
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS πβ€οΈπΉ
Setelah mendengar penjelasan dari dokter Haikal tadi, kini Bima, Willi, dan juga Raisa sudah berdiri di depan ruangan Rico.
Mereka melihat Rico dari pembatas Kaca, mereka menatapnya dengan sedih, bahkan Raisa sudah menangis ketika melihat adiknya itu berjuang untuk hidup dan mati.
"Hiskkk,hiskk, ternyata selama ini Rico itu merasa iri denganku, ternyata selama ini secara tidak langsung aku juga ikut menyakiti hati dan perasaan Rico." Tangis Raisa, sambil memeluk suaminya.
Sedangkan Bima hanya diam saja, dia terus memandangi Rico yang terbaring dengan banyaknya alat yang membantu menopang hidupnya.
"Papah hanya mau kamu menjadi seorang laki - laki yang kuat, pintar dan bisa mengerti akan arti dunia yang kejam ini Rico." Ucapnya, ketika mengingat kalimat Haikal yang mengungkapkan cerita sedih dari Rico.
Ada penyesalan sendiri dalam hatinya, tetapi, semua itu dia lakukkan karena ada alasannya.
Dia hanya memiliki anak laki - laki 1, dan di dunia ini. Bagaimana anaknya itu bisa hidup bersaingan dengan lawan bisnis, jika dari kecil hidupnya selalu di manja.
Karena yang ada, dia bukannya menjadi pembisnis yang handal, tetapi malah akan menjadi seorang anak pengusaha yang tak berguna.
Dan untuk kasus di masa lalu, Bima sama sekali tidak pernah menolak kehadiran Rico. Walaupun di masa lalu, apa yang sudah di buat Risa itu adalah hal yang jahat.
Tetapi dia juga sudah tidak mempermasalahkannya, dan hidup bersama dengan baik - baik saja, walaupun itu semata - mata hanya untuk anak - anaknya saja.
"Kalian -?" Suara Vino terdengar, membuat ke tiga orang itu menoleh ke arahnya.
Erwinpun ikut memandang ke arah mereka. "Mereka siapa Vino?" Tanya Erwin pada Vino.
"Dia adalah, Papah, dan kakak saya om, dan itu Willi, dokter Willi yang tadi kita temui di depan ruang operasi." Jawab Rico, yang di balas dengan anggukan kepala oleh Erwin.
Mereka tadi rencananya ingin makan di kantin, namun Vino menolak dan mengatakan akan membungkusnya saja lali memakannya di depan ruangan Rico, sembari menjaganya.
__ADS_1
Namun siapa sangka, mereka malah bertemu dengan Bima, Raisa dan Willi juga di sini.
"Ternyata kamu sudah memberitahukannya." Ucap Vino menatap sinis ke arah Willi.
"Padahal aku sudah bilang, kalau Rico tidak ini ada seorangpun dari keluarga yang mengetahuinya." Tambahnya lagi, lalu dia memilih duduk di kursi yang ada di sana.
"Tetapi sudahlah, sudah ketahuan juga, semua sudah tahu jadi ya tidak ada lagi yang harus di tutupi." Vino benar - benar kesal terhadap Willi yang sama sekali tidak bisa menjaga amanah.
Raisa yang mendengar itu, langsung menguraikan pelukannya dari tubuh suaminya. "Kenapa harus di rahasiakan?! Kamu tahukan seberapa kritisnya Rico?"
"Kalau dia sampai kenapa - kenapa, bagaimana? Apa yang akan kamu katakan pada kami?" Sentak Raisa dengan kesal.
Tetapi Vino hanya diam saja, dan merasa enggan untuk berbicara apapun.
"Sudah Raisa! Vino! Udah!" Sahut Bima, yang tidak ingin mendengar perdebatan apapun lagi.
Raisa dan Vino menoleh ke arah Bima, yang baru saja membentak mereka.
"Lebih baik, sekarang kita pikirkan bagaimana nasih Rico ke depannya."
"Apakah kita bisa membawa dia ke Singapore, atau ke Negara manapun yang bisa membantu menyembuhkannya!"
"Bukan malah berdebat tidak jelas di sini hanya lantaran tidak tahu mengapa Rico berbuat seperti itu pada kita."
"Kenapa sampai Rico tidak mau kalau kita tahu tentang penyakitnya, terus terang Papah sudah tidak mau tahu!" Jelasnya dengan suaranya yang lantang.
"Sikap Anda yang tidak mau tahu seperti ini yang membuat Rico berpikir untuk tidak memberitahukan kepada kalian!"
"Harusnya Anda berpikir dan bertanya mengapa dia melakukan itu! Dan apa yang seharusnya Anda lakukkan padanya!"
__ADS_1
"Jika Anda melakukkan hal seperti ini, di masa depan Rico akan berpikir jika Anda hanya menyembuhkannya agar terus memperkerjakannya." Erwin menyuarakan pendapatanya, agar sosok pria yang bernama Bima ini.
Bima menyeritkan keningnya. "Anda siapa ya?" Tanya Bima, karena belum tahu dengan Erwin.
"Saya -"
"Beliau adalah Pak Erwin, Papah dari Indri."
"Dan dia juga yang merawat Rico selama 1 minggu ini, di saat keadaanya juga kritis." Vino menyahuti pertanyaan Papahnya.
Mendengar apa yang di katakan oleh Vino, Bima menatap Erwin dengan lekat. 'Papahnya Indri.' Batin Bima, yang lalu menundukan kepalanya.
Betapa memalukannya dirinya, mendengar orang lain yang malah merawat putranya, dan dia sebagai seorang ayah malah tidak
Mengetahui apa - apa tentang kondisi anaknya.
Seandainya saja dia sedikit lebih perhatian atau possessive, maka hal seperti ini pasti tidak akan pernah terjadi.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
__ADS_1
*Terima kasih**ππ»ππ»*