
Haikal menepati perkataannya untuk membawa Maya kerumah sakit. Di sela jadwalnya yang sibuk di kantor dia tetap menyempatkan diri untuk segera membawa Maya ke dokter karena selain penasaran dengan usia kehamilan Maya, dia juga tidak tega melihat kondisi Maya yang sangat lemah akibat kehamilannya itu.
"Kondisi janin anda sehat nona, detak jantungnya juga sudah terdengar dan usia kehamilannya 10 minggu, ukurannya sekarang sudah 3 cm dengan berat kurang lebih 100 gram". Jabar dokter panjang lebar.
DEG, DEG, DEG.....
Haikal hanya fokus pada usia kehamilan yang dokter katakan dia seolah tidak mau tahu tentang apapun lagi, senyuman lebar menghiasi bibirnya. Berbeda dengan Maya yang bahkan tidak fokus dengan kalimat dari dokter tersebut karena dia hanya fokus pada rasa pusing dikepalanya.
"Benarkah dokter?". Tanya Haikal antusias dengan wajah berbinar membuat Maya yang mendengarkannya sangat terkejut karena selama ini Haikal terlihat sangat dingin pada dan juga kehamilannya itu.
"Benar tuan, semuanya sehat dan normal. Mengenai gejala yang dialami oleh nona Maya masih dalam tahapan normal dan biasanya akan menghilang dengan seiringnya waktu dan saya akan resepkan vitamin dan juga obat anti mual muntah agar kondisi nona Maya semakin membaik". Jelas dokter lagi.
"Ck, sekarang kamu tidak akan bisa mengabaikanku lagi setelah tahu aku benar-benar sedang hamil". Batin Maya sambil tersenyum sinis. Faktor kehamilannya di usia yang terbilang masih muda dan ini adalah pengalaman pertamanya hamil membuat Maya tidak curiga jika yang membuat Haikal bahagia adalah usia ke kehamilanya yang tidak sesuai dengan kejadian penjebakkan malam itu, yang dia ingin hanya Haikal menjadi ayah dari anaknya.
Haikal secara diam-diam bahkan langsung mengambil hasil USG yang diberikan dokter dan menyimpan disaku jasnya. "Yes, bukti pertama sekarang ditanganku". Batinnya dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya, sehingga baik Maya ataupun dokter beranggapan dia sedang merasa bahagia dengan kehamilan tersebut.
•••••
"Tunggulah disini dulu aku akan menebus obat dulu". Titah Haikal kepada Maya. "Dan kamu, jaga dia disini jangan kemana-mana". Kemudian ucapnya lagi kepada Rama, tentu Maya beranggapan jika Haikal sangat posesif menjaganya.
"Baik tuan". Jawab Rama singkat.
Setelah memberika resep obat ke apotik Rumah sakit tersebut Haikal langsung melesat ke ruang poli kandungan dia memanfaatkan waktu untuk bertemu dengan dokter tadi berdua saja untuk menanyakan sesuatu.
"Maaf dokter jika mengganggu waktu anda".
__ADS_1
"Tudak masalah tuan, apa ada yang bisa saya bantu".
"Emmh, begini dokter, jika seorang pria dan wanita melakukan hubungan badan sekitar 6 minggu yang lalu apa mungkin wanita tersebut bisa hamil dengan usia kehamilan 10 minggu?". Tanya Haikal serius.
Dokter wanita tersebut terkekeh geli menganggapi pertanyaan Haikal yang menurutnya konyol. "Tentu saja tidak mungkin tuan, usia kehamilan dihitung sejak hari pertama haid terakhir seorang wanita, jadi jika 1 minggu setelah hari pertama haid terakhir itu seorang wanita langsung mengalami pembuahan maka kehamilannya dihitung dari hari pertama haid terakhirnya bukan dari pertama kali dia berhubungan badan, bisa saja usia kehamilannya lebih tua 1 minggu dari hari pertama dia berhubungan badan".
"Jika perbedaannya sampai 4 minggu?"
"Tentu itu tidak mungkin tuan".
Haikal langsung lega mendengar jawaban dari dokter, sekarang semangat bertambah 10 kali lipat karena jalan dia untuk bersatu dengan sang istri semakin terbuka lebar. "Terima kasih dokter, saya permisi dulu". Haikal menjabat tangan penuh semangat meninggalkan begitu saja dokter yang masih menatapnnya bingung.
