
BAB 41
Hari demi hari telah berlalu, dan saat itu juga Viola telah menghabiskan waktunya terus berada di rumah selama 2 minggu lebih.
Perempuan itu merasa bosan, apalagi selama satu minggu terakhir suaminya tidak kembali ke rumah dengan alasan pekerjaan yang begitu padat sehingga tidak memungkinkan jika harus bolak-balik dari rumah ke kantor.
Maka perempuan itu memutuskan untuk pergi berjalan-jalan hari itu sebab suasana hatinya sedang membaik namun sebelum itu dia membuat bekal yang biasanya ia buat untuk dikirimkan ke kantor suaminya.
Tetapi hari itu Dia memutuskan untuk pergi sendiri membawa bekal itu ke kantor suaminya, sehingga dia begitu senang membuat makanannya sampai akhirnya makanannya telah siap untuk dibawa.
"Perlukah Ibu menemanimu?" Tanya Novita saat melihat putrinya sudah hendak pergi ke kantor Erik.
Viola tersenyum melihat ibunya, "tidak apa-apa Bu, aku bisa pergi sendiri. Ahh,, hari ini mungkin aku pulang agak lambat karena aku mau singgah di suatu tempat dulu," ucap Viola langsung diangguki oleh Novita lalu perempuan itu kemudian membiarkan putrinya pergi.
__ADS_1
Diantar oleh sopir, Viola duduk di atas mobil sembari memegang kotak bekali yang ia persiapkan untuk suaminya dan mobil melaju di jalanan yang agak macet sesuai dengan ciri khas sebuah kota yang padat penduduk.
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
Tiba-tiba ponselnya bergetar yang memperlihatkan nama pemanggil adalah erikoma maka perempuan itu mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo," ucap Viola pada pria di seberang telepon.
"Ahh baiklah, Kalau begitu hati-hatilah aku akan menunggumu di rumah," ucap Viola lalu mereka mengakhiri panggilan telepon tersebut.
Setelah panggilan telepon itu ditutup Viola kemudian menghilangkan lalu dia membuka kaca jendelanya karena dia merasa agak sesak.
__ADS_1
"Kita mau kemana Nona?" Tanya sama sopir yang mengendarai mobil karena tadinya dia juga mendengar panggilan telepon yang dilakukan oleh Viola bersama dengan Erik sebab volume suara tersebut cukup keras.
"Ke restoran," jawab Viola secara sembarangan.
"Restoran apa yang ingin Nona kunjungi?" Kembali tanya sama sopir saat mendengar jawaban biola yang kurang jelas, sebab bagaimanapun di ibukota ada banyak sekali restoran.
Hal itu membuatnya kebingungan harus membelokkan mobil ke mana serta restoran mana yang harus dituju.
Viola yang mendengarkan sang supir terus bertanya kini merasa kesal lalu dia menatap supir itu sembari berkata, "pilih saja restoran sesuka hatimu!"
Setelah berbicara, Viola menyandarkan punggungnya sembari memejamkan matanya sebagai pertanda bahwa dia tidak ingin lagi diganggu oleh supir itu.
Sang supir yang merasa canggung dan mengerti bahwa perempuan itu sedang memarahinya akhirnya hanya bisa menghilang nafas lalu dia kemudian membawa mobil ke sebuah restoran yang sering dikunjungi oleh keluarga Viola.
__ADS_1
Setelah tiba di restoran, sang supir memarkir mobil dengan baik dan menoleh ke belakang melihat biola yang tampaknya tertidur pulas di dalam mobil.
'Hah,, sepertinya Nona sedang hamil itu sebabnya dia bertingkah tidak jelas selama beberapa waktu terakhir ini,' ucap salam supir dalam hati yang mana dia juga mendengar gosip dari para pelayan bahwa tingkat Nona selama beberapa waktu tidak karuan dan sering membuat para pelayan kerepotan.