Hamilku Oleh Ipar Brengsekku

Hamilku Oleh Ipar Brengsekku
69


__ADS_3

"Ya?!" Cornelius mengerutkan keningnya ketika dia berteleponan dengan mantan besannya yang saat ini ternyata sedang berada di rumah sakit.


"Erik melakukan kesalahan dengan membuat perjanjian bersama seorang mafia, dia membuat perusahaan utama menjadi jaminannya." Ucap pria dari seberang telepon benar-benar membuat Cornelius tidak menyangka bahwa ternyata Erik yang selama ini memiliki reputasi yang sangat baik akan membuat bumerang untuk keluarganya.


"Ah,, kalau begitu kami akan ke rumah sakit, kita bicara nanti saja," ucap Cornelius langsung di iyakan oleh orang di seberang telepon hingga Cornelius menutup panggilan telepon itu dan dia hendak pergi ketika putrinya menghampirinya.


Viola yang terlihat begitu lemas menatap ayahnya dengan wajah muramnya, "ayah, Apakah ada berita tentang Bagas?" Tanya Viola.


Cornelius yang mendengarkan itu menghampiri putrinya lalu dia memeluk putrinya dengan hangat dan merasakan bahwa putrinya masih begitu sedih atas apa yang terjadi.


Tetapi pria itu tidak ingin putrinya terlalu lama memikirkan Bagas sehingga setelah pelukan singkat itu, dia menatap putrinya dengan penuh harap sembari berkata, "saat ini kau sedang mengandung, jadi ayah berharap kau menjaga pikiranmu, jangan sampai kau stress dan membahayakan kandunganmu. Orang-orang Ayah sedang berusaha mencari Bagas, jadi akan ada kabar, kau tidak perlu memikirkan masalah ini."


Viola yang mendengarkan itu meneteskan air matanya, karena sudah sejak beberapa waktu terakhir dia berusaha untuk tidak memikirkannya, Tetapi dia begitu takut sangat takut kalau terjadi apa-apa pada pria itu sebab sekarang entah kenapa dia merasa bersalah pada bayinya sendiri karena ayah dari bayinya kemungkinan besar telah meninggal.

__ADS_1


Sehingga, Viola kemudian berkata, "bagaimana bisa aku tidak memikirkannya ayah? Hikss hikss,, hiks,, aku tidak bisa jika tidak memikirkannya, karena pria itu adalah Ayah dari bayi yang ku kandung?!!"


Cornelius langsung membeku di tempatnya setelah mendengarkan ucapan putrinya Dan Dia benar-benar tidak menyangka bahwa ternyata ayah dari bayi yang dikandung oleh putrinya ialah Bagas??


Bagaimana bisa?


Apa yang sudah terjadi?


"Hikss,, hikss,, hiks,, ayah,, hiks,, aku,, ya,, ayah dari anak yang ke kandung adalah, Bagas, hiks,, hiks,, hiks,," Viola seketika runtuh dipelukan ayahnya saat mengatakan pengakuannya yang teramat berat untuk ia sampaikan pada orang tuanya.


Sementara Cornelius, pria itu merasakan tubuhnya langsung menjadi dingin, namun dia masih berusaha untuk menahan tubuh putrinya lalu membawanya ke sofa dan mendudukkan putrinya.


Pria itu berusaha menguasai dirinya supaya tidak marah, sebab kemarahan tidak akan menyelesaikan apapun sehingga dengan bersusah payah pria itu bersikap tenang dan berusaha mengatur nada suaranya supaya tetap tenang berbicara pada putrinya.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Ayah tidak marah, Ayah sama sekali tidak marah, jadi sekarang tenangkan dirimu sangat berbahaya bagi kandunganmu kalau kau seperti ini," ucap Cornelius yang sangat cemas apalagi ketika dokter melakukan pemeriksaan terhadap putrinya dokter berkali-kali memperingatkan mereka bahwa kondisi Viola amatlah berbahaya dan akan sangat membahayakan bayi dalam kandungannya.


Sementara saat itu, Novita yang baru saja kembali dari arisan teman-temannya sangat terkejut ketika melihat suami dan putrinya hingga dia cepat-cepat menghampiri mereka berdua.


"Ada apa ini?" Tanya Novita sembari menatap suaminya untuk meminta penjelasan.


"Jangan diam saja, ambilkan air putih untuknya!" Perintah Cornelius pada istrinya langsung membuat Novita berlari ke arah dapur lalu perempuan itu kembali lagi membawa segelas air putih di tangannya.


Novita langsung membantu putrinya untuk minum, dan setelah minum Viola merasa lebih baik lalu memeluk ibunya dengan erat.


"Maafkan aku Bu," ucap Viola berusaha menenangkan dirinya meski saat itu dia masih sesekali sesegukan.


"Jangan terus meminta maaf, yang harus kau perhatikan sekarang adalah kandunganmu!" Ucapkan Novita sembari menepuk-nepuk pundak putrinya menenangkan perempuan itu bahwa dia sama sekali tidak marah pada perempuan itu meski dia tidak mengerti apa yang membuat perempuan itu tampak sangat tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2