Hamilku Oleh Ipar Brengsekku

Hamilku Oleh Ipar Brengsekku
15


__ADS_3

Viola yang meninggalkan ibunya langsung masuk ke ruang perpustakaan di rumah mereka, lalu dia kemudian mengunci dirinya di dalam sebuah lemari yang cukup besar, namun hanya digunakan untuk menyimpan pakaian-pakaian teater yang sedari kecil digunakan oleh Viola setiap kali mengikuti berbagai acara pertunjukan.


Karena bagian bawahnya kosong, maka perempuan itu duduk di sana sembari memeluk kedua lututnya dan menangis tersedu-sedu.


'Aku memang hanya membuat semua orang menderita, suamiku juga pasti menginginkan seorang perempuan yang belum disentuh oleh laki-laki lain, dan ibuku menginginkan seorang cucu yang berasal dari suamiku, tapi aku tidak bisa mewujudkan semua itu. Aku bukan perempuan yang layak lagi untuk disebut sebagai putri yang baik dan istri yang baik,' ucap Viola dalam hati sembari menangis tersedu-sedu.


Clek!


Tiba-tiba Viola mendengar suara pintu yang dibuka langsung membuat perempuan itu terdiam menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya dan dia kemudian meringkuk di tempatnya karena tidak ingin ditemukan oleh siapapun.


"Sayang? Apa kau di sini?" Tanya Erik sembari memeriksa ruangan perpustakaan itu dan memeriksa setiap bilik-bilik dalam perpustakaan untuk melihat apakah di sana ada istrinya yang sedang bersembunyi.


"Sayang, Kalau ada masalah bisa kita bicarakan baik-baik, kita bisa mencari jalan keluarnya sama-sama," ucap Erik yang merasa cemas Jika saja istrinya berbuat nikah apalagi dia mengetahui bahwa perempuan itu telah dilecehkan oleh kakaknya dan hal-hal seperti itu pasti sesuatu yang sangat menyakitkan bagi seorang perempuan.


Apalagi ketika dia mengetahui bahwa ibu mertuanya mengungkit tentang seorang anak, jadi pastilah hal itu menyakiti hati istrinya sehingga perempuan itu mungkin akan melakukan hal-hal yang bisa saja menyakitinya.

__ADS_1


"Sayang,,, kau di sini?" Kembali ucap Erik berusaha mencari terus istrinya, namun ketika dia sudah memeriksa semua tempat di ruangan itu, pria itu menghilangkan nafas karena tidak mendapati istrinya di manapun.


"Kemana dia?" Ucap pria itu dengan sangat cemas sembari melangkah menuju pintu keluar.


Tetapi, belum sampai di pintu keluar ponselnya tiba-tiba berdering memperlihatkan nama pemanggil ialah Bagas sehingga pria itu kemudian menyertakan nang giginya membaca nama pemanggil yang masuk ke ponselnya.


"Untuk apa dia lagi dia meneleponku?" Kesal Erik hendak mematikan panggilan telepon itu ketika dia merasa bahwa dia masih perlu mengatakan sesuatu pada kakaknya sehingga pria itu beralih menekan tombol hijau pada layar ponselnya.


"Ada apa lagi kau menelponku?!!" Bentak pria itu pada orang di seberang telepon.


'Kenapa dia berbicara sangat kasar? Jangan-jangan dia sebenarnya bukan orang yang baik dan lembut Tetapi dia hanya menyembunyikan semuanya itu di depan semua orang?' ucap Viola dalam hati yang kini semakin ketakutan karena jika pria itu ialah pria yang kasar maka dia cemas ketika mengetahui bahwa dia telah hamil sebelum menikah maka dia mungkin akan dibunuh oleh pria itu.


Beberapa saat keheningan, kemudian terdengar lagi Erik yang berteriak, "sialan!! Beraninya kau berbicara seperti itu?!! Sekali lagi kau berbicara seperti itu aku benar-benar akan menjeploskanmu ke dalam penjara tidak perduli Kau adalah kakakku atau bukan!!!"


"Ha ha ha..." Bagas tertawa, "kalau begitu cobalah lakukan itu, karena kalau kau tidak melakukannya, maka kaulah yang akan kujebloskan ke dalam penjara!!" Ancam Bagas dari seberang telepon karena pria itu juga sangat marah terhadap adiknya yang sudah mengambil perempuan miliknya.

__ADS_1


"Sialan!!! Kau pria tidak tahu Maluku mah kau sudah melecehkan istriku dan kau masih berani-beraninya berkata seperti itu padaku!! Ini bukan kau yang kukenal kau tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini tapi kenapa kau jad--"


"Kalau kau tidak tahu hal-hal itu, maka kau bukan orang yang mengenalku, dan sekali lagi aku katakan padamu jauhi wanitaku atau aku sendiri yang akan membuatmu menjauhinya!!!" Tegas Bagas dari seberang telepon lalu panggilan telepon itu diakhiri secara sepihak.


Tut tut tut....


Nada panggilan yang terputus langsung membuat Erik merasa sangat kesal dan dia hendak melemparkan ponselnya ke lantai ketika dia masih sadar bahwa ada banyak dokumen penting di dalam ponsel tersebut sehingga dia hanya memindahkan ponselnya ke tangan kirinya lalu beralih menuju tembok.


Buk!!!


"Hah,,, sial!!!" Garam pria itu sembari meneteskan air matanya dan dia benar-benar tidak tahu harus memilih untuk melakukan apa.


Kalau dia meminjamkan kakaknya ke penjara, maka semua orang akan sedih dan istrinya juga akan menjadi semakin sedih karena perempuan itu akan diketahui oleh orang-orang bahwa dia telah dilecehkan oleh iparnya sendiri.


Tetapi jika dia tidak melakukannya, maka selamanya istrinya akan terancam, istrinya tidak akan bisa hidup tenang karena kakaknya yang terus akan menghantuinya hingga akan terus merasa takut.

__ADS_1


__ADS_2