
"Sudah siap?". Tanya Haikal melihat Anin keluar dari kamar rahasia.
"Sudah, mari kita sarapan, tapi dimana sarapannya kenapa Lila bisa ceroboh begini?". Tanya Anin melihat tidak ada makanan yang disediakan oleh Lila sesuai dengan pesanannya.
"Aku tidak mau makan di sini aku makan di sana saja yuk".
"Disana? maksudnya di luar?". Tanya Anin.
"Di kantin kantor, untuk apa keluar kantor ini kan punya kantin".
"Kantin?, aku tidak mau makan di kantin".
"Kenapa?".
"Aku tidak mau saja, aku tidak pernah makan di sana".
"Kalau begilitu mari kita coba makan disana. Aku dengar makanan disana sangat lezat".
"Aku tidaak mau". Jawab Anin ketus.
"Ya sudah aku pergi sendiri saja".
"Pergi saja".
"Benar kamu tidak mau ikut? nanti aku jadi bahan omongan semua karyawan kamu, masa suaminya makan sendiri di kantin istrinya tidak mau menemani, kamu mau seperti itu?".
"Ya sudah kita pesan dan makan disini saja".
"Aku maunya di kantin".
"Tapi Haikal".
"jadi begini cara kamu berterima kasih kepadaku yang sudah menemni kamu semalaman tidur di sini, kamu mau buat aku mati kelaparan karena belum sarapan". Haikal memasang wajah memelas.
"Haikal".
"Ayo". Haikal langsung menarik tangan Anin menuju kantin.
Haikal menggenggam tangan Anin dengan sangat mesra, setiap mata memandang pasti tidak menyangka jika mereka menikah tanpa didasari oleh rasa cinta. Bahkan Anin sendiri merasa sedikit aneh dengan perlakuan manis Haikal terhadapnya, padahal selama ini mereka sering bersandiwara untuk melakukan hal tersebut.
__ADS_1
"Haikal, ini kantor kamu tidak perlu bersandiwara seperti ini, meskipun kita tidak terlihat mesra pasti karyawanku akan memaklumi karena kita sedang berada di tempat formal". Ujar Anin.
"Aku sedang menjalani peranku sebagai seorang suami, bukan sedang bersandiwara untuk meyakinkan semua orang". Jawab Haikal sambil menatap Anin dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Maksudnya?". Tanya Anin bingung.
Haikal jangan lakukan hal yang sebenarnya kamu sendiri tidak pernah mau melakukannya seperti ini, aku takut jika aku benar-benar akan jatuh dalam rasa sakit karena perasaan yang selama ini sangat aku hindari itu. Gumam Anin dalam hati.
Haikal tidak menjawab dia hanya tersenyum dan terus menuntun Anin untuk berjalan beriringan dengannya menuju kantin.
Semua karyawan yang berada di kantin spontan berdiri melihat kedatangan Anin dan Haikal ke kantin karena seperti yang sudah dikatakan oleh Anin jika dia tidak pernah menginjakkan kakinya di kantin. Mereka semua merasa takut apakah ada kesalahan yang mereka lakukan sehingga membuat Anin datang ke kantin.
"Selamat pagi semua, maaf mengganggu sarapan kalian silahkan duduk aja tidak perlu sungkan, karena saya dan istri saya juga mau sarapan sama-sama dengan kalian disini, iya kan sayang?". Sapa Haikal melihat reaksi karyawan Anin seperti ketakutan dengan kehadiran mereka disana.
"Pa-pagi juga tuan, nona". Jawab mereka kompak lalu kembali duduk meskipun merasa canggung.
Haikal membukakan kursi untuk Anin dan mempersilahkan Anin untuk duduk.
"Silahkan duduk sayang". Ujarnya seolah penuh cinta.
"Oh my god, suaminya nona Anin ternyata selain ganteng orang juga romantis banget ya, beruntung banget nona Anin punya suami kayak dia".
"Tuan muda ramah banget ya, aku pikir suaminya nona Anin dingin dan menyeramkan*". Bisikan demi bisikan itu terus terdengar sepanjang pasangan suami istri itu makan di kantin dengan sangat romantis, bahkan Haikal juga tidak segan menyuapkan makanan kepada Anin.
