
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
Setelah 1 minggu di rumah sakit, akhirnya hari ini Indri boleh pulang ke rumahnya.
“Indri apakah kamu tidak ingin pulang ke Jakarta? Aku -“
“Rico,” Zayline lebih dulu menegur Rico agar tidak menanyakan tentang itu dulu pada Indri.
Rico yang paham, akhirnya hanya bisa menampilkan senyumnya tipis. Merasa dia kelepasan lagi.
“Kalian lebih baik duduk deh, akan aku siapkan makan siang untuk hari ini.” Pinta Zayline, meminta untuk Rico dan Indri untuk duduk sejenak di meja makan.
Tadi sebelum menjemput Indri, dia memang menyempatkan dirinya untuk memasak. Sehingga ketika Indri pulang, dia hanya tinggal memasaknya saja.
Sementara Zayline menyiapkan makanan, Indri memilih untuk membaca majalah saja, dia membuka - buka majalah terbitan baru yang ada di atas mejanya.
Karena merasa canggung, Rico akhirnya mendekatkan sedikit kepalanya untuk melihat apa yang sedang di lihat oleh Indri.
Namun Indri melirik tidak suka ke arahnya, membuat Rico menjauhkan kepalanya dan menutup mulutnya dengan tangannya mengisyaratkan jika dia tidak akan bicara.
“Makanan sudah siap.” Ujar Zayline, sambil menata makanan - makanan itu di atas meja.
Rico bergegas mengambilkan piring untuk Indri dan meletakannya di atas meja depan wanita itu, Namun Indri malah mengambil piring lain, dan menggeser piring yang di berikan oleh Rico untuknya.
Membuat Rico, kembali merasa jika hatinya sedang di iris lebih dalam. Zayline yang melihat itupun, sebenarnya juga merasa kasihan pada Rico.
Akan tetapi, jika dia mengingat kembali apa yang sudah di lakukan Rico pada Indri di masa lalu, maka dia lebih kasihan dengan Indri.
“Makanlah, setelah ini aku ingin segera bersih - bersih, dan aku harus berangkat bekerja.” Ucapnya pada Indri dan Rico.
Zayline membantu Indri untuk mengambil sayuran, sedangkan membantu mengambilkannya potongan ayam. “Makan yang banyak ya.” Ucap Rico dengan tulus pada Indri.
__ADS_1
Zaylinepun ikut tersenyum dengan apa yang sedang di lakukkan oleh Rico, tetapi Rico harus kembali menelan rasa perih, karena Indri menjauhkan potongan ayam itu dan memilih memakan nasi dan sayurnya saja.
Tidak ada yang bisa Rico lakukkan, selain dia terus berusaha tersenyum sambil menahan lukanya yang terus melebar.
“Rico makanlah, kamu akhir - akhir ini aku lihat semakin kurus, jangan sampai nanti Mamah kamu mikir jika kita tidak memberikanmu makan di sini.” Seru Zayline, yang mengingat jika tabiat mamahnya Rico itu sangatlah buruk.
Rico membalasnya dengan senyuman, dia melihat ke arah pergelangan tangannya dan menyadari jika tubuhnya memang semakin kurus.
“Rico, wajah kamu juga pucat, apakah kamu sakit?” Tanya Zayline dengan raut wajahnya yang khawatir.
“Tidak, aku tidak sakit, mungkin karena kelelahan bolak balik semarang - Jakarta, makanya wajah aku pucat.” Jawab Rico, buru - buru agar Zayline tidak semakin banyak bertanya padanya.
Zayline menganggukan kepalanya pelan, jika memang Rico tidak apa - apa, maka baguslah, pikirnya.
Dan di saat mereka sedang makan, tiba - tiba saja bel rumah berbunyi, Zayline buru - buru bangkit untuk membukakan pintu.
“Indri.” Suara pria terdengar membuat Rico dan Indri yang sejak tadi sama - sama menundukan kepalanya, seketika menaikan pandangan mereka.
“Iya, aku datang, maaf ya aku baru bisa jenguk kamu sekarang.” Jawab pria itu yang tidak lain adalah Vino.
Melihat kakak tirinya yang ada di sini, Rico menundukan kepalanya, tidak mampu mampi memandang wajah pria itu.
Vino bahkan menatap ke arah Rico, namun dia memahami mungkin saja Rico merasa segan kepadanya. “Kamu dari kapan di sini?” Tanya Vino, berniat menanyakan keadaan Rico, namun dia merasa sedikit gengsi.
“Dari semalam, tapi ini sudah mau pulang kok,” jawabnya, langsung buru - buru bangkit.
“Zayline, Kak Vino, Indri, aku pamit pulang dulu ya.” Pamitnya, dan buru - buru melangkahkan kakinya keluar sebelum Zayline dan Vino bersuara.
“Rico.” Panggil Zayline, yang sebenarnya merasa khawatir dengan kondisi pria itu.
Apa lagi dia tahu jika Rico sejak semalam tidak tidur hingga saat ini. Ketika Zayline menyusuli Rico, dia melihat mobil Rico yang sudah keluar dari perkarangan rumah Indri.
__ADS_1
“Ada apa sih Zay?” Tanya Vino ketika dia melihat wajah Zayline yang cemberut ketika masuk ke dalam rumah.
“Aku hanya khawatir dengan Rico, seminggu ini dia kurang tidur, dan bahkan aku juga jarang lihat dia makan. Kemarin dia berkendara dari Jakarta ke Semarang, dan sampai sekarang aku belum melihatnya tidur. Aku takut dia ngantuk, apa lagi wajahnya sepucat itu.” Jawab Zayline, memberitahukan kondisi Rico pada Vino.
“Mungkin saja Rico masih merasa segan sama aku, dan semoga saja dia tidak berpikiran bodoh, dan mencoba mencari hotel terdekat untuk tidur.” Balas Vino, yang sebenarnya juga sedikit merasa khawatir dengan Rico.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana posisi Rico saat ini, di khianati mantan istrinya, mengetahui kenyataan bahwa keluarganya Broken Home, kehilangan calon bayinya dan sekarang dia di benci oleh Indri.
“Apakah kalian pernah berbicara selama menjadi kakak dan adik?” Tanya Zayline, ketika melihat Vino kembali terdiam.
Indri dan Zayline memang sudah tahu tentang hubungan darah mereka sebulan yang lalu, meskipun awalnya kaget, tetapi pada akhirnya mereka berpikir biasa saja.
Vino menggelengkan kepalanya pelan. “Dia tidak pernah ada di rumah, kalaupun ada di rumah biasanya dia hanya menyendiri di halaman belakang, tetapi jika ada orang yang menegur dia akan pergi atau mengunci diri di dalam kamar.”
“Kak Raisa bilang, Rico hanya keluar dari kamarnya jika orang - orang di dalam rumah sudah pada keluar, baru dia akan mencari makanan dan membawanya masuk ke dalam kamar.”
“Rico bahkan melepaskan semua saham yang di milikinya, dan mengatakan tidak ingin terlibat dengan bisnis apapun. Jadi aku juga tidak punya kesempatan untuk sekedar berbicara ataupun mengenalnya lebih dekat.” Vino menjawab dengan mengungkapkan apa yang terjadi dengan Rico selama beberapa minggu ini.
Sebagai pria yang tidak pernah mempunyai masalah dengan Rico, apa lagi dia sekarang sudah menjadi kakak dari pria itu, dia merasa cukup sedih dengan apa yang di perbuat oleh adik tirinya itu.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
__ADS_1
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*