
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
Saat ini Rico sudah mendarat dengan sempurna di Pekan Baru, bahkan dia juga sudah berada tepat di depan rumah Indri.
Rico menatap sejenak tampilan depan rumah itu, dia berulang kali berusaha menarik nafasnya, lalu menghela dengan panjang. Lalu dia mencoba untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam perkarangan rumah Indri.
Tokkk,tokkk,tokk, Rico mengetuk pintu rumah itu, namun seperti tidak ada yang menjawabnya.
Tokk,,tokkk,tokkk, Rico kembali mengetuknya, kali ini dia lebih mengencangkan ketukannya agar orang di dalam sana bisa mendengarnya.
“Iya siapa ya?” Sahut suara dari dalam, bersamaan dengan suara pintu yang terbuka.
Erwin Papah dari Indri membulatkan matanya ketika dia melihat Rico yang ada di depan sana.
“Maaf saya tidak menerima tamu malam - malam.” Ucapnya lagi, lalu bergegas untuk menutup pintu.
“Om, tolong Om, jangan tutup pintunya Om, saya mohon biarkan saya berbicara dulu om.” Pinta Rico, mendorong pintu itu agar tidak di tutup oleh Erwin.
“Pergi kamu! Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi! Kamu bisa bersama dengan Indri! Saya sudah tidak perduli dengan anak itu!” Usirnya, dengan penuh amarah.
“Om, saya sudah tidak bersama Indri, dan dia sudah keguguran Om, please biarkan saya bicara.” Balas Rico, yang membuat Erwin terkejut mendengarnya.
Erwin yang merasa jika tenaga Rico juga lebih besar darinya, memilih untuk membuka saja pintu rumahnya itu dari pada nanti rusak.
“Saya tidak perduli, apa yang sedang terjadi dengannya, mau kamu masih bersamanya atau tidak, itu sudah bukan urusan saya!” Tegas Erwin lagi, meskipun fi dalam hatinya merasa khawatir dengan keadaan putrinya.
Apa lagi semenjak kematian istrinya beberapa waktu lalu, Erwin merasa sangat kesepian, tidak ada yang menemaninya di rumah.
“Om, bisakah kita bicara di dalam om?” Pinta Rico, karena merasa tidak nyaman bicara di luar, apa lagi sampai di dengar oleh tetangga yang lain.
Erwin tidak mengatakan apapun, tetapi dia melangkahkan kakinya masuk dan membuka pintu lebar, itu seperti memberikan Tanda jika Rico boleh masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Ketika mereka sudah berada di ruang tamu, Erwin duduk di sofa di ikuti oleh Rico.
“Katakan! Apa yang mau kamu bicarakan!” Perintah Erwin pada Rico.
“Om, saya datang ke sini, ingin mengembalikan Indri, karena saya khawatir jika ke depannya saya tidak bisa menjaga dia om.” Ucap Rico dengan menundukan kepalanya.
Erwin yang mendengar itu rasanya ingin tertawa. “Kenapa kamu mengembalikannya sekarang? Setelah semuanya terjadi, Mamahnya sudah meninggal, masa depannya juga sudah hancur, sekarang kamu bilang jika kamu mau mengembalikan dia? Apakah kamu waras?” Tanya Erwin dengan sinis. Dia tidak tahu apa yang sedang di pikirkan oleh pria di hadapannya ini.
Setelah semua kehancuran keluarganya, sekarang dia bilang ingin mengembalikan Indri? Apakah dia pikir jika keadaan ini semua semudah itu.
Rico terlihat menghela nafasnya dengan berat. “Saya menderita Kanker otak om, dan dokter mengatakan hidup saya sudah tinggal beberapa minggu lagi.”
“Saya juga tidak pernah melakukkan Kemo dan pengobatan, sehingga sel Kanker itu sekarang sudah menggerogoti hidup saya.”
