
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS πβ€οΈπΉ
Setelah 8 jam perjalanan yang mereka lewati dari Semarang ke Jakarta dengan melewati tol, kini akhirnya mereka telah sampai di sebuah gedung rumah sakit yang ada di Jakarta.
"Untuk apa kita ke sini? Bukankah kita mau pulang?" Tanya Rico dengan bingung.
Vino menggertakan giginya dengan keras. "Selama 8 jam perjalanan kita, kamu sudah 2 kali mengalami mimisan serta batuk yang mengeluarkan darah."
"Rico, aku tidak bodoh dan tidak akan mudah percaya hanya dengan kalimatmu yang mengatakan jika kamu baik - baik saja! Apakah kamu bisa melihat di kaca?! Bagaimana pucatnya wajahmu sekarang?!" Vino menyentak Rico, yang terus menerus ingin membodohinya.
Selama 8 jam perjalanan yang mereka lakukkan, sudah cukup membuat Vino mengambil kesimpula jika dia tidak baik - baik saja. Dua kali mimisan, dengan batuk yang terus mengeluarkan darah. Itu tidak mungkin kondisi yang baik - baik saja.
"Enggak, aku baik - baik saja, serius deh, aku baik - baik saja. Aku hanya tinggal -" Rico belum menyelesaikan kalimatnya, tetapi Vino sudah keluar dari mobil dan kini membuka pintu di sisi ya.
"Turun!" Tegas Vino, masih meminta baik - baik agar Rico turun dari mobilnya.
Rico hanya bisa menghela nafasnya, sepertinya memang dia sudah tidak bisa berbohong dengan kakak tirinya ini.
Dengan rasa keterpaksaan, Rico turun dari mobil Vino. "Jika kamu tahu kondisiku nanti, aku minta kamu menyembunyikannya dari semua orang." Lirihnya pelan, meminta pada kakak tirinya itu.
"Tidak janji." Sahut Vino, lalu menutup pintu mobilnya, dan menggandeng tangan Rico, agar pria itu tidak melarikan diri.
Vino memberikan kunci mobilnya pada security lobby, untuk memarkirkan mobilnya pada tempatnya.
"Kemana kita harus pergi?" Tanya Vino pada Rico, yang membuat Rico kini harus mengarahkan Vino pada ruang dokter yang selama ini menanganinya.
Tokkk,,tokk, Rico masuk dan melihat dokter itu baru saja selesai menangani pasiennya. "Dok, apakah saya bisa di periksa? Sepertinya saya sedang kambuh lagi?" Tanyanya dengan senyumannya yang lebar.
Dokter Haikal, yang melihat Rico, hanya bisa membalas senyumannya dan bahkan menggelengkan kepalanya, seperti orang yang sudah lelah dengan sikap Rico.
"Berbaringlah." Pinta Haikal, yang langsung di jawab dengan anggukan kepala oleh Rico.
__ADS_1
"Kamu, siapanya ya?" Tanya Haikal, yang mengarah pada Vino.
"Saya kakaknya Dok," jawab Vino dengan kikuk.
"Apakah kamu sudah memberitahu keluargamu tentang penyakitmu Rico?" Tanya Haikal, sembari menyiapkan alat - alatnya untuk memeriksa Rico.
"Belum Dok, dia kakak saya yang tidak sengaja melihat saya Mimisan dan batuk berdarah. Jadi saya bawa saja dia ke sini, dari pada dia memberitahu keluarga yang lain." Jawab Rico, yang semakin membuat Haikal ingin menjitak kepala Rico.
Selama pengobatan ini, Haikal sudah sangat dekat dengan Rico. Dia bahkan sudah menganggap Rico seperti anaknya sendiri. Karena selama ini Rico yang berobat tanpa membawa siapa - siapa, jadi dia menawarkan diri untuk menjadi kerabat pria itu.
"Sebenarnya dia sakit apa dok? Kenapa seperti penyakitnya sangat serius?" Tanya Vino, pada Haikal. Apa lagi dia melihat name tag yang ada di meja, yang bertuliskan dokter khusus penyakit dalam. Membuatnya yakin jika Rico memang sedang berjuang antara hidup dan mati.
"Memang sangat serius," jawab Haikal, yang lalu mendekat pada Rico untuk memeriksanya.
Rico memberikan surat rujukan yang di berikan oleh dokter dari Semarang. "Ini dok." Ucapnya, lalu Haikal segera membukanya.
"Rico, apa tidak sebaiknya kamu jujur dengan orang tuamu?" Tanyanya sambil memeriksa Rico.
"Baik Dok."
Rico hanya diam, sambil memikirkan saran yang baru saja dokter Haikal berikan. "Apakah kalau saya memberitahu mereka, saya bisa sembuh dok?" Tanya Rico, dengan sedikit tertawa.
"Tidak sembuh, tetapi setidaknya kamu tidak sendirian ketika nanti nafasmu sudah hilang." Jawab Haikal serius, tetapi Rico malah menganggapnya sebagai candaan.
"Suster, jika sudah selesai, pastikan hubungin pihak kamar agar segera menyiapkannya!" Pinta Haikal lagi, pada suster yang masih sibuk memasangkan infus pada Rico.
Sedangkan Haikal terlihat kembali lagi duduk di kursinya, yang di Mana Vino juga ada di sana.
"Rico, apakah kamu mempunyai sebuah keinginan?" Tanya Haikal dengan wajahnya yang menampilkan kesedihan.
"Tidak ada dok." Jawab Rico, tak kalah datar.
__ADS_1
Haikal kembali terlihat menggelengkan kepalanya pelan. "Bagaimana keadaanya dok?" Tanya Vino penasaraan.
Haikal mengangkat pandanganya, dan melihat ke arah Vino. "Adik Anda itu sedang menderita penyakit glioblastoma atau yang biasa kita sebut dengan Kanker Otak, dan itu sudah mencapai stadium akhir." Haikal, menjelaskan penyakit yang di derita Rico pada Vino. Yang membuat pria muda itu langsung membulatkan matanya besar, bahkan langsung melirik ke arah Rico.
"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak butuh di kasihani," ujar Rico, ketika dia mendapatkan tatapan dari Vino.
"Lalu bagaimana dok? Apakah dia masih bisa sembuh?" Tanya Vino, yang sudah kembali menatap ke arah dokter Haikal.
"Sudah dua tahun lebih dia bergumul dengan sakitnya, dan dia juga tidak pernah melakukkan Kemotherapy, ataupun operasi untuk membuang sel kankernya, jadi apakah kamu bisa berpikir jika dia akan sembuh di tahap terakhir ini?" Tanya Haikal balik. Membuat Vino langsung mengusap kepalanya pusing.
Betapa bodohnya anak itu, selama dua tahun yang harusnya bisa dia gunakan untuk sembuh, malah di habiskan begitu saja.
"Sekarang sel kanker sudah menyerang sepenuhnya di dalam otaknya bahkan ke bagian lain, kita akan melakukkan operasi, untuk membuangnya, dan semoga ini bisa memperpanjang hidupnya sementara. Tapi saya tidak bisa menjaminnya."
"Karena menurut prediksi saya, hidupnya hanya bisa bertahan semingguan ini, tetapi saya ingatkan lagi, jika saya bukanlah seorang Tuhan. Bisa saja prediksi saya salah, mungkin bisa cepat, dan mungkin saja bisa lambat."
"Saran saya, kamu dan keluarga, persiapkan diri saja jika memang prediksinya akan maju. Tapi yang pasti, cepat atau lambat, Rico pasti akan meninggalkan kita semua."
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*
__ADS_1