
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
Beberapa hari pun telah berlalu, dan saat ini Indri baru saja menyelesaikan sidang terakhirnya dan telah di nyatakan lulus.
Tetapi, tidak seperti teman - temannya seangkatannya, banyak yang datang untuk memberikan selamat kepada mereka.
Sedangkan, Indri hanya sendiri tanpa ada yang mengucapkan selamat padanya.
Dulu dia berharap, Mamah dan Papahnya akan bangga dengannya ketika melihat dirinya telah berhasil menyelesaikan S1 nya, tetapi Semua sekarang hanyalah menjadi sebuah mimpi saja.
Mamahnya sudah tidak ada, dan Papahnya?
Dia tidak tahu, apakah dia akan terus menjadi orang asing bagi papahnya selama hidupnya.
“Indri.” Panggil seseorang, dan itu adalah Zayline.
“Zay? Kamu kok di sini? Bukannya kamu akan bekerja?” Tanya Indri, yang sebenarnya tidak berharap Zayline datang ke sini.
Karena dia tidak mau menganggu pekerjaan Zayline hanya karena mendatanginya.
Zayline tersenyum lalu memeluk Indri dengan erat. “Jam praktekku ada di sore hari, jadi aku pasti akan datang ke sini.”
“Lagian, tidak mungkin aku melewatkan hari kelulusanmu! Kamu sudah 4 tahun kuliah, dan baru menyelesaikannya.” Zayline berkata membuatnya tersenyum dengan sangat bahagia.
“Terima kasih ya Zay, makasih karena kamu masih mau datang untuk merayakan kelulusanku,” ucapnya dengan tulus.
“Indri.” suara seorang pria, tiba - tiba saja terdengar membuat Indri langsung menoleh ke arahnya.
“Kamu?” Tubuhnya menegang karena melihat sosok laki - laki yang ada di depannya.
Zayline tersenyum, “Maaf ya Indri, dua hari yang lalu kami ketemu, dan dia menanyakan tentang kamu.”
“Dan karena aku pikir kamu juga masih kepo tentang dia, jadi ya udah deh aku pertemukan kalian.” Ucapnya, tidak tahu apakah keputusannya membawa pria ini adalah benar atau salah.
__ADS_1
Indri menundukan kepalanya, dia malu dia tidak mampu untuk memperlihatkan wajahnya pada pria ini.
“Indri, Zayline sudah menceritakan semuanya, dan aku juga di sini datang untuk bantu kamu.” Tungkasnya, namun Indri masih tetap menundukan kepalanya.
“Indri, still be Friends?” Tanyanya, dengan menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan wanita yang sedang tertunduk malu itu.
Sontak saja Indri menaikan pandangannya dan menatap pria itu dengan lekat. ‘Still be Friends?’ 4 tahun lalu kalimat terakhir yang di ucapkan oleh pria itu, namun Indri sama sekali tidak merespon kalimatnya itu hingga membuat mereka lost contact selama 4 tahun.
Tetapi sekarang, pertanyaan itu kembali muncul. Dan Indri juga masih melihat sebuah ketulusan terpancar dari sorot matanya.
“Yes.” Jawab Indri, dengan senyum di wajahnya. Dia tidak mau salah menjawab dan membuatnya kembali berpisah dengan pria ini.
“Thanks, Vino, karena kamu sudah datang.”
“Tidak perlu berterima kasih Indri, sudah sepantasnya aku melakukkan ini untuk kamu.” Balasnya lagi.
Indri tersenyum, tetapi dari matanya terlihat air mata yang menetes keluar. Di dalam hatinya, selama 4 tahun ini hanya di isi oleh laki - laki ini.
Vino, Indri dan Zayline sama - sama bersahabat pada saat itu. 6 tahun hubungan perteman yang terjalin di antara mereka, menumbuhkan rasa kekaguman Indri pada Vino.
Tetapi, 4 tahun yang lalu pertikaian di antara mereka bertigapun akhirnya terjadi. Indri menuduh Zayline menusuknya dari belakang dan mau memiliki Vino, hingga mencari pria lain sebagai pelampiasan perasaanya. Dan ketika Vino tahu jika dia dekat dengan pria lain, merekapun akhirnya kembali bertengkar dengan sama - sama saling menanyakan perasaan mereka.
