Hamilku Oleh Ipar Brengsekku

Hamilku Oleh Ipar Brengsekku
59


__ADS_3

Tepat pada pukul 19.00, Viola menaiki mobil yang akan mengantarnya kembali ke ibukota.


"Bagaimana keadaan Bagas?" Tanya Viola pada seorang pria yang menemaninya untuk kembali ke ibukota.


Sang pria menoleh ke arah Karmila sembari berkata, "Dia sedang dirawat di rumah sakit, tapi rencananya dalam 2 jam ke depan dia akan dipindahkan ke ibukota Jadi nona bisa bertemu dengannya di sana nanti."


Viola yang mendengarkan itu merasa lega dalam hatinya bahwa pria itu baik-baik saja sehingga dia kemudian berkata, "Kalau begitu, kita tunda saja pergi ke ibukota terlebih dahulu, Tolong antarkan aku ke rumah sakit dan aku akan berbaring dengannya untuk kembali ke ibukota."


Viola benar-benar ingin memastikan keadaan pria itu, sebab bagaimanapun dia berhutang nyawa pada pria itu dan dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa pria itu baik-baik saja.


Tetapi sang supir yang ada di sana tentunya tidak bisa membiarkan Viola melakukan hal itu, sebab Dia sudah mendapat perintah yang tegas bahwa Viola harus segera kembali ke ibukota karena kota ini merupakan kota yang cukup berbahaya.

__ADS_1


Sehingga, pria yang bersama dengan Viola itu kemudian berkata, "Maaf sekali Nona, tetapi saya sudah mendapat perintah yang tegas bahwa Nona harus kembali ke ibukota. Namun begitu, Tuan Kami menitipkan ini untuk Nona."


Sang pria menyerahkan sebuah surat yang langsung membuat Viola mengambil surat itu dan melihat isinya, tulisan tangan yang berantakan, dan ada noda darah di kertas itu membuat Viola benar-benar meneteskan air matanya dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk tenang membaca isi surat itu.


*Aku akan menemuimu nanti, tunggu aku.*


Meski hanya satu kalimat yang tertulis di sana, tetapi hal itu cukup membuat Viola kembali menangis tersedu-sedu sampai membuat sang pria yang bersama dengan Viola kini memegang setir mobil dengan sangat kuat karena merasa emosional mendengar tangisan Viola.


"Itu,, Apakah surat ini baru saja ditulis olehnya?" Tanya Karmila langsung membuat sang pria menganggukkan kepalanya.


"Benar sekali, beberapa jam yang lalu saat dia dilarutkan ke rumah sakit, dia masih menyempatkan diri untuk menulis surat itu," ucap Sang pria berbohong, sebab sebenarnya surat itu ditulis beberapa waktu yang lalu ketika pria itu berkelahi dengan beberapa agen mafia yang berada di ibukota.

__ADS_1


Saat itu, luka Bagas tidak terlalu parah, tetapi pria itu cemas bahwa dia tidak akan bisa kembali sehingga dengan terburu-buru menulis surat itu yang dipesankan untuk diberikan pada Viola.


Tetapi karena pria itu baik-baik saja, maka surat itu terus disimpan dan baru saat ini diberikan pada Viola hanya untuk menenangkan perempuan itu.


Namun Viola yang mendapatkan surat itu sudah merasa sangat lega karena tentunya surat itu mengatakan padanya bahwa pria yang ia cemaskan sedang baik-baik saja.


Tetapi meski demikian kau Maaf Viola tetap berpikir untuk melihat pria itu secepatnya, sehingga Viola menatap sang supir dan berkata, "itu,, aku tidak perlu terburu-buru kembali ke ibukota, jadi bisakah kita pergi ke rumah sakit tempat Bagas dirawat dan biarkan aku bersama-sama dengannya menuju ibukota."


Ucapan Viola langsung membuat sang supir menghela nafas sembari pria itu kemudian berkata, "Maaf sekali Nona, Tetapi kalau saya tidak berhasil mengantar Nona tepat waktu ke ibukota, maka saya akan mendapat hukuman dari tuan. Ah, juga, saat ini kota ini sangat berbahaya jadi akan lebih aman jika Nona kembali ke ibukota dan bisa menunggu tuan di sana."


Viola yang mendengarkan itu hanya bisa mengangguk dengan pasrah dan perempuan itu melipat tangannya lalu dia berdoa kepada sang maha kuasa supaya lindungan maha kuasa tetap menyertai orang-orang yang memiliki niat baik.

__ADS_1


__ADS_2