
"kau tidak bersiap-siap untuk bekerja?" Tanya Bagas pada Erik ketika pria itu keluar dari kamar dan melihat Erik masih menggunakan pakaian santainya di rumah, padahal biasanya di jam seperti itu pria itu telah siap untuk berangkat ke kantor.
Tetapi, pria itu mengangkat alisnya ketika dia melihat Erik menatapnya dengan tetapan kemarahan lalu pria itu kemudian pergi meninggalkannya.
Tetapi Bagas sama sekali tidak memperdulikannya dan pria itu hanya turun ke lantai bawah untuk mendapatkan secangkir kopi.
Sementara Erik, dia pergi ke ruangan CCTV dan ketika tiba di sana pria itu langsung melihat perempuan yang memang bertugas menjaga CCTV.
"Selamat pagi tuan muda," ucap perempuan itu langsung diangguki oleh Erik lalu Erik kemudian duduk di salah satu kursi dan mengambil ahli mause yang ada di sana.
Sang Perempuan yang ada di sana tidak mengatakan apapun, Tetapi dia hanya duduk di kursinya sembari melihat ke layar komputer yang ada di depannya tanpa berani mencampuri Apa yang dilakukan oleh Erik.
Tuk tuk tuk...
Erik menekan-nekan mouse di tangannya sampai akhirnya dia tidak mendapatkan informasi apapun.
__ADS_1
Sama sekali tidak ada seorang pria yang memasuki kamar mereka, Tetapi dia hanya melihat bahwa Bagas memasuki kamar lalu disusul dengan istrinya.
Setelah itu, istrinya tak pernah lagi keluar dari kamar yang menandakan bahwa telah terjadi sesuatu.
'Apakah Kakak benar-benar melakukannya?' ucap pria itu berusaha terus meniti cctv-nya sampai akhirnya dia benar-benar tidak mendapatkan seorang laki-laki pun yang masuk ke dalam rumah kecuali dia ayahnya dan juga kakaknya.
Sementara, ayahnya tak pernah berhubungan sekalipun dengan istrinya kecuali Bagas yang memiliki akses untuk melakukan itu sebab kamar mereka yang terhubung.
Maka, sambil menggertakan giginya dan pikiran yang dipenuhi Amara, pria itu kemudian meninggalkan ruangan CCTV dan pergi ke kamarnya.
Clek!
Erik yang melihat itu kemudian berkata, "pakai pakaianmu lalu kita berbicara."
Setelah itu, Erik menutup pintu kamar dan dia berdiri di depan pintu dengan tangan yang terkekal kuat.
__ADS_1
'Apa yang kuharapkan untuk kutanyakan pada istriku? Mana mungkin dia mau menceritakan hal itu padaku?' ucap Erik dalam hati yang merasa bahwa usahanya untuk bertanya pada perempuan itu akan sia-sia, tetapi dia juga benar-benar sangat ingin mempercayai kakaknya sehingga pria itu menjadi bimbang untuk melakukan apa.
Namun ketika dia terus berpikir, akhirnya pintu kamar terbuka hingga membuat Erik menatap ke arah perempuan yang membukakan pintu di mana perempuan itu memakai pakaian yang memiliki kera yang tinggi.
Kera dari pakaian itu membuat luka-luka yang ada di lehernya tidak kelihatan, dan juga lengannya yang dipenuhi memar tidak kelihatan lagi sebab pakaian itu juga memiliki lengan panjang.
"Masuklah," ucap Viola pada Erik langsung membuat Erik masuk ke dalam kamar tersebut.
Lalu Erik kemudian mengunci pintu kamar dan juga pintu yang menghubungkan kamar mereka dengan kamar kakaknya.
Viola cukup bingung dengan pria itu, tetapi perempuan itu hanya berdiri saja meramas tangannya karena dia masih begitu takut saat mengingat kembali apa yang terjadi kemarin malam.
"Duduklah," ucap Erik Setelah dia selesai mengunci pintu, lalu pria itu kemudian berjalan ke sofa diikuti Viola yang juga mengikuti pria itu hingga mereka berdua duduk di sofa.
Sambil duduk di sofa, Viola benar-benar merasa ketakutan dan entah kenapa dalam hatinya dia berharap saat itu juga mungkin mati jauh lebih baik daripada terus menghadapi rasa malunya di depan semua orang yang ia temui.
__ADS_1
@info
Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow otor agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga melihat novel otor yang lain, apa lagi novel tamatnya ya... silakan buka profil otor untuk melihatnya...❤️❤️❤️