
"Nona, apa nona benar-benar akan menikah dengan tuan Haikal?". Tanya Lila saat menemani sarapan Anin pagi itu, Anin selalu jauhkan segala hal kepada Lila, karena Lila adalah orang yang sangat dipercayainya.
"Bukannya kamu yang menyuruh ku menikah dan memiliki anak biar hidupku tidak sendirian lagi?". Anin malah bertanya balik.
"Nona, maksud saya apa nona dan tuan Haikal itu saling mencintai, begini nona maksud....".
"Lila, tidak perlu membahas cinta denganku karena aku sama sekali tidak percaya dengan cinta, yang penting Haikal mau menikahiku dan aku bisa memiliki keturunan, iya kan?".
Ya Tuhan dia benar-benar salah paham dengan perkataanku kemarin. Tujuannya menikah hanya memiliki anak tanpa peduli dengan perasaan lelaki yang akan menikahinya, pikiran macam apa itu?, biasanya seorang lelaki yang punya pikiran seperti itu. Hah, ini semua salahku, kasihan sekali nasib tuan Haikal. Gumam Lila dalam hati.
"Nona, menikah itu membutuhkan cinta dan kasih sayang, nona mengerti kan maksud saya". Lila berbicara dengan sangat hati-hati saat ini karena takut Anin akan salah paham lagi.
"Bagaimana aku menikah karena cinta sedangkan aku sendiri tidak percaya dengan cinta. Apa seumur hidupku aku tidak perlu menikah saja? tapi aku mau memiliki anak Lila agar aku tidak kesepian".
"Tapi nona suatu saat nanti saya yakin nona akan menemukan orang yang benar-benar mencintai dan nona cintai, tidak perlu memaksa menikah seperti ini hanya untuk memiliki anak".
"Aku terlalu takut untuk jatuh cinta Lila, kenangan masa lalu itu sungguh sangat menyakitkan untukku. Aku tidak akan bisa melupakannya sampai kapanpun". Ujar Anin lirih lalu meninggalkan Lila sendirian di meja makan.
"Tidak akan mudah bagi nona Anin melupakan segalanya". Ucap Marta pelayan senior di rumah Anin.
"Nona sepertinya mengalami trauma masa lalu yang cukup berat Bu, sebenarnya apa yang terjadi di masa lalu Bu?". Tanya Lila penasaran pada wanita tua itu.
Marta menghela nafas dan raut wajahnya berubah menjadi sedih. Marta mulai bercerita tentang kejadian yang menimpa keluarga majikannya itu secara detail kepada Lila karena Marta tau kalau Lila adalah orang yang sangat di percaya oleh Anin.
Flashback 5 tahun yang lalu....
__ADS_1
"Kenapa kamu tega selingkuh dengan sekretaris kamu sendiri hah?. Apa kurang aku selama ini?. Papi selalu bersandiwara di depan mami dan Anin sebagai suami dan ayah yang sangat sempurna, tapi itu semua bohong". Ucap Lestari maminya Anin sambil berteriak histeris.
"Mi, maafkan papi mi, papi mengaku salah, papi tidak pernah bersandiwara selama ini papi benar-benar mencintai mami dan juga Anin". Jawab Masri papinya Anin.
"Cinta?. Cinta apa yang sedang papi banggakan itu,cinta apa yang tega menghianati istri dan anaknya sendiri hah?!". Ucap Lestari lagi sambil menarik kerah baju suaminya dengan emosi yang meluap-luap.
"Mi, tenanglah, jangan emosi seperti ini semua bisa kita selesaikan dengan baik-baik. Wanita itu sengaja menjebak dan menggoda papi mi".
"Pergi dari sini, pergi sekarang juga aku tidak sudi hidup lagi bersama dengan lelaki menjijikkan seperti kamu ". Lestari mendorong tubuh Masri dengan kuat.
"Mi, maafkan papi, papi tidak akan bisa hidup tanpa Anin dan mami".
"Kalau begitu mati saja kamu dan membusuk di neraka karena tidak ada kata maaf untuk penghkiat". Teriak Hastari dengan keras.