"Aneh". Gumam dokter cantik itu.
•••••
"Ck, bahkan ini adalah ucapan selamat teraneh didunia bukan?".
"Tidak aneh tuan, saya ikut bahagia karena sebentar lagi anda bisa berkumpul kembali dengan istri anda".
"Sejak kapan istri bodoh, dia wanita yang cerdas dan keras kepala meskipun dia percaya itu bukan anakku dia tetap menganggap aku telah mengkhianati pernikahan kami karena foto-foto yang Maya ambil malam itu adalah foto asli".
"Benar juga".
"Tentu saja, dan sekarang giliranmu menunjukkan kelayakanmu untuk tetap menjadi asistenku selalu".
__ADS_1
"Maksud anda tuan?". Tanya Rama bingung.
"Maksudku adalah cari bukti rekaman CCTV club dimana tempat Marvin Corp mengadakan pesta malam itu, aku ingin melihat siapa yang sengaja membuatku mabuk dan tidak sadarkan diri. Sangat tidak mungkin jika Maya berkerja sendirian tentu ada yang membantunya apalagi untuk membawaku sampai kehotel". Jelas Haikal panjang lebar.
"Baik saya mengerti tuan".
"Dapatkan rekaman CCTV malam itu bagaimanapun caranya".
Rama mulai melakukan pekerjaan yang diperintahkan Haikal kepadanya, malam itu dia sedang berada diruang CCTV milik salah satu club terkenal yang di booking oleh perusahaan Marvin Corp malam itu, setelah mengotak-atik komputer diruangan tersebut ternyata hasilnya nihil.
"Maaf tuan, saya juga tidak mengerti bagaimana bisa file pada tanggal yang anda cari bisa hilang". Ucapan petugas itu membuat Rama sangat geram ternyata musuh yang dihadapi tuannya cukup licik dilihat dari cara kerjanya yang sangat halus.
Rama tidak berhenti sampai disitu, dia tidak kehabisan akal karena dia masih memiliki harapa pada kamera CCTV yang berada dihotel tempat Haikal menginap malam itu. Lagi-lagi Rama harus menelan pil pahit meskipun rekaman CCTV do hotel teraebut tidak ada yang menghapus namun dia tidak dapat mengenali wajah seorang pria yang memapah tubuh Haikal untuk masuk kedalam kamar bersama Maya, hal tersebut karena sng pria menggunakan topi juga masker untuk menutupi wajahnya.
•••••
"Aaaa". Haikal berteriak cukup kencang sambil menjambak rambunya. Dia frustasi menghadapi jalan buntu dihadapannya saat ini.
"Kal, loe harus tenang, gue jadi nggak kenal lagi sama loe yang sekarang yang hobynya marah-marah terusbpadahal dulu loe kan yang paling tenang diantara kita bertiga". Nino mencoba menenangkan sahabatnya itu. Setelah mendapat kabar dari Haikal, Nino dan Rian sepakat bertemu di kantor Haikal untuk memikirkan rencana selanjutnya.
"Tapi apa yang harus gue lakukan searang No?" Tanya Haikal frustasi.
"Loe tenang aja serahkan semuanya sama gue". Ucap Rian dengan wajah penuh misterius. Haikal sangat tahu jika sorang Rian Mahendra memang melakukan apa saja ketika dia menginginkan sesuatu. Rian adalah anak salah satu konglomerat terpandang yang sangat disegani dikota itu bukan tanpa alasan karena sang ayah yang terkenal sebagai mantan mafia yang sangat ditakuti oleh banyak orang, meskipun seorang mantan mafia namun ayah Rian memiliki banyak kenalan orang-orang yang bisa di andalkan dalam berbagai hal.
Rian mengambil handphone dari saku jasnya dan menghubungi seseorang diseberang sana. "Lakukan sekarang, bawa apadaku apapun petunjuk yang kalian dapatkan". Ucapnya dingin, pesona seorang mafia dari sang ayah juga sepertinya menurun kepadanya. Membuat Nino bergidik ngeri membayangkan apa yang bisa dilakukan Rian selanjutnya.
__ADS_1
•••••