
Disisi lain Maya yang baru pulang dari kantor terlihat sangat pucat, dengan gejala kehamilan di trimester pertama yang harus dihadapinya sungguh bukan hal mudah baginya untuk menjalani aktifitas seperti biasanya. Darmadi tampak sangat khawatir dengan kondisi anaknya tersebut hingga dia menyarankan agar memanggil dokter untuk memeriksa Maya, namun ditolak Maya dengan halus agar sang ayah tidak curiga dengan kehamilannya itu.
"May, sepertinya kamu kurang sehat wajahmu sangat pucat nak, papa panggikan dokter ya?". Tanya Darmadi lembut.
"Tidak perlu pa, Maya hanya kelelahan dan butuh istirahat yang cukup saja".
"Baiklah kalau begitu ganti bajumu dan istirahatlah". Maya hanya menanggapinya dengan anggukan, namun belum juga Maya melangkah jauh tiba-tiba dia tergeletak tak sadarkan diri dilantai.
BURGH.....
"Maya". Teriak Darmadi. "May, kamu kenapa sayang?". Lalu menepuk pipi anaknya. "Bibi, tolong panggil dokter secepatnya". Teriaknya lagi.
Setelah melakukan pemeriksaan dokter menuliskan resep untuk Maya dan menyerahkanbya kepada Darmadi.
"Nona Maya mungkin kelelahan dan stres hal tersebut sangat harus dihindari pada wanita hamil".
"Hamil?". Tanya Darmadi bingung.
"Iya tuan, apakah anda tidak mengetahuinya?. Nona Maya saat ini tengah mengandung dan usia kehamilannya sudah 10 minggu". Darmadi hanya mematung mendengar tanggapan sang dokter, pikiran berkecamuk mencoba untuk mencerna apa yang diucapkan oleh dokter tadi.
"Maaf tuan, saya permisi dulu, saya ada janji dengan pasien lain". Ujar dokter lagi ketika melihat Darmadi masih mematung dengan air mata yang sudah tergenang dipelupuk matanya. Dokter merasa tidak enak karena mungkin kabar yang diucapkannya adalah sebuah kesalahan.
Darmadi mengutuk dirinya didalam hati bagaimana dia bisa lalai menjaga anak satu-satunya itu. Memori diotaknya kembali berputar kala mengingat jika wajah putrinya memang sering terlihat pucat akhir-akhir ini dengan tubuh yang yang terlihat cukup lemah bahkan Maya juga sering muntah-muntah namun Darmadi pikir itu hanya karena Maya kelelahan saja.
Seandainya waktu bisa diulang kembali maka dia sendiri yang akan mengikuti Maya ketika Maya masih hoby mabuk-mabukkan. Penyesalan demi penyesalan terus mengisi relung hatinya apalagi membayangkan jika putrinya yang masih terhitung sangat muda akan memiliki seorang anak tanpa suami.
•••••
"Katakan siapa yang melakukannya?". Darmadi langsung memberondong pertanyaan begitu melihat Maya mengerjapkan matanya.
__ADS_1
"Papa, apa Maya pingsan". Maya masih mencoba mengumpulkan kesadaran sehingga dia tidak begitu memperhatikan wajah ayahnya yang penuh amarah.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, cepat katakan siapa yang melakukannya". Maya mendengar dengan jelas pertanyaan itu dan melihat mimik wajak ayahnya dia sudah bisa membaca situasi jika Darmadi mungkin sudah tahu tentang kehamilannya.
"Apa maksud papa?". Meskipun sudah tahu ayahnya seperti akan menelan hidup-hidup pria yang sudah mehamilinya namun dia ingin terlihat tetap tenang.
"Apa aku harus mengulang pertanyaanku untuk kesekian kalinya Maya?". Darmadi sudah tudak dapat meredam emosinya sehingga dia berteriak cukup kerja sehingga suaranya menggema diseluruh ruangan, hal itu sontak membuat nyali Maya menciut sekitka dia sangat terkejut dengan teriakan ayah karena selama ini Darmadi tidak pernah kasar padanya.
Maya di perlakuan layaknya seorang putri raja oleh Darmadi, karena Darmadi tidak ingin putri satu-satunya itu kekurangan kasih sayang karena ibunya meninggal saat melahirkan Maya.
"Ma-maafkan Maya pa". Jawab Maya terbata-bata.
"Haaah, apa salahku Tuhan, anak yang sangat aku cintai tega mengecewakanku".
"Pa, maafkan Maya, Maya sangat menyesalinya".
