
Begitu masuk ke dalam kamar, Viola langsung pergi ke jendela dan berdiri di sana sembari menatap cahaya matahari yang ada di liar.
'Padahal aku sudah berada di rumahku, aku berada di kamarku. Tapi kenapa hatiku tidak tenang?' ucap perempuan itu dalam hati sembari menatap sendu keluar jendela.
Erik yang melihat itu jelas tahu apa yang membuat sedih perempuan itu, tetapi dia benar-benar tidak berani untuk mengungkitnya karena dia terlalu malu dan terlalu takut jika harus memilih antara istrinya dan kakaknya.
Oleh sebab itu, pria itu hanya menarik koper mereka ke arah lemari dan menyusun barang-barang yang mereka bawa ke dalam lemari.
Tok tok tok...
Tiba-tiba pintu kamar mereka ditutup oleh seseorang hingga membuat Erik kemudian melihat ke arah pintu dan pergi membuka pintu.
Di lihatnya Novita berdiri di depan pintu sembari membawa nampan di tangannya yang berisi ramuan yang entah apa isinya.
"Berikan ini pada istrimu dan pastikan dia meminumnya sampai habis," ucap Novita sembari melihat ke arah putrinya yang tampak terbengong di jendela kamar.
"Baik Bu," ucap Erik sembari mengambil Alih baki di tangan Ibu mertuanya lalu pria itu kemudian masuk ke dalam kamar berbarengan dengan pintu kamar yang ditutup oleh Novita.
Erik pergi ke meja yang terletak di dekat jendela lalu meletakkan nampan yang ia di atas meja.
"Ibu menyuruhku memberikan ini untukmu, katanya harus dihabiskan," ucap Erik.
Viola yang mendengar ucapan suaminya akhirnya berbalik menatap ke arah pria itu dan perhatiannya tertuju pada mangkuk berisi ramuan.
"Apa kata ibu tentang ramuan ini?" Tanya Viola sembari duduk di depan pria itu dan dia cemas untuk meminum ramuan Itu sebab dia takut jika ramuan itu mungkin akan mempengaruhi kehamilannya.
Karena bagaimanapun, jika dia benar-benar membenci dirinya sendiri dan semua orang yang ada di sekitarnya, maka dia tidak punya hak untuk membenci bayi yang ada di dalam kandungannya.
__ADS_1
Sebab bayi itu ialah sebuah nyawa yang tidak mengerti apa-apa, tidak ada satupun alasan untuk menyalahkannya, apalagi melukainya!!!
"Ahh,,, Ibu tidak mengatakan nya, tapi dia bilang bahwa kau harus menghabiskan ramuan itu," ucap Erik langsung membuat Viola kemudian mengambil baki tersebut dan dia keluar dari kamar untuk menemui ibunya.
Perempuan itu ingin memastikan apa sebenarnya isi dari ramuan itu, kalau hanya ramuan untuk menambah stamina atau memperkuat daya tahan tubuh, maka dia mungkin akan meminumnya.
Tetapi bila ramuan itu dipergunakan untuk sesuatu yang lain, maka dia tidak bisa menyentuhnya bahkan setetes pun tak akan ia biarkan untuk masuk ke tubuhnya.
Erik tidak mengatakan apapun, dan dia hanya membiarkan perempuan itu pergi sementara dia kembali mengurusi barang-barang mereka untuk disusun rapi ke dalam lemari.
Sementara Viola yang keluar, dia turun ke lantai bawah dan melihat ibunya sedang duduk di depan TV sembari menekan-nekan remote TV.
"Ibu," ucap Viola mendekati ibunya hingga membuat Novita menatap perempuan itu.
"Ada apa sayang?" Tanya Novita.
Novita tersenyum meletakkan remote TV yang ada di tangannya lalu perempuan itu kemudian menatap putrinya sembari tersenyum.
Perempuan itu kemudian berkata, "ini adalah rumah ramuan supaya kau cepat hamil, jadi--"
"Tidak!" Sela Viola segera meletakkan ramuan itu di atas meja dan kemudian dia berdiri menatap ibunya, "jangan berikan aku hal seperti ini lagi!!" Ucap Viola sembari meneteskan air matanya lalu perempuan itu kemudian berlari meninggalkan ibunya sembari menyeka air matanya.
Perempuan itu benar-benar marah dan kesal atas apa yang baru saja diucapkan oleh ibunya, karena hal itu sangat melukainya dan dia merasa seperti sedang di pojokkan oleh ibunya terhadap rahasia yang sedang ia sembunyikan rapat-rapat.
Novita yang melihat itu sangat terkejut dan tertegun di tempatnya karena tak menyangka bahwa dia akan melihat putrinya menangis seperti itu.
Setelah beberapa saat dan menyadari bahwa Viola telah menghilang di ujung tangga, maka perempuan itu barulah berdiri mengejar putrinya.
__ADS_1
"Sayang!!" Ucap Novita sembari menaiki tangga dengan rasa kekhawatiran menghampiri seluruh pikirannya.
Tok tok tok...
"Sayang, buka pintunya," ucap Novita mengetuk pintu kamar putrinya.
Clek!
Pintu kamar kemudian terbuka memperlihatkan Erik yang membuka pintu kamar dengan raut wajah kebingungannya melihat ibu mertuanya.
"Ada apa Bu?" Tanya Erik.
"Di mana istrimu?" Tanya balik Novita.
Erik mengerutkan keningnya, "tadi dia bilang dia mau pergi menemui ibu, dan sekarang belum kembali," ucap Erik yang memang tidak melihat istrinya memasuki kamar, dan dia juga kini merasa heran bahwa Ibu mertuanya mencari istrinya. Padahal sebelumnya, istrinya berpamitan untuk menemui Ibu mertuanya.
"Itu,, dia tidak masuk ke kamar, Lalu ke mana dia?" Ucap Novita kini meninggalkan Erik untuk mencari putrinya di ruangan lain.
Erik yang mendengarkan ucapan Ibu mertuanya langsung mengikuti perempuan itu sambil berkata, "Memangnya apa yang terjadi Bu?"
"Ibu juga tidak tahu, padahal Ibu hanya meminta Dia meminum ramuan yang bisa mempercepat kehamilannya, tapi tiba-tiba dia malah meletakkan ramuan itu dan meninggalkan Ibu sembari menangis, jadi ibu pikir ada sesuatu yang terjadi," ucap Novita membuka ruang kerja ayahnya karena biasanya Viola bersembunyi di tempat itu.
Erik yang mendengarkan ucapan Ibu mertuanya juga ikut mencari istrinya, tetapi mereka tidak mendapatkan perempuan itu di ruang kerja tersebut sehingga mereka kemudian berpencar mencari ke ruangan-ruangan lain di rumah itu.
@info
Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow otor agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga melihat novel otor yang lain, apa lagi novel tamatnya ya... silakan buka profil otor untuk melihatnya...❤️❤️❤️
__ADS_1