Tetapi, entah bagaimana keegoisan ke duanya membuat masalah tidak menemukan titik terang, mereka saling mencintai tetapi mereka juga saling gengsi. Hingga pada akhirnya, Vino menanyakan lagi apakah dia masih mau menjadi temannya, tetapi dia memilih untuk tidak menjawabnya dan menjauhi Vino serta Zayline.
Dan setelah itulah, dia sudah lost contact dengan Vino dan Zayline. Tetapi, dua tahun setelah itu Indri kembali berhubungan dengan Zayline meskipun jarang, dia masih suka menceritakan Vino, perasaan cintanya pada Vino tidak bisa dia pungkiri, dan bahkan rasa bersalahnya pada pria itu juga tidak bisa dia padamkan.
Dan saat ini, Vino kembali berdiri di depannya, tetapi pria ini datang bukan untuk di milikinya. Melainkan hanya datang untuk sekedar menjadi teman.
4 tahun kekosongan hati serta rasa kesepiannyalah yang menjerumuskan dia dalam hal dosa, hingga dia hamil dan bahkan rela menjadi seorang istri ke dua.
Untuk sekarang, jika Zayline mau berhubungan dengan Vino dia akan sangat mendukungnya. Tak perduli dengan perasaanya sendiri, dia ingin Pria yang dia cintai dan juga sahabatnya yang terbaik menikah dan memiliki kebahagian yang berlimpah.
“Indri, kok nangis sih?! Kitakan harusnya senang, karena hari ini kamu sudah lulus!”
__ADS_1
Tegur Zayline, ketika melihat sahabatnya ini menangis.
“Congratulation sayang, aku bangga sama kamu karena sudah menyelesaikan S1 mu, masih ada 2,5 tahun lagi kamu akan bisa menggapai cita - citamu.” Ucap Zayline dengan tulus.
Sangking terharunya Indri dengan kalimat Zaylien, dia langsung memeluk tubuh Zayline dengan erat. “I love you so much Zay, jangan pernah berubah ya, aku hanya memiliki kamu satu - satunya di dunia ini.” Ungkapnya dengan tulus.
Zayline ikut meneteskan air matanya karena terharu dengan apa yang di katakan oleh Indri barusan.
“Sudah ah jangan sedih - sedih lagi, sekarang kita foto - foto saja agar bisa menjadi sebuah kenang - kenangan.” Ajak Zay, agar bisa mencairkan suasana.
Indri dan Vino hanya mengikuti saja apapun yang di arahkan oleh Zay. Mereka akhirnya kembali bisa tertawa dalam kehangatan lingkar hubungan persahabataan mereka.
Indri sangat bersyukur, karena meskipun dia di rumah Rico mendapatkan keburukan, tetapi dia bisa mendapatkan sedikit kebahagian itu di luar.
Indri menatap langit luas yang tak berujung. “Mah, apakah mamah melihatnya mah? Indri sudah lulus mah, dan sebentar lagi Indri akan mengikuti jejak Mamah untuk menjadi seorang notaris, tetapi sepertinya Indri ingin menjadi seorang hakim saja mah, agar Indri bisa memberikan sebuah keadalian bagi seseorang yang tidak bersalah.”
“Mah, apakah Indri bisa di bilang tidak bersalah dalam keadaan ini? Indri sudah menjadi seorang pelakor dan bahkan menjadi istri ke dua dalam sebuah hubungan rumah tangga seseorang yanh bahagia mah, sepertinya Indri menjadi orang yang salah mah, sepertinya ini memang hukuman untuk Indri.”
“Mah, boleh tidak Mamah bilang sama Tuhan, untuk jangan memberikan Indri hukuman yang tidak bisa Indri lewatin Mah, karena Indri juga bisa rapuh.” Ucapnya dalam hati, dia sering melakukkan hal ini.
Semenjak kepergiaan mamahnya, dia selalu ingin melihat langit yang mungkin menjadi tempat tinggal mamahnya saat ini.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
__ADS_1
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*