
Haikal sudah terlambat masuk ke kantor karena harus memastikan kalau istrinya sarapan dan minum dengan baik. Dia kemudian langsung menuju ruangan Darmadi karena memang ada urusan yang harus dia selesaikan. Ketika dia hendak mengetuk pintu namun dia urungkan karena sepertinya Darmadi sedang ada tamu.
"Pa, lihat hari ini Haikal tidak masuk kerja lagi, sudah jam segini dia belum kelihatan dikantor. Pasti dia sudah dijebak oleh Anin untuk tidak masuk kerja hari ini. Aku tidak bisa terima, pokoknya papa harus melakukan sesuatu pa". Sayup-sayup Haikal mendengar ucapan tersebut yang ternyata diucapkan oleh Maya.
"Sabar sayang, kenapa sangat peduli pada hubungan Haikal dan Anin?". Tanya Darmadi kepada putrinya.
"Pa, Aku bukan hanya sekedar peduli, tapi aku mencintai Haikal pa".
"Apa?, sayang Haikal itu suami orang, memangnya kamu mau jadi perebut suami orang?".
"Papa, Haikal menikah sama Anin bukan karena cinta pasti Anin melakukan sesuatu supaya Haikal mau menikahinya".
"Dari mana kamu tahu semua itu?".
"Papa kan kenal Anin, dia tidak pernah mencintai siapapun di dunia ini melainkan hanya dirinya sendiri".
"Lalu apa yang harus Papa lakukan untuk kamu?".
"Papa harus hancurkan perusahaan Anin, tapi papa jangan lakukan dengan tangan papa sendiri, buat seolah-olah Haikal yang melakukannya karena dengan begitu Anin akan membenci Haikal dan akan menceraikan Haikal".
"Baiklah kalau hal itu membuat putri papa yang cantik ini bahagia tapi papa tidak janji karena papa juga sebenarnya tidak suka jika kamu menyukai pria yang sudah beristri masih banyak pria lain diluar sana sayang". Ujar Darmadi.
Aku tidak menyangka kalau kamu selicik ini Maya. Berarti keputusan aku untuk resign dari perusahaan ini tidak salah, aku tidak bisa terus-menerus kerja bersama dengan orang-orang licik seperti mereka apalagi mereka berniat menghancurkan istriku sendiri. Batin Haikal sambil membolak-balikkan amplop coklat berisi surat pengunduran dirinya.
Haikal membuka pintu dengan kasar sehingga terbuka lebar.
"Sayangnya rencana kalian itu tidak akan berjalan dengan lancar karena aku sudah mendengar semuanya". Ujarnya Haikal dengan raut muka terlihat sangat marah.
"Haikal". Seru Darmadi, Maya langsung menutup mulutnya dengan tangan.
"Kak Haikal, ini semua tidak seperti yang kakak dengar". Maya mencoba menjelaskan.
"Cukup, aku sudah mengetahui semuanya dan ini surat pengunduran diri saya pak, saya sudah tidak bisa kerja di perusahaan ini lagi".
"Apa?, Haikal jangan ambil tindakan gegabah seperti ini, kamu pikirkan dulu keputusan kamu ini dan masalah yang kamu dengar tadi saya minta maaf, saya akan memberikan pengertian kepada Maya agar berhenti mengganggu istri kamu".
"Maaf tuan, keputusan saya udah bulat, saya udah putuskan untuk berhenti bekerja disini karena istri saya juga membutuhkan saya di perusahaannya, saya permisi dulu". Haikal membalikkan badan dan keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Pa, gimana ini?". Tanya Maya kepada papanya. "Kak, tunggu dulu". Kemudian Maya mencoba menghentikan langkah Haikal dengan menarik tangannya.
"Ada apa lagi May, aku harus segera pulang istriku sedang menungguku dirumah".
"Istri, istri, istri lagi. Aku bosan mendengar kakak manggil Anin dengan sebutan itu".
"Itu kenyataannya May, Anin itu istriku dan selama akan menjadi istriku".
"Dia hanya istri diatas selembar kertas saja".
"Kamu salah May".
"Kak, aku hanya yang mencintaimu dengan tulus, Anin tidak pernah cinta sama kakak dia hanya memanfaatkan kakak saja".
"Dan aku tidak peduli May, tolong jangan masuk terlalu jauh kedalam permasalahan rumah tanggaku, kamu masih muda May, akan ada lelaki yang jauh lebih baik dariku diluar sana yang mengingikanmu. Lupakan aku, aku suami orang dan aku sangat mencintai istriku". Haikal memberikan penekanan atas kepemilikan hatinya dan statusnya dengan Anin.
