
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS πβ€οΈπΉ
Di sisi lain, dokter Haikal terlihat baru saja keluar dari ruangan ICU tempat Rico di rawat.
"Bagaimana keadaanya dok?" Tanya Vino, yang hanya bisa melihatnya di kaca.
Dokter Haikal terlihat menghela nafasnya dengan berat, lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Semuanya sudah selesai, maaf, tapi saya hanya bisa bilang jika ini sudah waktunya." Jawab Haikal, memberikan kabar yang paling buruk untuk Vino dan juga Erwin yang ada di sana.
Vino langsung memejamkan matanya, dan menyenderkan tubuhnya di dinding kaca yang menjadi pembatas ruangan untuk Rico.
"Apakah benar - benar tidak ada cara lain dok? Ke Luar Negara, apakah jika kita ke luar Negara akan bisa sembuh?" Tanyanyanya lagi.
"Enggak, ini pertanyaanya, kalau memang dari awal keadaanya sudah memburuk, lalu untuk apa di operasi jika itu akan membuat keadaanya semakin memburuk dok?!" Kali ini Erwin yang menuntut jawaban dari Haikal.
Dia merasa jika ini sangatlah tidak masuk dalam pikirannya. Di mana - mana orang operasi agar sembuh, bukannya semakin parah.
"Operasi tadi, kami lakukkan untuk memperkecil sel tumor dan juga memperlambat sel kankernya untuk bertumbuh pak."
"Dan karena dia tidak pernah melakukkan pengobatan apapun, saat ini kami juga menemukan sel kanker itu sudah menjalar ke bagian organ tubuh lain, sel kanker itu bahkan sudah berada di paru - parunya,"
"Saat ini, kami hanya bisa berusaha untuk membuat hidupnya jauh lebih berarti di saat - saat akhir, bukan karena kita tidak mau menyelamatkan pasien dan berusaha menyembuhakannya. Tetapi, dalam kasus ini, untuk bisa sembuh itu, kemungkinan bakal 0%." Jelas dokter Haikal, membuat Erwin dan Vino hanya bisa menerima apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ketika dokter Haikal sudah pergi, Vino kembali menatap Rico dari pembatas kaca.
__ADS_1
"Sepertinya kita memang harus ikhlas Vino, kasihan Rico jika kita terus memaksanya bertahan, dia akan merasakan sakit terus menerus." Ucap Erwin, orang yang paling sering melihat Rico jika sedang kesakitan.
Dia sudah merawat Rico 4 hari belakangan ini, jadi dia tahu persis bagaimana teriakan Rico jika sedang kesakitan. Bagaimana rapuhnya Rico jika kepalanya mulai pusing.
Dia sebagai Seseorang yang sudah menjadi Ayah, pastilah sangat sedih jika kehilangan Rico, tetapi jika mengingat lagi bagaimana kesakitannya, Erwin hanya bisa berharap semoga semuanya cepat selesai.
"Sekarang kita keluar dulu saja, kamu belum makan sedari pagikan. Lebih baik kita ke kantin saja untuk mencari makan dulu."
"Tidak mungkinkan, kita bisa menjaga Rico jika dalam keadaan sakit." Ajak Erwin pada Vino.
"Om, saya sedang tidak minat untuk makan om." Tolaknya, tidak ingin pergi bersama dengan Erwin.
"Vino! Kamu harus makan! Nanti Rico malah marah jika tahu kamu menjaganya tapi tidak memikirkan dirimu sendiri." Balas Erwin lagi, masih berusaha membujuk agar Vino mau menurutinya.
Vino diam untuk sesaat, dia memikirkan kalimat dari Erwin sebelum akhirnya dia menganggukan kepalanya dan mau ikut dengan Erwin untuk pergi ke Kantin rumah sakit.
Di sisi lain, Bima, Raisa dan Willi terlihat baru sampai di rumah sakit. Dan buru - buru langsung menuju ke meja Resepsionis.
Tetapi, di saat mereka baru ingin menanyakan keberadaan Rico pada Resepsionis, ke dua mata Willi melihat Haikal yang baru keluar dari ruangannya.
"Dokter Haikal." Panggil Willi, dan membuat Haikal menoleh ke arahnya.
Haikal tersenyum ketika melihat Willi. "Dokter Willi, masih tugas?" Tanyanya dengan lembut.
__ADS_1
Willi segera menghampirinya, "tidak Dok, saya sudah lepas tugas di siang hari tadi." Jawab Willi, yang di susul oleh Raisa dan Bima.
Haikal yang melihat Willi bersama dengan istri dan mertuanya itu merasa bingung sendiri. "Ini ada apa ya Dokter Willi?" Tanyanya, dengan perasaan bingung.
"Dok, mohon maaf sebelumnya, tetapi bisakah Anda memberitahukan kami di mana Rico di rawat?" Tanyanya, langsung to the point.
Haikal memandang ke arah mereka bertiga secara bergantian. Dan dia baru teringat jika Willi adalah kakak ipar dari Rico.
"Rico berada di ruang ICU, keadaanya semakin memburuk. Dan saya harap seluruh keluarga bisa ikhlas jika dia pergi dalam waktu dekat." Jawab Haikal, memilih untuk memberitahukan saja kondisi buruk Rico.
Bukannya dia mau ingkar janji, tetapi dalam kondisi seperti ini. Dia ingin Rico melihat jika masih banyak orang yang sayang sama dia.
Sehingga ketika nanti dia pergi, dia pergi dengan hati yang tenang dan bahagia, bukan hati yang sedih dan menyimpan banyak beban.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
__ADS_1
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*