
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS πβ€οΈπΉ
Setelah Vino memberitahu di mana lokasi mereka, kini terlihat Erwin yang sudah duduk di sebelahnya.
"Sejak kapan Om tahu tentang penyakit Rico?" Tanya Vino penasaraan.
"Hemm, sepertinya 4 hari yang lalu di saat dia berkunjung ke rumah," jawab Erwin, mengingat - ingat kejadian itu.
"Berarti Om adalah orang pertama yang mengetahui tentang penyakit Rico?" Tanya Vino lagi, dan Erwin menjawabnya dengan anggukan kepala.
Membuat Vino menghela nafasnya panjang, dan mengadahkan kepalanya ke atas. "Seburuk itu keluarga kami ya Om, sampai - sampai, ada salah satu dari saudara yang sakit, tapi Om selaku orang luar yang malah mengetahuinya duluan. Sedangkan kita?"
"Kita semua malah sama sekali tidak mengetahuinya." Ucapnya, membuat Erwin kini memandang ke arahnya.
"Rico pernah mengatakan kepada saya, kalau dia tidak ingin membuat semua keluarganya jadi susah karena tahu penyakitnya. Sudah cukup dia membuat masalah selama ini, jadi di sisa akhir hidupnya dia hanya ingin tenang, itu saja." Sahut Erwin, memberitahukan keinginan Rico serta alasan Rico tidak memberitahukan keluarganya tentang masalah ini.
"Sakit apa Rico?" Tanya suara, yang tiba - tiba muncul di belakang mereka.
Itu adalah Wili, membuat Rico langsung menutup matanya karena kecolongan.
Dia lupa jika Willi, suami dari Raisa itu bekerja sebagai dokter Paru - paru di rumah sakit ini juga.
"Kak, Willi, tidak kak, Rico tidak sakit. Siapa yang sakit kak?" Vino berusaha mengalihkan pertanyaan Willi itu ke arah lain.
Tetapi Willi malah menggelengkan kepalanya pelan. "Saya sudah berdiri di sini dari 15 menit yang lalu, dan saya sudah mendengar semua yang kalian bicarakan, di dalam sana adalah Rico yang sedang melakukkan operasi."
"Benarkan?!"
__ADS_1
"Rico sakit apa Vino?! Jawab atau saya telpon Papah sekarang juga?!" Tegas Willi, tidak mudah di bodohi oleh Vino.
15 menit yang lalu, ketika dia melihat Vino dia ingin menegurnya. Tetapi, ketika Vino mengatakan tentang Rico yang sedang sakit, dia memilih untuk diam dan mendengar semua apa yang akan mereka bicarakan.
Mendengar apa yang di katakan oleh Willi, Vino langsung mengusap wajahnya kasar. "Jangan beri tahu pada siapapun kak! Yang ada nanti Rico malah marah sama kita." Ujarnya, Vino, merasa sekarang tugasnya untuk menjelaskan semuanya pada Willi.
"Dia siapa Vino?" Tanya Erwin penasaraan.
Vino menoleh melihat ke arah Erwin. "Dia adalah suami dari kakak pertama kakak pertama Om." Jawabnya, membuat Willi juga menatap ke arah Erwin.
"Kak Willi, dia adalah Om Erwin, papah dari Indri." Vino memperkenalkan Erwin sebelum willi menanyakannya.
"Hallo Om, saya Willi kakak ipar Vino." Sapanya, dengan mengulurkan tangannya menyalami Erwin.
"Om, di sini lalu Indri?"
"Indri masih belum tahu keadaan Rico, jadi saya di sini sendiri."
Mau tidak mau ke dua orang itu menjelaskan tentang kondisi Rico yang sudah akan menghadapi mautnya.
Membuat Willi yang tadinya berdiri di dekat mereka, sontak langsung duduk sembari menghela nafasnya.
"Jika Raisa tahu ini, dia pasti akan sangat sedih, dia sangat menyayangi Rico, dia juga bahkan tidak tahu jika perlakuan Papah padanya dan Pada Rico itu berbeda."
"Meskipun begitu, Raisa pasti akan sedih, jika Rico selama ini menyimpan rasa iri padanya." Ucap Willi yang sudah lebih dulu mengkhawatirkan keadaan istrinya.
"Ya kalau begitu tidak perlu di kasih tau, saya tidak memberitahu kakak ipar untuk memberitahu keluarga yang lain."
__ADS_1
"Sudahlah kak, bersikaplah seperti orang asing, anggap saja kakak tidak tahu tentang penyakit Rico."
"Dia sama sekali tidak mau membuat orang lain sedih, ataupun merasa dia adalah masalah karena rasa iri atau apapun." Tegas Vino, merasa jika Willi sama sekali tidak mengerti perasaan Rico.
Dia juga merasa seperti itu, meskipun Raisa baik, tetapi perlakuan Papahnya terhadap Raisa memanglah berbeda.
Tetapi, karena dia yang memang jarang mendapatkan kasih sayang Papahnya, dan merasa tidak membutuhkannyan juga, jadi dia tidak terlalu mempermasalahkannya.
Sedangkan Rico, pasti dia berbeda, dan semua kenangan buruk di masa lalu akan selalu membekas di ingatannya.
Dan kini, Willi malah lebih dulu memikirkan perasaan Raisa di bandingkan perasaan Rico.
"Aku hanya berpendapat Vino, dan -"
"Kami tidak butuh pendapat kakak, lebih baik kakak kembali bekerja, karena ada atau tidaknya kakak di sini juga tidak akan merebuah apapun!" Tungkasnya, membuat Willi menatapnya dengan sedih.
Dia tidak bermaksud ingin membela istrinya atau lebih dulu memikirkan istrinya. Willi hanya ingin memberitahu jika Raisa sangat menyayangi mereka dan tidak membedakan satu di bandingkan yang lainnya.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
__ADS_1
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*