
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS πβ€οΈπΉ
Saat ini Indri telah sampai di Jakarta, dan dia memilih untuk langsung mengunjungi Rumah Vino.
"Apakah Rico juga ada di dalam?" Tanyanya, ketika sudah sampai di depan rumah Vino.
"Maaf cari siapa ya?" Tanya satpam yang menjaga rumah Besar itu.
Indri tersenyum, "ehm, maaf, apakah Pak Vino ada?" Tanya Indri dengan lembut.
"Hem, Maaf Mbak, Pak Vino tidak ada di dalam, semuanya sudah pergi. Kalau tidak salah katanya mau ke rumah sakit." Jawab pak Satpam itu, yang belakangan baru mengenali jika itu adalah Indri menantu dari Pak Bima.
"Apakah Mbak Indri mau masuk dulu?" Tanya Satpam itu lagi.
Indri kembali tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak pak, terima kasih, saya langsung pergi saja." Jawab Indri, menolak untuk masuk ke dalam.
"Oh iya mbak, hati - hati di jalan mbak." Balas Satpam itu lagi.
"Oh ya, Pak, kalau Rico ada di dalam?" Tanya Indri lagi, mengajukan pertanyaanya yang terakhir.
"Nah, Pak Rico tidak ada Mbak, semenjak Mbak Indri tidak ada di sini, Pak Rico jadi jarang pulang, saya pikir Pak Rico tinggal bersama dengan Mbak Indri." Jawab Satpam itu lagi.
"Tapi, tadi saya mendengar Pak Bima dan Bu Raisa mengatakan jika Pak Rico sedang di rawat di rumah sakit XXX." Tambahnya lagi.
Membuat Indri menyeritkan keningnya bingung. Jika Rico berada di rumah sakit, lalu Papahnya mengawasinya untuk apa?
"Kalau begitu terima kasih ya Pak." Balasnya lagi.
Dan buru - buru memanggil Taxi agar dia bisa segera pergi ke rumah sakit. Dia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan Rico.
Mengapa sampai semua orang harus pergi ke rumah sakit untuk menemuinya?
__ADS_1
***
Indri merasa sangat penasaraan sekali. Dia tidak tahu, kenapa perasaanya sejak kemarin terasa seperti tidak nyaman.
Seperti ada sesuatu yang mengganjal, tetapi dia tidak tahu apa.
Sesampainya di rumah Sakit, Indri langsung buru - buru menemui Resepsionis. "Hem, permisi Mbak, Ruangan Rico Bramantyo di mana ya?" Tanyanya pada Resepsionis yang ada di depan.
"Ruanganya ada di lantai 6 Mbak, di Ruang ICU." Jawab Resepsionis itu lagi.
Indri semakin merasa tidak nyaman, tadinya dia hanya bertanya iseng, apakah benar ada pasien bernama Rico yang ada di sini.
Dan ternyata dia benar - benar ada, membuat Indri semakin bertanya - tanya, kenapa bisa Rico menempati ruangan ICU?
Apakah dia mengalami kecelakaan? Atau apa?
Indri semakin penasaraan dan bergegas untuk pergi ke atas, dia bahkan lupa mengucapkan terima kasih pada resepsionis itu.
Yang dia pikirkan sekarang, apa yang sedang terjadi dengan Rico, mengapa dia di rawat di rumah sakit dan lebih parahnya dia berada di ruang ICU, yang menandakan jika kondisinya sedang kritis.
Ahhhh, memikirkannya saja, Indri merasa sangat tidak sanggup. Apakah Itu artinya dia akan meninggalkan mereka semua secara bersama - sama? Atau bagaimana?
Tinggg, suara Lift terbuka lebar. Di sana memang hanya ada 1 ruang ICU, karena Rumah sakit itu ingin memberikan privasi untuk pasien ICU beserta keluarganya.
Di saat pintu Lift sudah terbuka, Indri melihat Papahnya, Vino dan yang lainnya berdiri di depan ruangan.
Sedangkan Raisa, Willi dan Bima terlihat duduk tak jauh dari mereka.
Erwin yang mendengar suara lift terbuka, langsung menoleh dan membulatkan matanya tak percaya.
"Indri, bagaimana kamu bisa di sini?" Tanya Erwin merasa khawatir melihat putrinya berada di sini.
__ADS_1
"Papah, harusnya Indri yang Tanya, kenapa Papah bisa berada di sini?" Tanya Indri balik, membuat Erwin langsung menoleh melihat Rico yang berada di dalam sana.
Indri mengikuti pandangan mata Papahnya, dan ikut menemukan Rico yang terbaring lemah dengan di bantu oleh Alat - alat itu.
Sontak dia langsung menutup mulutnya tidak percaya, bahkan matanya langsung mengeluarkan air matanya.
"Ada apa ini? Kenapa Rico bisa ada di dalam Pah?" Tanya Indri pada Erwin.
"Sudah saatnya kita mengucapkan selamat tinggal untuk dia Nak." Jawab Erwin, yang membuat Indri tersenyum dalam tangisnya.
"Kenapa Pah? Kenapa harus seperti itu? Katakan ini sebenarnya ada apa Pah?"
"Kenapa Papah tidak memberitahu Indri?"
"Vino? Kenapa?" Indri bertanya pada semua orang, dia menoleh menatap mereka satu persatu.
Vino menundukan kepalanya, lalu kembali mengangkatnya. "Kenapa kamu ada di sini Indri? Kamu tidak seharusnya berada di sini." Ujar Vino, menatap lekat ke arah Indri.
"Bukan itu jawaban yang ingin aku dengar Vino! Aku -"
"Yes! That's the Answer! Kamu tidak seharusnya berada di sini Indri! Kamu harusnya terus membencinya dan terus enggan melihatnya!"
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
__ADS_1
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*