
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS πβ€οΈπΉ
Vino duduk di luar ruangan, karena tadi dokter langsung menyarankan operasi untuk Rico.
Membuat dirinya, duduk di luar untuk menunggu hasil dari operasi Rico.
Dia memikirkan apa yang akan dia lakukkan setelah ini. Apakah dia akan mengatakan semuanya pada orang tuanya, pada Indri dan lain - lainnya?
Tapi, kalau Rico akan marah padanya bagaimana? Sedangkan hubungannya dengan Rico barulah baik saat ini.
Tetapi kalau tidak di beritahukan, nanti akan ada penyesalan di hati orang tuanya yang tidak bisa menemani Rico di saat - saat terakhir.
Jika selama ini Rico merasa kesepian, apakah tidak sebaiknya di saat terakhirnya kali ini, dia bisa mendapatkan banyak kasih sayang.
Vino mengusap wajahnya kasar, dia tidak tahu harus mengambil langkah seperti apa saat ini.
Dia duduk di luar ruang operasi sudah 3 jam lebih, tetapi operasi masih belum selesai, dan tidak tahu kapan akan selesai.
Vino bahkan, sampai tidak nafsu untuk makan.
Dia tidak membenci Rico, selama ini memang dia merasa iri ketika Rico bisa tumbuh besar bersama dengan Papahnya.
Tetapi, ketika mendengar semua apa yang di katakan Rico, entah dirinya harus bersyukur atau tidak. Tetapi, rasa iba dan kasihan pada Rico kini semakin tumbuh.
Anak itu tidak mempunyai siapapun yang bisa menjadi tumpuannya. Mamah yang selama ini dia percaya, dan dia pikir baik, ternyata dialah yang menjadi penyebab kehancuran keluarga lain. Pasti saat ini Rico benar - benar merasa sangat putus asa sekali dengan kehidupannya.
Makanya, di saat dia tahu dia sakit, tidak pernah sekalipun dia berpikir untuk sembuh.
Dia selalu menganggap, bahwa kehidupannnya di dunia ini memang sudah akan selesai.
Ketika Vino terdiam memikirkan keadaan keluarga mereka saat ini. Tiba - tiba saja ponselnya berdering, menandakan telpon masuk dari seseorang, dan itu adalah Indri.
__ADS_1
"Vino, apakah kamu sedang bersama dengan Rico?" Tanya Indri, ketika panggilan itu sudah terhubung.
Vino hanya diam, dan merasa enggan untuk menjawab.
"Vino, aku bertanya denganmu! apakah kamu mendengarku?!" Tanya Indri lagi.
"Indri, bisakah aku matikan panggilannya sekarang? Aku benar - benar sedang malas untuk bicara sekarang." Jawab Vino, dengan perasaanya yang kesal.
Dia merasa muak dengan keadaan, dan semuanya.
"Vino, apakah aku berbuat kesalahan? Kenapa kamu seperti membenciku?"
"Aku hanya bertanya, apakah kamu sedang bersama dengan Rico, karena Papah aku berangkat dari subuh untuk ke Jakarta, dan dia sekarang sudah di Jakarta, dan ingin menanyakan di mana lokasi kalian, karena dia tidak bisa menghubungi Rico. Maaf ya, kalau aku buat kesalahaan. Aku tidak akan -"
"Berikan saja nomor Papah kamu ke aku, nanti aku yang akan memberikan lokasinya pada beliau." Sahut Vino, lalu mematikan panggilan ponselnya, membuat Indri langsung menyeritkan keningnya dan menatap ponselnya dengan bingung.
"Ada apa Indri?" Tanya Zayline, yang terlihat sedang bersiap - siap untuk pergi bekerja.
"Terus, kenapa wajahmu di tekuk seperti itu?" Tanya Zayline dengan bingung.
"Aku tidak mengerti kenapa Vino marah - marah sama aku." Jawabnya dengan wajah yang lesuh.
Zayline yang mendekati Indri, dan duduk di sebelahnya. "Memangnya Vino tadi jawab apa?" Tanya Zayline lagi.
"Dia bilang, sedang malas bicara sekarang gitu." Jawabnya memberitahu Zayline apa yang di katakan oleh Vino tadi.
"Mungkin mereka sedang ada masalah Indri, tunggu saja, dan jangan ganggu dia lagi. Kasih di waktu, sampai nanti dia menghubungi kamu sendiri." Zayline memberikan saran untuk Indri, agar sahabatnya itu tidak kembali memikirkan tentang hal yang tidak - tidak.
Indri menarik nafasnya dalam - dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. "Tapi kenapa perasaanku semakin tidak enak ya, apakah ada yang terjadi tapi mereka tidak memperbolehkan aku untuk mengetahuinya?"
"Coba deh, Papah pergi untuk mengawasi Rico, sedangkan Vino pulang bersama dengan Rico, tapi tidak langsung pulang ke rumah, padahal Om Bima sudah menunggu mereka, dan semalam Vino baik - baik saja, tapi sekarang Vino seperti sangat marah."
__ADS_1
"Pasti Rico membuat ulah lagi yang membuat Vino marah,"
"Benar - benar ya! Pria itu benar - benar gemar sekali membawa masalah, mati kek biar gak ngerepotin orang." Ucap Indri, benar - benar merasa kesal dengan Rico.
Zayline terlihat menggelengkan kepalanya pelan. "Indri, jaga omonganmu! Kamu tidak tahu apa yang sedang terjadi! Aku sudah bilang sama kamu untuk tidak berpikir buruk tentang orang lain. Tetapi kamu masih saja suka overthingking pada orang lain."
"Kamu mungkin berpikir jika Rico yang membawa masalah, tapi jika memang itu sebuah masalah, terus hubungannya sama kamu dan papah kamu apa?"
"Harusnya papah kamu senang dong, kalau kamu tidak berhubungan lagi dengan Rico, kalian itu udah tidak ada urusan, dan kenapa Papah kamu harus mengawasinya? Apakah harta keluarga kamu di curi olehnya atau apa?" Ucapnya dengan tegas, memberikan peringatan pada Indri, untuk selalu menjaga kalimatnya setiap bicara.
"Kok kamu malah marah sama aku sih Zay, akukan hanya berpikir dengan fakta yang ada, selama ini kamu juga tahukan jika Rico selalu membuat masalah. Terus apa yang salah dari kalimatku?"
Zayline menghela nafasnya kasar sebelum dia beranjak dari duduknya. "Aku akan pergi sekarang Indri, semuanya terserah kamu, jika kamu mau berpikir buruk tentang Rico, ya aku tidak bisa melakukakan apapun."
"Setiap manusia berhak kok, berpikir dan mengambil kesimpulan apapun. Jadi aku tidak akan bicara panjang lebar, jika kamu merasa itu yang benar, maka biarkanlah seperti itu." Zayline berucap, sebelum dia melangkahkan kakinya untuk pergi.
Indri hanya diam saja, melihat Zayline yang sudah bergegas untuk pergi, dan kembali memikirkan apakah pikiran buruknya pada Rico itu memang salah atau tidak.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*
__ADS_1