
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS πβ€οΈπΉ
Setelah 5 jam lamanya menunggu, kini pintu ruang operasi sudah terbuka, menandakan jika operasi Rico sudah selesai.
Vino dan Erwin langsung berdiri untuk meihat keadaan Rico, karena saat ini Rico sudah di bawa dengan brangka untuk pergi.
"Bagaimana keadaanya dok?" Tanya Vino langsung, ketika melihat Haikal keluar dari ruang operasi dengan wajahnya yang di tekuk.
"Kami akan membawanya langsung ke ICU, keadaanya sudah semakin memburuk, cepat atau lambat pasti dia akan meninggalkan kita semua."
"Maafkan saya, semuanya bukan keinginan saya, pekerjaanya saya adalah seorang dokter, yang sudah pasti menginginkan hal yang terbaik untuk pasien saya, tapi jika hal buruk seperti ini terjadi, maka saya benar - benar tidak bisa melakukkan apapun." Tambahnya lagi, membuat Vino langsung mengusap wajahnya kasar.
"Apakah benar - benar sudah tidak bisa di sembuhkan Dok? Atau ada cara lain? Atau apa begitu yang sedikit bisa membantu? Apa hasil dari operasi ini Dok? Apakah gagal total?" Tanya Erwin, merasa jika 5 jam ini sangatlah sia - sia jika tidak ada perkembangan untuk Rico.
"Operasi ini hanya akan sedikit mengurangi efek sakitnya Pak, dan untuk kesembuhan, itu sudah sangat tidak mungkin Pak, kecuali ada mukjizat dari Allah." Jawab Haikal, lalu menoleh pada Vino.
"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya nanti, tapi saran saya, lebih baik kamu memberitahukan orang tuamu tentang masalah ini, jangan sampai ada penyesalan nantinya." Ucap Haikal pada Vino.
Membuat pria itu langsung menganggukan kepalanya pelan. "Baik dok, akan saya beritahu mereka nanti." Balas Vino, sebenarnya dengan perasaan Ragu.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu, dan untuk sekarang, mohon maaf Rico sedang tidak bisa di jenguk, jika kalian mau melihat dia, kalian bisa melihatnya dari kaca saja." Haikal memberitahukan mereka situasinya, sebelum dia berpamitan untuk pergi.
Melihat Haikal yang sudah pergi, langsung membuat Vino terduduk lesuh di kursi.
"Sepertinya, apa yang di katakan oleh dokter tadi itu benar, kamu harus memberitahu orang tuamu masalah ini."
"Jangan sampai, nanti di akhirpun dia tidak mendapatkan sedikitpun kasih sayang yang seharusnya dia dapatkan." Ucap Erwin, ikut memberikan saran pada Vino.
__ADS_1
Membuat Vino kembali mengusap wajahnya kasar. "Om, sepertinya benar, saya harus memberitahukan pada orang tua saya om."
"Semoga saja, setelah ini Rico bisa mempunyai semangat untuk melanjutkan hidupnya, yang katanya meskipun mustahil, tapi kita tidak tahu ke depannya. Benarkan Om?" Vino menatap mata Erwin, mencari sebuah harapan yang sama.
Tetapi Erwin hanya merespon dengan senyuman kecilnya. "Om, saya titip Rico ya Om, saya akan pulang sekarang." Pamitnya, buru - buru pergi.
Bahkan Erwin belum mengatakan apa - apa, dia sudah menghilang dari pandangannya.
"Semoga," lirihnya pelan, memanjatkan harapan yang sama.
Erwin perlahan mulai menyayangi Rico, meskipun Rico bukanlah lagi suami dari anaknya, tetapi dia sudah menganggap Rico seperi anak kandungnya sendiri, dan harapan untuk pria itu sembuh pasti juga terbesit di dalam hatinya.
Namun, Erwin teringat akan satu hal, dia menjadi ragu, apakah dia akan melakukannya atau tidak?
Erwin mengambil ponselnya, lalu duduk sejenak memperhatikan layar ponselnya.
Dan Erwin memilih untuk mengirimkan pesan saja.
Tetapi ketika, dia baru saja mengetik kembali dia menghapus pesannya itu.
"Sebaiknya saya tidak melakukkan ini, jangan menyakiti dua orang yang sudah berpikir ingin tenang." Ucapnya pada diri sendiri.
Dia tidak ingin menganggu ketenangan putrinya, dan juga ketenangan Rico yang sudah tidak ingin melibatkan siapapun di dalam masalah ini.
***
Sedangkan di sisi lain, Vino yang masih dalam perjalanan pulang, terlihat mendapatkan telpon dari Willi.
__ADS_1
Vino memilih untuk mengabaikannya, dia ingin segera sampai di rumah, dan memboyong keluarganya untuk melihat keadaan Rico.
"Tapi? Kalau respon mereka biasa saja bagaimana? Kalau mereka malah senang bagaimana?" Tanya Vino lagi pada dirinya sendiri.
Merasa dilema dengan perasaanya sendiri, Vino memilih untuk menepikan mobilnya.
Dia kembali mengusap wajahnya, teringat sekali di saat kejadian adiknya mendapat masalah di sekolah karena kasus pembullyan, Papahnya itu bersikap seolah - olah mereka harus terima akan itu.
Adik perempuannya yang lemah lembut di didik agar menjadi gadis yang kuat.
"Tidak ada jaminan kalau dia akan perduli." Lirihnya pelan, lalu memilih melanjutkan kembali perjalanannya pulang.
Tapi Niatnya pulang sudah berubah, tadinya dia akan memberitahu keluarganya, tetapi sekarang niatnya pulang hanya ingin mandi, bersih - bersih dan izin untuk tidak pergi ke kantor terlebih dahulu.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*
__ADS_1