
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS πβ€οΈπΉ
Setelah mengatakan jika dia akan ikut pulang bersama dengan Vino.
Rico meminta untuk mereka pergi ke hotel terlebih dahulu untuk memberikan mobilnya kepada Erwin.
Tadinya Vino bertanya, siapa Erwin ini? Dan mengapa Rico harus memberikan mobil kepadanya? Tetapi Rico enggan untuk menjawab, dan berkata jika dia akan melihatnya sendiri nanti.
Sesampainya di hotel, Rico berjalan dan mengetuk pintu kamar Erwin. Dan semua pergerkaanya benar - benar di perhatikan oleh Vino.
Pria itu ingin tahu, apa yang sedang di sembunyikan oleh saudara tirinya itu.
Setelah beberapa saat Rico mengetuk pintu, akhirnya Erwin membuka pintu dan terkejut di saat melihatnya.
"Dari mana kamu?! Saya sudah mengatakan jika kamu harus istirahatkan! Kenapa kamu keluar tanpa memberitahu saya?!"
"Rico, apakah kamu benar - benar sudah tidak perduli akan kondisimu? Apakah kamu memang benar - benar akan mati di bandingkan berjuang?" Erwin menyerang Rico dengan banyak pertanyaan.
Membuat Rico tersenyum Kikuk, karena Vino pasti mendengar apa yang di katakan oleh Erwin barusan.
"Hem, Om, maafkan saya, tetapi saya harus segera sampai ke Jakarta om, jadi saya pergi untuk berpamitan dengan Indri, sebelum saya benar - benar akan pulang nantinya." Ucapnya, memberitahu alasan mengapa dia pergi tadi.
Erwin yang mendengar itu, langsung menghela nafasnya panjang. "Lalu kenapa tidak pamit dengan saya? Kalau kamu pamit, saya tidak akan sekhawatir ini dengan kamu." Balas Erwin lagi, terlihat sekali raut wajahnya yang sedang khawatir mencari Rico.
"Maafkan saya Om, karena sudah buat om khawatir." Rico tersenyum, karena di dunia ini masih ada orang yang mengkhawatirkannya.
Erwin benar - benar mempunyai hati yang sangat lapang. Setelah apa yang dia perbuat selama ini, pria paruh baya di hadapannya ini malah berbalik mengkhawatirkannya dan mengurusinya. Padahal jika dia membenci Rico, hal itu sangatlah pantas yang dia dapatkan.
"Apakah kamu benar - benar akan ke Jakarta untuk melanjutkan pengobatanmu?" Tanya Erwin, kembali membuat Rico tersenyum kikuk.
Dia hampir tidak bisa bernafas, karena Erwin benar - benar tidak memperdulikan kehadiran Vino, dan terus saja membicarakan masalah pengobatan.
"Tentu saja Om, saya akan ke Jakarta untuk pulang, dan melanjutkan pengobatan saya. Jadi Om di baik - baik ya sama Indri," jawabnya masih berusaha menampilkan senyumnya.
__ADS_1
"Saya meninggalkan mobil ini untuk Om gunakan, pergi ke Rumah Indri, karena di sana dia juga belum memiliki kendaraan apapun, selain milik Zayline." Tambahnya lagi, memberikan kunci mobilnya pada Erwin.
"Saya akan menyusul kamu Rico setelah Saya menemui Indri, saya akan segera menyusul kamu ke Jakarta."
"Om, saya rasa itu -"
"Itu sangat perlu, karena saya tidak percaya jika kamu akan benar - benar melanjutkan pengobatanmu Rico." Tegas Erwin, membuat Rico langsung terdiam mendengarnya.
"Baiklah, Om, tapi jangan buru - buru ya Om, habiskanlah waktu dengan Indri, karena nanti jika perhatian Om terbagi dengan saya, dia akan semakin marah dengan saya om." Sahut Rico, mengalah dan tidak ingin melarang apapun yang ingin di lakukkan oleh Erwin.
"Kamu pergi ke Jakarta dengan siapa?" Tanya Erwin, menoleh ke arah Vino yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka.
Seketima Vino langsung tersenyum, dan lalu mengambil tangan Erwin untuk menyalaminya. "Rico akan pulang dengan saya Om, saya adalah Vino kakak dari Rico, sekaligus teman dari Indri juga." Vino menjawab pertanyaan Erwin yang di tujukan pada Rico.