Maya bangkit dari tempat tidur lalu mendekat kepada Darmadi dan memeluknya sambil menangis segugukan. Darmadi langsung menghempaskan tubuh Maya agar menjauh darinya dan mencengkram lengan Maya dengan sangat kuat sehingga Maya meringis kesakitan.
"Capet katakan siapa dia, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri". Ujar Darmadi penuh penekanan.
"A-aku tidak tahu". Mendengar jawaban Maya Darmadi spontan makin mengeratkan cengkraman tangannya sehingga tidak bahkan tidak peduli dengan keluhan yang keluar dari mulut Maya karena nyatanya rasa sakit dihatinya lebih dari yang Maya rasakan saat ini.
Darmadi kemudian menghempaskan genggamannya dari lengan Maya dan "PLAAAK" sebuah tamparan yang sangat keras mendarat dipipi mulus milik maya.
"Berapa pria yang sudah kamu serahkah tubuhmu sehingga kamu tidak tahu anak siapa yang sedang kamu kandung". Bulir cairan bening menetes begitu saja tanpa permisi dan kali ini bukan hanya dari mata Maya namun juga dari mata Darmadi.
Pertahanan runtuh seiring dengan rasa kecewanya terhadap anak kesayangan itu. Kedua kakinya sudah tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya sendiri, Darmadi bersimpuh dilantai menangis sejadi-jadinya begitupun dengan Maya. Hal yang tidak pernah dia inginkan bahkan untuk membayangkan saja tidak pernah berani sekarang terjadi didalam hidupnya.
Maya gadis ceria yang tidak pernah bertingkah aneh apalagi menyusahkan ayahnya yang mengurus dan membesarkannya sejak bayi sendirian. Gadis ceria dan baik hati bahkan dengan limpahan harta dan segala fasilitas yang dia miliki tidak pernah membuat dirinya berbangga diri justru dia adalah gadis yang rendah hati namun hari ini semua itu seolah topeng belaka, semua hanya tipu daya untuk menutupi keburukan aslinya saja, begitulah yang dipikir Darmadi saat ini.
__ADS_1
Dalam tangisnya Darmadi juga bertanya-tanya dimanakah letak kesalahan yang dia lakukan selama ini dalam mendidik anaknya karena semua yang diberikan kepada Maya adalah yang terbaik namun kenapa rasanya begitu besar cobaan yang harus dihadapi olehnya.
"Jika kamu masih menganggapku sebagai ayahmu maka katakanlah siapa yang melakukannya namun jika tidak maka pergilah dari rumah ini dan anggap jika kamu adalah anak yatim piatu". Darmadi menghela napas kasar dan menghapus air matanya kemudian mengeluarkan kalimat itu dengan datar dari mulutnya.
"Aku tidak bisa mengatakannya pa". Jawaban singkat Maya itu membuat mata Darmadi kembali terpejam seolah sedang meredam sekuat mungkin emosi dijiwanya agar tidak menyakiti putrinya lagi.
"Baiklah, kalau itu maumu maka aku beri waktu 2 jam untuk membereskan semua barang-barangmu lalu angkat kaki dari rumah ini dan jangan bawa apapun fasilitas yang aku berikan". Ujat Darmadi sembari meninggalkan kamar Maya.
Maya berlari mengejar sang ayah dan bersimpuh dikakinya. "Maya mohon pa, jangan usir Maya, cuma papa yang Maya punya saat ini".
"Aku tidak akan mengulangi lagi pertanyaanku".
"Ba-baiklah, Maya akan mengatakannya tapi paoa janji jangan sakiti siapapun pria itu". Darmadi sama sekali tidak menanggapi atau bahkan menyanggupi apa yang Maya katakan.
"Haikal". Jawab Maya singkat. Seperti disambar petir Darmadi langsung mencengkram kedua lengan Maya dengan kuat membawanya berdiri dari kakinya.
"Kamu pikir ini lelucon hah?".
"Ma-maya serius pa". Lagi-lagi nyali Maya menciut melihat kemarahan Darmadi, bagaimana tidak selama ini Darmadi adalah sosok ayah yang sangat lembut dimatanya.
"Katakan sejujurnya apa kamu menjebaknya hah?". Maya hanya diam tidak tahu harus menjawab apa. "Tatap mataku dan katakan apa kamu menjebaknya?".
"Ti-tidak pa". Mendengar jawaban itu Darmadi menghempaskan lagi tubuh Maya dengan keras lalu pergi begitu saja kemudian dia menghubungi seseorang melalui sambungan telepon.
•••••
Happy weekend guys 🤗
semoga weekend kalian menyenangkan yaa 💖
__ADS_1