Mendengar ucapan istrinya Masri membalikkan badannya dan melangkah keluar dari kamar, dia tahu bahwa Lestari tidak akan pernah memaafkan nya lagi. Namun ketika berada di depan kamar langkahnya terhenti melihat sang putri Anin yang saat itu masih berusia 14 tahun berdiri mematung mendengar pertengkaran mereka.
"Aku sudah tidak memiliki papi lagi mulai hari ini, pergilah jangan pernah menampakan wajahmu lagi di depan kami". Ucap Anin datar tanpa ada sedikitpun air mata yang menetes karena baginya air matanya sangat berharga untuk ditumpahkan untuk seorang penghianat.
"Jaga dirimu dan mami baik-baik ya nak, papi sangat menyayangi kalian dan kalian tidak akan pernah melihat wajah papi lagi". Jawab Masri dengan lelehan air mata yang sudah tak terbendung lagi.
Nasri memacu mobilnya dengan sangat kencang meninggalkan rumahnya. Pikirannya sangat kacau dan dia tidak mampu berpikir apapun saat itu. Kata-kata Lestari selalu terngiang di kepalanya yang mengatakan kalau Lestari tidak ingin melihat wajahnya dan lebih baik kalau dia mati saja.
Baiklah mi, kalau mami ingin lihat papi mati maka papi akan menuruti semua keinginan mami itu. Gumam Masri dalam hati dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Bruuukh....
__ADS_1
Mobil Masri terjatuh begitu keras kebawah jurang setelah melayang cukup tinggi.
Boom...
Suara ledakan mobil Masri terdengar cukup keras. Mobil yang dikendarai Masri meledak dan terbakar. Lestari yang menerima kabar kecelakaan yang di alami oleh suami dari pihak kepolisian langsung bergegas menuju rumah sakit.
"Sepertinya ini bukan kecelakaan nyonya, mobil yang tuan Masri kendarai sepertinya memang sengaja terjun ke dalam jurang". Ucap seorang polisi kepada Lestari yang saat itu sedang berdiri di depan jenazah sang suami, Anin yang berada di sana juga ikut mendengarnya.
"Ini hanya kecelakaan saja bukan kesengajaan , aku hanya ingin mendengarkan hal itu". Ucap Lestari datar.
"Baik nyonya saya mengerti".
Polisi tersebut sangat mengerti yang di maksud oleh Lestari bahwa ia tidak ingin suaminya diberitakan meninggal karena bunuh diri tetapi suaminya meninggal karena kecelakaan karena pasti semua media massa dan online akan meliput tentang kematian sang pengusaha sukses di negeri ini.
"Kerahkan semua pengawal dan perketat pengamanan rumah ini dan juga pemakaman karena aku tidak mau ada selembar fotopun yang berhasil diambil oleh media". Perintah Lestari kepada salah satu pengawalnya.
"Baik nyonya, semua akan saya laksanakan sesuai perintah dan keinginan nyonya". Jawab sang pengawal.
Kamu hancurkan semua impian dan cita-citaku dan kamu pergi begitu saja meninggalkan aib yang sangat memalukan untukku dan juga anakmu. Kamu sungguh lelaki pengecut Masri, aku sangat membencimu. Batin Lestari dalam hatinya tanpa ada setetes air mata pun keluar dari matanya.
Cinta seperti apa yang selalu papi banggakan kepadaku dan juga mami. Kenapa papi tega menghancurkan semuanya hanya untuk wanita murahan itu. Batin Anin yang berada di samping ibunya dan mengingat semua memori indahnya bersama sang ayah.
Masri adalah sosok ayah yang sangat sempurna di mata Anin dan selalu bisa ia banggakan kepada teman-temannya, begitu juga dengan Lestari yang selalu membanggakan suaminya di depan para sahabatnya karena cinta yang ditunjukkan oleh Masri kepada mereka sungguh luar biasa.
"Ayo sayang, kita akan menuju pemakaman sekarang". Ucap Lestari merangkul putrinya, Anin hanya menganggukkan kepala dan mengikuti langkah Lestari.
__ADS_1
Bersambung....