"Vino, pastikan kalian sampai di Jakarta dengan cepat dan baik ya, kalau bisa sampai di Jakarta, langsung bawa Rico ke rumah sakit untuk melanjutkan pengobatannya." Pinta Erwin pada Vino, dan ini semakin membuat Vino merasa bingung.
"Pengobatan apa ya Om?" Tanyanya langsung to the point, karena dia merasa penasaraan sejak tadi.
"Om, saya pamit ya om, karena takut kemalaman." Rico lebih dulu memotong percakapan mereka. Lalu mengambil tangan Erwin untuk menyalaminya dan mencium punggung tangan pria paruh baya itu.
"Kamu yang harusnya jaga diri, yang sakit kamu, bukan saya." Sahut Erwin, yang semakin membuat Rico merasa jika dia sedang di dorong ke jurang.
****
Setelah berpamitan dengan Erwin, kini Rico dan Vino sudah berada di dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka pulang ke Jakarta.
"Apa ada yang ingin kamu katakan padaku?" Tanya Vino, menodongkan pertanyaan yang sejak tadi sudah membuatnya penasaraan.
Rico menoleh sedikit ke arah Vino, lalu kembali menatap ke depan. "Tidak ada," jawabnya dengan santai.
Karena memang dia merasa jika tidak ada yang akan dia katakan pada kakak tirinya ini.
"Rico! Jujur! Sebenarnya apa yang terjadi?! Kenapa papahnya Indri mengatakan berulang - ulang tentang pengobatan?! Apakah kamu sakit?" Tanyanya dengan tegas. Vino bukanlah orang yang bodoh, dia bisa menyimpulkan jika ada yang tidak beres pada Rico, sampai raut wajah Erwin seperti itu ketika mengetahui Rico pergi tanpa bilang padanya.
__ADS_1
"Kenapa aku harus jujur sama kamu?!" Tanya Rico, kini suaranya terdengar sangat sarkas.
"Karena aku kakak kamu." Jawab Vino, tak kalah tegas.
Rico tertawa mendengarnya. "Terus kalau kamu kakak aku, semua hal dalam diri aku harus aku bilang sama kamu begitu?" Tanyanya lagi.
"Tentu saja! Karena kita adalah keluarga." Jawab Vino, sedikit membentak.
Mendengar kata keluarga, Rico kembali tertawa. "Keluarga siapa? Keluarga kamu kali, bukan keluarga aku." Sahut Rico, dengan pandangan yang menatap ke arah luar.
"Rico, apakah kamu marah karena ternyata aku adalah kakak tiri kamu, atau kamu marah ternyata -"
"Aku tidak marah, aku justru senang, karena aku bisa bebas dari segala peraturan yang di buat oleh Papah." Sahutnya dengan cepat, memotong kalimat Vino.
Rico menutup matanya, ketika bayangan masa kecilnya yang tersiksa kini mulai kembali menghantuinya. "Dari kecil, hidupku hanya di ajarkan untuk menjadi pewaris, sampai Papah lupa jika aku kehilangan masa kecilku yang seharusnya bermain dan menikmati waktu bersama dengan teman - teman seperti apa yang Kak Raisa dapatkan,"
"Tetapi aku malah mendapataknnya di saat sudah dewasa, dan itu karena kamu datang. Jika kamu tidak ada, bisa saja saat ini aku akan mati konyol tanpa merasakan nikmatnya sebuah kebebasan." Ungkapnya membuat Vino tertegun.
Selama ini dia mengira jika Rico adalah seorang anak yang manja, karena lengkapnya ke dua orang tuanya, dia bisa mendapatkan apapun yang dia mau. Tapi ternyata dia malah kehilangan masa kecilnya. Membuat Rico merasa sangat kasihan dengan adik laki - lakinya ini.
Tetapi, Vino juga tidak bisa terus menyimpan rasa penasaraanya. Dia ingin tahu sebenarnya apa yang sedang di sembunyikan Rico, dan harus di ketahui.
Dia merasa sudah gagal menjadi seorang keluarga, karena Erwin yang orang luar saja bisa mengetahui keadaan Rico, lalu mengapa dia tidak?
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
__ADS_1
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*