Hamilku Oleh Ipar Brengsekku

Hamilku Oleh Ipar Brengsekku
60


__ADS_3

Ding dong!


Viola berdiri di depan biar bangun rumahnya sembari mereka kembali rumahnya.


Seorang satpam yang ada di sana langsung menghampiri Viola dan terkejut melihat Viola yang datang sendirian tanpa diantar oleh siapapun.


"Nona," ucap satpam itu segera membuka pagar lalu membiarkan Viola masuk ke rumah.


Begitu membuka pintu utama, Viola langsung dihampiri oleh ibunya yang sangat cemas pada putrinya karena putrinya tidak bisa dihubungi dan tidak biasanya perempuan itu pergi terlalu lama dari rumah.


"Kau dari mana saja?" Tanya Novita pada putrinya sementara Cornelius yang melihat kepulangan putrinya kini menghela nafas dan pria itu duduk dengan tatapan yang dalam menatap putrinya.


"Aku hanya pergi ke rumah temanku saja," ucap Viola.

__ADS_1


"Ahh, syukurlah kau baik-baik saja, kemarilah," ucap Novita segera menarik putrinya untuk duduk di sofa lalu dia kemudian memberikan teh hangat yang sudah ia siapkan untuk putrinya dan perempuan itu juga mengambil selimut lalu menyelimuti tubuh putrinya yang dingin karena udara malam.


Viola tidak mengatakan apapun, Tetapi dia langsung menyeruput teh hangat yang ada di tangannya Lalu setelah menghabiskan satu gelas teh hangat itu ia meletakkannya di atas meja dan mengangkat wajahnya menatap ayahnya.


"Maaf, tadi ponselku hilang di tengah jalan, jadi aku tidak bisa menghubungi kalian," ucap Viola.


Novita yang mendengarkan itu langsung menganggukkan kepalanya, dan meski dia melihat bahwa putrinya baru saja menangis, tetapi perempuan itu tidak berniat untuk menanyakannya sebab yang paling penting ialah putrinya kembali dengan selamat.


Tetapi kemudian, Cornelius yang ada di sana Lalu mengambil surat yang sudah ia siapkan di atas meja dan memberikannya pada Viola.


Perempuan itu sangat terkejut ketika dia melihat bahwa surat itu merupakan surat gugatan cerai yang ia berikan pada suaminya dengan beberapa syarat yang sudah tercantum di sana.


"Kau memasukkan surat ini ke pengadilan dan membayar orang-orang di sana supaya memproses surat ini dengan cepat? Seandainya tidak ada pamanmu yang bekerja di sana, maka Ayah tidak akan bisa membatalkan gugatan cerai ini!!!!" Tegas Cornelius.

__ADS_1


Viola yang melihat itu kini dengan tangan gemetar memegangi suratnya lalu mengangkat wajahnya yang sudah meneteskan air matanya, dia berkata, "ayah,, demi apapun, aku tidak pernah membuat surat seperti ini."


Cornelius yang mendengarkan itu mengerutkan keningnya, "kau tidak pernah membuatnya? Tetapi tanda tanganmu yang ada di bawah itu, apakah kau pikir itu dipalsukan oleh orang lain? Ahh,, juga semua syarat yang tertera di sana sangat menguntungkan muka mah jadi Mungkinkah Erik lah yang memalsukannya?" Tanya Cornelius yang saat ini berusaha menahan amarahnya supaya dia tidak meneriaki putrinya.


Sementara Viola, perempuan itu mengulurkan tangannya menyeka air matanya dan melihat tanda tangan Erik yang ada di bawah sana juga.


"Tidak, aku tidak ingat pernah membuat surat ini, apalagi menandatanganinya." Ucap Viola.


"Hah,, kau tidak bisa membantah apapun lagi, bahkan Ayah melihat catatan perkunjunganmu ke kantor pengadilan, dan Erik bahkan tidak pernah pergi ke sana. Hah,, jadi katakan pada ayah, apa yang membuatmu berpikir seperti itu untuk menceraikan suamimu padahal saat ini kau sedang hamil?!" Tanya Cornelius.


"Itu,, aku,," viola yang gemetar di tempatnya berusaha berpikir dengan jernih, dan dia kembali mengingat saat di mana ketika Erik sedang berselingkuh bersama dengan perempuan lain.


"Aku,, aku melihat Erik bersama-sama dengan seorang perempuan, dia berselingkuh dariku, jadi aku rasa dia yang telah menjebakku karena beberapa waktu yang lalu aku menandatangani surat-surat yang ia berikan padaku, jadi Mungkin saja dia mengelabuiku. dia pasti sangat ingin bersama-sama dengan selingkuhannya itu sehingga dia melakukan hal seperti ini untuk--"

__ADS_1


"Diam!" Bentak Cornelius yang kini sudah tidak tahan lagi mendengarkan ucapan putrinya hingga membuatnya mengeluarkan bentakan.


__ADS_2