Hamilku Oleh Ipar Brengsekku

Hamilku Oleh Ipar Brengsekku
51


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Viola terbangun karena jam alarm yang sudah ia setel pada pukul 05.30, sehingga perempuan itu cepat-cepat mematikan alarmnya dan menoleh ke arah sofa di mana Erik sedang tertidur di sana.


Viola merasa legal bahwa pria itu tidak terbangun oleh suara alarmnya, lalu dia kemudian masuk ke kamar mandi dan turun ke dapur untuk membuatkan sarapan bagi suaminya.


Setelah sarapannya siap, Viola kembali ke kamar dan mendapati suaminya sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor tetapi pria itu duduk di sofa dengan sebuah map yang diletakkan di atas meja.


"Sarapan sudah siap, turunlah untuk sarapan lalu berangkat ke kantor," ucap Viola dengan suara yang lembut.


"Baiklah, tapi sebelum itu aku ada sesuatu yang hendak dibicarakan denganmu bisakah kau duduk di sini?" Tanya Erik langsung dijawab oleh anggukan Diana lalu Diana kemudian mendekati pria itu dan duduk di depan pria itu.

__ADS_1


"Ada hal apa pagi-pagi begini?" Tanya Viola yang merasa agak gugup karena tentu saja ada banyak beban pikiran yang ditanggung oleh perempuan itu.


Sebab bagaimanapun kau mah kepahitan yang bertubi-tubi telah ia rasakan dan terlebih ada ketakutan juga dalam hatinya bahwa pria itu mungkin akan membicarakan soal perpisahan mereka sebab tidak mungkin Erik mau menerimanya begitu saja setelah mengetahui bahwa ia sedang hamil anak orang lain.


Erik yang melihat kegugupan perempuan di depannya kemudian tersenyum dan berkata, "aku membeli sebuah rumah untukmu jadi aku membutuhkan tanda tanganmu."


Viola yang mendengar itu sangat terkejut karena tidak menyangka bahwa pria itu akan memberikannya rumah di masa-masa yang sulit seperti itu.


Erik kembali menganggukkan kepalanya, lalu dia kemudian berpindah duduk di samping Viola dan memperlihatkan foto-foto rumah.

__ADS_1


"Ini adalah foto-foto rumah yang kubelikan untuk maqomah Sebenarnya Hari ini aku akan membawamu ke sana untuk melihat-lihat, tetapi hari ini tiba-tiba saja ada meeting jadi nanti aku tidak bisa menemani ke sana. Tetapi karena rumah itu diperebutkan banyak orang jadi aku buru-buru untuk menyelesaikan surat-suratnya pagi ini sehingga besok baru kita pergi ke sana untuk melihat-lihat." Ucap Erik membuat Viola benar-benar terkagum dengan pria tersebut.


Hadiah bisa melihat bahwa rumah tersebut ialah rumah yang besar dan berada di lokasi yang sangat strategis dan nyaman sehingga dia merasa bahwa dirinya yang seharusnya tidak layak lagi bagi Erik kini merasa begitu terhormat diperlakukan dengan baik oleh pria itu.


"Ini rumah yang sangat bagus, tapi,, Apa kau yakin membeli rumah ini untukku?" Tanya Viola.


"Ya, aku buru-buru, jadi tidak akan sempat sarapan sebab aku harus cepat-cepat mengurus rumah ini sebelum chat duluan oleh orang lain. Jadi bisakah kau menandatangani berkas-berkas ini?" Ucap Erik sembari mengambil berkas-berkas yang sudah ia siapkan di atas meja lalu memberikannya pada Diana.


Diana kehenranan melihat berkas yang sangat tebal itu tetapi ketika dia membuka dan melihat bahwa isinya memang tentang persetujuan untuk membeli rumah, maka dia dengan cepat menandatanganinya tanpa membaca kata-kata pada lembar dari surat itu.

__ADS_1


"Apakah Minggu sebuah rumah dengan membutuhkan berkas sebanyak ini?" Tanya Viola sembari membubuhkan tanda tangannya di atas surat-surat itu.


Erik yang melihat bahwa perempuan itu benar-benar tidak membaca isinya karena dia telah berbohong bahwa dia terburu-buru benar-benar merasa senang dalam hatinya sehingga pria itu mengangguk dengan semangat, "hm,, itu rumah yang khusus, jadi berkas-berkas yang diurus juga sangat banyak." ucap Erik langsung diangguki oleh Viola sembari perempuan itu mempercepat gerakan tangannya menandatangani surat-surat itu.


__ADS_2