“Mungkin saya tidak berhak mengatakan hal ini kepada Om, tapi, karena saya yang mengambil Indri dari kalian, maka saya juga harus mengembalikannya pada Om.” Rico mengungkapkan tentang penyakit yang sedang dia derita.
“Saya tidak datang ke sini untuk mendapatkan sebuah rasa kasihan om, hanya saja saya ingin -“ kalimatnya terhenti, ketika dia beranjak lalu bersujud di kaki Erwin.
“Mungkin kata maaf sudah tidak layak saya ungkapkan setelah saya menghancurkan semua kehidupan keluarga Om. Saya adalah penyebab kematian Tante, dan bahkan saya pernah menyakiti Indri dan kasar dengan dia. Tetapi, Izinkan saya memohon ampun Om, Maafkan saya, Maafkan Indri Om. Terima dia kembali Om.”
Rico bersujud dan bahkan mencium kaki Erwin sebagai permintaan maafnya yang tulus, bahkan Erwin bisa merasakan jika kakinya basah karena air mata Rico yang menetes ke sana.
Erwin juga ikut meneteskan air matanya, dia juga bukanlah seorang pria yang jahat. Namun apa yang sudah terjadi benar - benar sudah sangat membuatnya sakit hati.
Erwin bahkan beranjak dari duduknya, dan bergegas masuk ke dalam kamarnya. Dia menyingkirkan tubuh Rico, agar tidak bersujud di sana.
Tetapi ketika dia sampai di kamar, dia melihat ke arah kakinya jika ada darah di sana. Erwin mengambil tissue dan membersihaknnya. Dia kembali membuka pintu dan melihat Rico dari jauh sedang membersihkan darah yang sedang menetes dari hidungnya.
Membuat Erwin kembali menutup pintu kamarnya dan duduk di ujung tempat tidurnya.
Dia menatap foto istrinya yang terpajang di dinding dekat tempat tidur. “Apa yang harus aku lakukkan sekarang?” Tanyanya pada Foto itu. Yang padahal dia sudah jelas tahu jika foto itu tidak bisa menjawabnya.
__ADS_1
Sedangkan Rico di luar, masih terduduk di lantai, dengan pandangannya yang kosong.
Dia meringkukkan kakinya, lalu memeluk lipatan kakinya itu dengan tubuh yang bersandar di sofa. “Apa yang harus aku lakukkan jika aku gagal mendapatkan maaf dari Papahnya, dan bahkan pergi sebelum dia berbaikan dengan Papahnya.” Lirihnya pelan tidak bisa membayangkan hal itu.
Rico terus saja terduduk diam di atas lantai yang dingin. Bahkan hingga subuh menjelang dia masih dengan posisinya.
Membuat Erwin yang tadinya ingin keluar untuk sholat Subuh berjamaah ke mesjid, terkejut melihat Rico yang sepertinya tidak ada tidur.
“Hey? Kamu ngapain duduk di situ?! Kenapa kamu tidak cari hotel saja atau apapun yang bisa kamu gunakan untuk tidur?!” Tanya Erwin dengan marah. Pria ini benar - benar seperti mengabaikan kesehataanya.
Rico menolehkan pandangannya ke arah Erwin sejenak, lalu kembali menatap lurus ke depan. “Om, kalau misalnya saya pergi tanpa mendapatkan maaf dari Om dan Indri, dan membuat kalian terus bermusuhan, bagaimana ya Om?” Tanya Rico, yang membuat Erwin merasa sesak mendengarnya.
“Bangkit Rico! Bersihkan wajahmu! Ganti pakaianmu, lalu ikut saya ke mesjid!” Perintah Erwin, yang mau tidak mau di ikuti oleh Rico.
Dia bangkit, dan masuk ke dalam toilet tamu yang ada di sana.
Erwin masuk ke dalam kamarnya, lalu mencarikan baju koko dan sarung yang bisa di gunakan oleh Rico.
Braakkkkkk
“Astaghfirullah,” lirih Erwin terkejut mendengar suara nyaring yang berasa dari kamar mandi luar.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
__ADS_1
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*