Hamilku Oleh Ipar Brengsekku

Hamilku Oleh Ipar Brengsekku
64


__ADS_3

Tok tok tok...


Viola yang saat itu tengah gelisah di dalam kamarnya langsung menoleh ke arah pintu setelah mendengar suara ketukan pintu kamarnya.


"Masuk," ucap Viola berjalan ke arah pintu dengan pintu yang sudah dibuka dari luar memperlihatkan ibunya yang masuk sembari membawa nampan berisi susu dan cemilan.


"Cemilan ini bagus untuk ibu hamil, jadi ibu membuatkannya untukmu," ucap Novita sembari berjalan menghampiri putrinya lalu mereka berdua pun duduk di sofa yang terletak dalam kamar Viola.


"Terima kasih Bu," ucap Viola mengambil susu yang ada di nampan lalu Dia meminum pelan susu hangat itu.


Novita menganggukkan kepalanya sembari memperhatikan perempuan di depannya, dan setelah putrinya selesai meneguk sedikit susu itu, dia kemudian berkata, "Apakah kau masih memikirkan Bagas?"

__ADS_1


Pertanyaan itu langsung membuat Viola menganggukkan kepalanya, dan tangan perempuan itu menyentuh perutnya.


Novita menghela nafas, "Ahh,, Ibu tahu kau sangat khawatir padanya, Ibu juga tahu kalau kau pasti merasa bersalah padanya, sebab untuk menyelamatkanmu dia sampai terluka sangat parah dan saat ini tidak ada satupun orang yang mengetahui keberadaannya. Ayahmu juga sudah menambah orang untuk mencari keberadaannya di semua rumah sakit, tetapi sampai sekarang belum ada informasi sehingga kita perlu bersabar lebih lama lagi.


"Namun, Ibu berharap kau mau membuka hatimu dan menceritakan pada kami siapa sebenarnya pria yang menjadi ayah dari bayi yang kau kandung itu. Sebab bagaimanapun, bayi itu tidak boleh lahir tanpa seorang ayah di sisinya, itu akan sangat menyakitkan bagi anakmu ketika dia terlahir tanpa seorang ayah," ucap Novita yang mana keluarga mereka telah berbicara dengan keluarga Erik namun Erik memang membenarkan bahwa anak yang dikandung Viola bukanlah anaknya.


Tetapi pria itu juga tidak mengatakan tentang fakta bahwa anak yang ada di kandungan Viola adalah anak Bagas, pria itu seolah membiarkan masalah itu dan sekarang hanya bersenang-senang terhadap apa yang telah Ia capai.


Novita yang mendengarkan itu hanya bisa menganggukkan kepalanya, dan dia tidak mau terlalu memaksa putrinya untuk bercerita sebab perempuan itu takut jikalau nanti putrinya malah semakin tertekan karena terus dipaksa.


Hal itu bisa berpengaruh pada kehamilan anaknya sehingga mereka hanya bisa membujuk Viola secara perlahan-lahan saja.

__ADS_1


"Besok adalah waktu untuk memeriksakan kandungan mu, menjadi malam nanti Ibu mau supaya Kau melupakan dulu tentang Bagas, jangan terlalu memikirkannya lebih dulu, Ibu tidak mau kalau kau sampai tidak tidur dan besok di hari pemeriksaan kau malah ketiduran di rumah sakit seperti beberapa waktu yang lalu," ucap Novita mengingatkan putrinya.


"Baik Bu," jawab Viola.


Novita yang melihat bahwa putrinya butuh waktu untuk sendiri kemudian berdiri lalu meninggalkan putrinya dan kembali ke lantai bawah menghampiri suaminya yang sudah menunggunya.


"Bagaimana?" Tanya Cornelius ketika melihat kehadiran istrinya.


Novita menggelengkan kepalanya lalu perempuan itu duduk di depan suaminya sembari berkata, "dia masih memikirkan tentang Bagas, dan Aku takut itu akan berpengaruh pada bayi yang ada di kandungannya jadi bisakah kau melakukan sesuatu untuk membantu kita cepat-cepat menemukan Bagas?"


Cornelius menghela nafas dengan berat, "semua rumah sakit di dalam negeri telah diperiksa, tetapi tidak ada satupun rumah sakit yang merawat Bagas, jadi aku rasa kita harus memperluas pencariannya ke luar negeri. Meski sangat mustahil untuk menemukannya, Tetapi Aku akan berusaha untuk menemukannya. Namun, untuk berjaga-jaga aku juga sudah menyuruh orang-orang untuk mencari tahu tentang identitas setiap orang yang kira-kira meninggal pada 1 bulan terakhir."

__ADS_1


__ADS_2