
Viola mengerjapkan matanya dan perempuan itu sangat terkejut saat ia bangun dan tidak mendapati Bagas di manapun.
Viola dengan cepat menyingkap selimut yang menyelimutinya dengan sangat rapi lalu perempuan itu turun dari tempat tidur bersamaan dengan Bagas yang keluar dari kamar mandi.
Pria itu dibantu oleh seorang pria yang berpakaian serba hitam Di mana Viola mengenali pria itu sebagai salah seorang pria yang ia temui di kota L.
"Kau sudah bangun?" Ucap Bagas langsung dianguki oleh Viola dengan perempuan itu cepat membereskan tempat tidur supaya Bagas bisa naik ke tempat tidur dan kembali istirahat.
Setelan duduk di tempat tidur, Bagas menatap Viola yang sibuk memperbaiki selimut, lalu pria itu berkata, "ada makanan di lemari, tadi aku sudah memanaskannya untukmu."
Ucapan pria itu langsung membuat Viola menatap Bagas, "kau mengurus makanan untukku?" Tanya Viola yang tidak mengerti Bagaimana pria itu melakukannya ketika masuk ke kamar mandi saja pria itu masih harus dibantu oleh seorang pria dewasa.
Bagas tersenyum kecil, "Tenang saja, aku menggunakan kursi roda. Ahh,, Bisa tolong ambilkan kotak yang ada di lemari," ucap Bagas menunjuk salah satu lemari langsung membuat Viola pergi ke lemari itu dan mendapatkan sebuah kotak dari sana.
__ADS_1
Perempuan itu menyerahkannya pada Bagas dengan Bagas yang membukanya langsung mengeluarkan beberapa alat jahit menjahit.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Viola memperhatikan pria itu.
"Aku akan memberitahumu nanti, kau pergilah makan," kata Bagas yang tidak ingin bila perempuan itu menderita kelaparan.
Meski Viola merasa penasaran, tetapi melihat pria itu sangat serius menatapnya, maka Viola akhirnya pergi mendapatkan makanan untuk dirinya sendiri, dan dia menarik kursi supaya dia bisa duduk di samping ranjang Bagas sembari makan memperhatikan pria itu.
"Tapi Apakah kau sudah makan?" Tanya Viola yang saat itu sudah melihat jam dinding bahwa sudah lewat jam makan malam.
Viola yang memperhatikan itu benar-benar tidak mengerti dengan pria itu salah satu tangannya masih di perbankan tetapi pria itu malah akan menjahit?
"Apakah tanganmu tidak sakit?" Tanya Viola sembari menyuap makanan yang ada di piringnya.
__ADS_1
"Hm, sudah tidak terlalu sakit," jawab Bagas mengambil sebuah kain dari dalam kotak lalu dia menjahit kain itu yang membuat Viola tercengang di tempatnya saat ia menatap bahwa ternyata pria itu sedang menjahit pakaian bayi.
Baru saja perempuan itu hendak berbicara untuk menyuruh pria itu menghentikan aksinya ketika Bagas lebih dulu mendahuluinya berbicara, katanya, "baju ini untuk bayi kita, Aku ingin memberinya sebuah hadiah yang kuat dengan tanganku sendiri."
Ucapan pria itu benar-benar membuat Viola menghentikan kunyahannya dan dia tidak menyangka bahwa pria itu benar-benar semangat menyambut kelahiran bayi mereka.
"Hm,," jawab Viola dengan singkat lalu perempuan itu kemudian berdiri meletakkan makanannya dan dia berlari ke kamar mandi untuk menangis.
Entah kenapa sekarang dia menyesali perbuatannya dulu menyetujui pernikahannya dengan Erik, seharusnya dia tidak pernah melakukan itu agar tidak terjadi kekacauan seperti ini.
Tetapi sekarang tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, sehingga perempuan itu berusaha menenangkan dirinya dan menghapus air mata yang jatuh di pipinya.
'Tenang saja, semuanya masih bisa diperbaiki,' ucap perempuan itu dalam hati sembari mengatur nafasnya lalu keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Saat keluar, Viola melihat bahwa Bagas masih sibuk menjahit, sehingga dia kemudian duduk di tempat duduknya dan lanjut makan dengan mata yang tertuju pada Bagas yang sangat serius menjahit pakaian.