
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS πβ€οΈπΉ
Vino yang sudah berpakaian rapi dan bersih, kembali buru - buru keluar dari rumah.
Namun, ketika dia baru sampai di pintu, dia berpapasan dengan Bima yang terlihat baru datang.
"Mau kemana kamu?" Tanya Bima dengan kesal.
Sudah dua hari ini, Vino absen dari kantornya, dan susah sekali di hubungi.
"Di mana Rico? Tadi malam kamu mengatakan jika kamu akan pulang bersamanya." Bima kembali membuka suaranya, dan mempertanyakan keberadaan anak laki - lakinya yang satu itu.
Vino hanya diam saja, sembari memikirkan jawaban apa yang pantas dia katakan sekarang, agar papahnya bisa percaya.
"Rico ada di rumah sakit Pah." Suara Willi terdengar tiba - tiba dari belakang.
Membuat Vino membulatkan matanya besar, pasalnya tadi kakak iparnya itu berada di rumah sakit, lalu kenapa sekarang berada di rumah?
"Kenapa? Kamu kaget kalau aku ada di rumah?" Tanya Willi pada Vino, ketika dia melihat tatapan Vino yang tajam ke arahnya.
"Aku mendapatkan praktek pagi, dan sore sudah bukan jadwalku, jadi bukan masalahkan kalau aku berada di rumah sore hari." Tambahnya lagi, membuat Vino menggelengkan kepalanya pusing.
Bima menatap ke arah Willi dan Vino secara bergantian. "Ada apa ini? Apakah ada yang kalian sembunyikan dari Papah? Kenapa Rico ada di rumah sakit? Apa yang dia lakukkan di sana?" Bima mencerca ke duanya dengan pertanyaan.
"Sebaiknya kamu jujur sama Papah Vino! Dari pada terlambat nantinya." Tegas Willi, kembali memberikan peringatan pada adik iparnya.
__ADS_1
Vino berusaha untuk menetralkan perasaanya, lalu dia menampilkan senyumnya. "Mau jujur apa kak? Tidak pernah ada yang aku sembunyikan." Vino benar - benar menolak untuk jujur.
Willi ikut tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Vino, membohongi orang lain itu tidaklah baik, kamu ingat itu!" Sahut Willi lagi, dan ketika mereka sedang beradu pendapat.
Terlihat Raisa yang turun dari kamarnya, tadinya dia ingin melihat bahan masakan, tetapi dia malah melihat suaminya sedang berdebat dengan adiknya.
"Ada apa ini?" Tanya Raisa penasaraan.
Willi menoleh pada istrinya, lalu kembali menatap ke arah Vino. "Tidak hanya kamu yang perduli dengan Rico, kita semua di sini perduli sama dia, terlepas dari apa yang sudah terjadi kemarin."
"Dan jika kamu tidak mau menjawab ataupun memberitahu pada Papah! Maka aku yang akan membuka mulut!" Willi mengancam Vino, atau lebih tepatnya memberikan peringatan, jika membohongi orang - orang saat ini adalah hal yang sia - sia.
Merasa tersudut, Vino malah tersenyum. "Lalu kalau sudah tahu bakal bagaiamana? Apakah akan merubah keadaan?" Tanya Vino, terdengar sangat ambigu untuk Bima dan juga Raisa.
"Maksudnya bagaimana?"
Ada sebuah rahasia yang nyata ada di depannya, tetapi sedikitapun dia tidak bisa mengetahuinya.
"Rico tidak apa - apa Pah, bersikaplah seperti biasanya, karena ada atau tidak adanya dia semuanya sama saja." Jawab Vino, lalu buru - buru untuk melangkahkan kakinya keluar.
Dia benar - benar enggan untuk membuka mulut, dan jika Willi mau membuka mulut ya itu terserah lagi.
Yang jelasnya dia sudah menepati janjinya pada Rico untuk tidak memberitahukan siapapun.
Dengan rasa kesal Vino masuk ke dalam mobilnya. "Tidak apa Rico, jika kamu tidak punya siapa - siapa lagi di akhir, maka ada aku kakakmu yang akan menemanimu." Lirihnya pelan, lalu menghidupkan mobilnya untuk segera pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
Untuk saat - saat seperti ini, dia merasa enggan untuk meninggalkan adiknya itu lama - lama.
Sejak dulu, Vino memang adalah sosok yang sangat baik terhadap adik - adiknya, dia adalah panutan yang baik tanpa membedakan antara adik kandung dan tirinya.
***
Setelah kepergian Vino, Bima kembali menatap ke arah Willi. "Apakah kamu juga menolak untuk memberitahukan pada Papah dan istrimu Willi?" Tanya Bima lagi, kali ini dia memojokan anak menantunya itu.
'Sialan Vino! Dia malah menempatkan aku di masa sulit seperti ini.' Gumam Willi, tidak menyangka jika hal ini akan berbalik menyerangnya.
"Rico menderita Kanker Otak tahap akhir Pah," jawabnya, memilih untuk memberitahu saja, dari pada ada penyesalan belakangnya.
"Aaaaapppaa?!!!!" Teriak Bima terkejut mendengarnya.
Sedangkan Raisa langsung menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
__ADS_1
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*