apa. Orang tuanya sudah mempunyai anak laki - laki yang lain, dan mempunyai tiga anak, dan jika kehilangan salah satunya maka itu tidak apa - apa.
Dan lagi pula, dari awal dia memang ada karena sebuah keterpaksaan, jadi meskipun dia pergi, itu tidak akan merubah apapun.
Tetapi, tugasnya sekarang adalah meminta maaf pada Papahnya Indri, agar ketika dia pergi, tidak akan ada rasa penyesalan atau rasa bersalah yang akan dia bawa pergi.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
__ADS_1
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*