"Apa?, kakak sudah mulai terjebak dalam perasaan yang salah, Anin itu wanita yang sangat licik kak dia tidak pantas mendapatkan cinta kakak".
"Cukup, jangan sampai kita tidak bisa berteman lagi setelah ini". Tegas Haikal lalu pergi meninggalkan Maya yang masih mematung dengan tetesan air mata di pipinya.
"Aku tidak akan pernah menyerah begitu saja, aku akan mendapatkanmu Haikal bagaimanapun caranya". Ujarnya sambil menyeka air matanya dengan kasar.
°°°°°
Setiba dirmah Haikal langsung menuju kamar untuk memastikan jika Anin masih berada dikamarnya dan tidak pergi ke kantor.
"Hai". Haikal menyapa Anin yang baru bangun dari tidurnya.
"Kamu sudah pulang?". Tanya Anin dan Haikal menganggukkan kepala.
"Aku sudah pulang 1 jam yang lalu, mana mungkin aku bisa jauh-jauh dari istriku yang sedang sakit". Jawab Haikal.
"Haah, aku pasti ketiduran lagi ya makanya tidak tau kalau kamu sudah pulang, lagian aku tidak dibolehin kemana-mana sama kamu jadi kerjaanku hanya tiduran saja". Sambung Anin lagi.
"Good girl, itu berarti istirahat kamu cukup dan kamu akan cepat sembuh".
"Aku sudah tidak apa-apa, Aku sudah sehat hanya karena bosan tidak melakukan apapun makanya aku ketiduran lagi".
__ADS_1
"Beneran sudah sembuh?, coba sini aku liat keningnya masih panas tidak?". Haikal kemudian mendekati Anin dan mencium keningnya. Anin kembali salah tingkah dengan perlakuan Haikal itu namun disisi lain dia sangat bahagia.
"Oh ya, keningnya sudah tidak panas lagi, kalau begitu ayo kita makan siang". Haikal menyibakkan selimut Anin dan hendak menggendongnya.
"Haikal kamu mau apa?". Tanya Anin terkejut.
"Gendong kamu ke meja makan".
"Haikal, tidaj perlu, aku bisa jalan sendiri, aku malu jika orang rumah melihatnya".
"Kenapa mesti malu? yang aku gendong kan istri aku sendiri bukan istri orang".
"Tapi Haikal ini sangat berlebihan".
"Untuk sepasang suami istri tidak ada yang berlebihan karena kita sudah sah dan halal". Ucap Haikal sambil mengedipkan satu matanya.
"Haikal turunkan aku, aku malu Haikal".
"Oh jadi kamu malu sama suami kamu sendiri, ya sudah kalau begitu aku gendong perempuan lain aja yang tidakk malu sama aku". Haikal hendak menurunkan Anin namun dengan cepat Anin melarangnya.
"Eits, jangan turunkan aku, ayo kita makan". Ujar Anin dengan wajah yang merah merona menahan rasa malu.
Ternyata kamu takut kalau aku sampai gendong perempuan lain, itu artinya kamu takut kehilangan aku Anin dan aku bahagia mendengarnya. Batin Haikal sambil tersenyum licik dan menggendong anak turun lantai bawah menuju meja makan.
Benar seperti dugaan Anin, semua para pelayan yang menyaksikan Haikal menggendongnya dengan ala bridal itu terkejut dan senyum-senyum sendiri karena selama ini mereka tidak pernah melihat Anin dan Haikal bermesraan di depan mereka, termasuk Lila yang baru saja tiba di rumah Anin untuk melihat kondisi Anin. Seperti biasa Lila tidak pernah lupa mengabadikan momen manis pasangan yang menurutnya sangat bucin itu dengan ponselnya.
Anin membenamkan wajahnya di dada bidang Haikal karena merasa sangat malu melihat ekspresi para pelayannya itu.
"Apa nona Anin belum juga sehat tuan?. Apa perlu saya panggilkan dokter?". Tanya Lila pura-pura tidak tahu jika Anin sebenarnya sudah sembuh.
"Tidak perlu, Anin cuma lagi manja saja dan ingin di gendong, iya kan sayang?". Tanya Haikal tertawa nakal dan Anin langsung menatap Haikal dengan tatapan tajam yang di sambut gelak tawa Lila dan juga Bu Marta.
***MERDEKA 💪
DIRGAHAYU INDONESIAKU 🇮🇩💞
#saleumaneuknanggroe***
__ADS_1