Setelah menyelesaikan sarapannya mereka pun kembali ke ruangan Anin.
"Kenapa kamu mengikutiku kesini, kamu tidak ke kantor?". Tanya Anin kepada Haikal yang terus membuntuti.
"Tidak, hari ini aku mau disini saja seharian". Jawab Haikal singkat.
"Memangnya apa yang akan kamu lakukan disini?". Tanya Anin lagi.
"Menemanimu". Jawab Haikal singkat.
"Kenapa harus di temani?, aku sudah terbiasa sendiri selama ini".
"Memangnya tidak boleh ya suami menemani istrinya kerja". Lagi-lagi ketika Haikal menegaskan status di antara mereka membuat jantung Anin berdetak tak karuan.
"Tentu saja boleh, cuma kamu kan juga punya pekerjaan sendiri yang biasanya tidak pernah kamu tinggalkan, jadi mana mungkinkalau tiba-tiba kamu mau menemani aku disini".
__ADS_1
"sudah tidakak usah di bahas pekerjaan lagi, karena sekarang yang penting adalah tentang perusahaan ini".
"Perusahaan ini kenapa memangnya?". Tanya Anin.
"Aku sudah tau semuanya Anin, jadi aku akan membantumu untuk menyusun strategi supaya perusahaan ini failed". Jawab Haikal.
"Pasti Lila yang sudah menceritakan semuanya kan?". Tanya Anin menyelidiki.
"Harusnya aku tau dari kamu bukan dari Lila".
"Tapi kamu sendiri yang selalu menolak untuk bekerja di perusahaan ini Haikal, jadi aku pikir kamu tidak akan pernah peduli dengan apapun yang terjadi di perusahaan ini, lagian ini semua tanggung jawab aku jadi kamu tidak perlu terbebani dengan ini semua".
"Dan kamu adalah tanggung jawab aku Anin, aku memang tidak mau kerja di sini, tapi bukan berarti aku tidak peduli dengan perusahaan ini, berhenti berdebat karena kita membutuhkan banyak waktu untuk menyusun strategi agar perusahaan ini bangkit lagi". Haikal kemudian langsung masuk ke ruangan Anin tanpa menunggu persetujuan Anin lagi.
Anin tersenyum lirih karena menyadari jika masih ada seseorang yang peduli dengannya.
Untuk pertama kalinya aku merasa aku bisa mengandalkan seseorang di hidupku Haikal, selain Lila tentunya. Terima kasih karena telah hadir di saat aku merasa sendiri. Batinnya.
°°°°°
Di kantor perusahaan Wijaya ada seseorang yang tidak tenang karena Haikal yang tidak menampakkan batang hidungnya di kantor hari itu dan dia adalah Maya.
"Pa Haikal kemana?". Tanya Maya yang memasuki ruangan Darmadi tanpa permisi itu.
"Kamu ini, pagi-pagi sudah uring-uringan begitu mencari Haikal, ya mana papa tau, cari saja di ruangannya". Jawab Darmadi.
"Tidak ada Pa, semua orang yang aku tanya katanya Haikal belum datang makanya aku tanya ke papa mungkin aja Haikal ada hubungin papa dan memberi tahu kenapa dia belum datang sampai jam segini".
"Haikal juga sama sekali tidak menghubungi papa, kemana anak itu kenapa dia tidak masuk kerja hari ini, apa terjadi sesuatu sama dia?". Tanya Darmadi penasaran.
"Kok Papa malah balik bertanya, aku juga tidak tau Pa, aku dari tadi udah coba untuk menghubunginya tapi ponselnya tidak aktif".
"Apa mungkin dia sakit makanya dia tidak masuk kerja ya?". Darmadi tampak berpikir.
Tidak mungkin kalau Haikal sakit, aku malah tidak takut kalau Haikal sakit aku lebih takut kalau alasan dia tidak masuk kerja karena Anin. Anin kan licik dia bisa melakukan apa saja untuk membuat Haikal terus berada di sampingnya dan menuruti semua keinginan nya. Batin Maya.
**Bersambung....
Ayo bantu aku like dan vote ya, karena like dan vote itu gratis jadi nggak ada ruginya kamu bantuin aku 🤭💖**
__ADS_1