
Haikal kerap menghabiskan waktunya di kantor demi kembali menstabilkan keadaan perusahaan seperti semula, sedangkan Anin lebih fokus menjalani kuliahnya yang sudah memasuki tahap akhir. Meskipun mereka tinggal serumah namun membuat mereka jarang berjumpa karena aktifitas yang padat, Haikal selalu pulang ketika Anin sudah tertidur.
Haikal terbangun untuk shalat subuh dan mendapati istrinya sudah tidak berada di sampingnya lagi, kemudian dia beranjak dari tempat tidur dan mencari keberadaan Anin.
"Sayang, kamu dimana?". Ujar Haikal sambil mencari Anin. Kemudian Haikal terkejut melihat Anin yang sedang melaksanakan shalat subuh.
Ya Allah ternyata dia lagi shalat, Alhamdulillah sekarang kamu terbiasa melakukan shalat sayang, aku harap kamu selalu istiqomah. Batin Haikal sambil tersenyum melihat istrinya lalu beranjank ingin meninggalkan Anin, namun langsung diurungkan.
Dia shalat? berarti dia sudah suci?. Batin Haikal lagi.
"Kamu sudah bangun?". Tanya Anin membuyarkan lamunan Haikal.
"Sayang, kamu shalat?".
"Iya, aku tenang dengan melakukan shalat, benar seperti yang kamu katakan". Jawab Anin.
"Sayang bukan itu, kamu sudah shalat dan kamu mengatakannya padaku". Ucap Haikal dengan tatapan mengintimidasi.
"Jadi aku harus laporan dulu kalau mau shalat yaa?".
"Bukan itu....".
"Oh, kamu mau kita shalat berjamaah ya, maaf ya aku tadi tidak membangunkanmu karena kamu tertidur sangat pulas pasti kamu sangat kelelahan jadi aku tidak tega, jadi aku biarkan kamu tidur sebentar lagi baru setelah itu aku berencana membangunkamu".
Haikal langsung menarik Anin kedalam pelukannya dan menatap wajah Anin dengan tatapan yang sangat dalam.
"Aku sudah menantikan malam indah kita sangat lama sayang, kamu mengerti tidak, heeem?". Tanya Haikal kepada Anin.
Anin tidak menjawab apa-apa karena dia masih sangat canggung dengan keadaan itu, Haikal mendekatkan bibirnya ke bibir Anin namun dengan sigap Anin mendorong Haikal sehingga tubuhnya menjauh.
"Haikal, kamu belum shalat, bisa-bisa waktu subuh habis". Ujar Anin.
Haikal menepuk dahinya karena kesal. "Ya Allah, oke sayang aku shalat dulu ya, tapi kamu tidak boleh kemana-mana ya, hari ini kamu milikku". Mendengar hal itu membuat wajah Anin merah merona karna malu.
*****
Setelah selesai melaksanakan shalat subuh nya Haikal langsung mencari keberadaan istrinya namun sudah beberapa kali dia berkeliling dia tidak juga mendapati keberadaan Anin.
__ADS_1
"Kemana dia?, padahal aku kan sudah mengatakan untuk tidak kemana-mana, dia pasti sedang menyiapkan sarapan". Gumam Haikal.
Haikal pun meraih ponselnya dan membuat panggilan untuk Anin namun ternyata Anin meninggalkan ponselnya didalam kamar.
"Huuuft, masak iya aku harus turun kebawah dan mengajak Anin ke kamar lagi, mau di taruh dimana wajahku ini di depan para pelayan". Haikal sangat kesal karena Anin tidak mendengarkannya untuk tetap berada di kamar.
Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu, tanpa berpikir panjang Haikal langsung meluncur kearah pintu karna berharap Aninlah yang datang, namun lagi-lagi dia harus merasa kecewa karna ternyata yang datang adalah salah seorang pelayan yang meminta Haikal untuk turun karna sarapan sudah siap dan Anin juga sudah menunggunya di meja makan.
Haikal tersenyum kecut dan menyiakan permintaan dari sang pelayan.
Sebaiknya aku turun dan sarapan dulu bersama Anin dan kemudian aku dan Anin bisa bersama-sama kembali ke kamar. Batin Haikal sambil tersenyum nakal.
*****
Haikal terlihat sangat lahap menghabiskan sarapannya sehingga membuat Anin bingung.
"Haikal pelan-pelan saja makannya".
"Aku sangat bersemangat pagi ini sayang, kamu tidak akan kemana-mana kan hari ini, karena aku juga berencana untuk tidak masuk kantor". Jawab Haikal.
"Emmh, sebernanya aku harus mengurus beberapa hal di kampus karena tidak lama lagi aku kan udah wisuda".
Bluuush....
Seketika wajah Anin merah merona mendengar ucapan mesuum suaminya itu.
••••••
Haikal langsung menggendong istrinya ketika mereka menyelesaikan sarapan masing-masing. Haikal merebahkan tubuh Anin di atas tempat tidur dan menguncinya seakan tidak ingin melepaskan Anin walau hanya sedetikpun.
"Sayang, maukah kamu menjadi istriku seutuhnya?. Aku tahu rumah tangga kita bukan seperti rumah tangga pada umumnya namun aku ingin rumah tangga kita sampai maut memisahkan hanya ada aku dan kamu selamanya". Ucap Haikal dengan sangat lembut sambil menatap manik mata Anin. Tangannya membelai lembut wajah sang istri membuat Anin melayang dan tidak mampu berkata-kata.
Melihat wajah pasrah sang istri Haikal langsung melancarkan aksinya. dia sangat ingin menjadikan Anin miliknya seutuhnya agar Anin tidak berani meninggalkannya. Bibir Haikal menyapu setiap jengkal wajah sang istri dengan sangat lembut hingga dia membungkam Anin dengan bibirnya. Mereka saling mengesap, membelit dan tarik menarik seolah tidak ingin lepas.
Esapan Haikal terus menurun di titik sensitif istrinya dan menikmati buah yang abadi selalu bergantung dipohonnya sehingga tanpa sadar Anin terus mengeluarkan suara seksi nan menggoda bagi Haikal membuat dia sangat bersemangat untuk melanjutkan aktifitas yang tidak hanya menguras keringat di kulit tubuh masing-masing tetapi juga menguras cairan lain sebagai tanda kepuasan bagi seluruh anak manusia.
Tok, tok, tok...
__ADS_1
Suara ketuka pintu seolah tidak ada artinya sama sekali bagi kedua insan yang masih betah saling memberi di atas tempat tidur sampai....
Tok, tok, tok...
Suara ketukan itu terdengar semakin keras sehingga mau tidak mau Haikal harus menghentikan aktifitasnya dan melirik pintu kamarnya.
"Aaghh, mengganggu saja, semoga itu bukan Lila atau pelayan wanita agar aku bisa memarahinya". Gerutu Haikal dalam hati.
"Buka dulu pintunya, mungkin itu penting". Ujar Anin mendorong tubuh Haikal agar menjauh dari tubuhnya.
Mau tidak mau dia bangun dari pembaringan nyamannya dengan sangat kesal dan membuka pintu. Melihat objek yang tepat di depan pintu membuat mengendus kesal karena benar tebakannya jika itu adalah Lila sehingga dia tidak mungkin memarahi seorang wanita.
"Maaf mengganggu Tuan". Ujar Lila tanpa dosa.
"Kamu memang sangat mengganggu, cepat katakan ada apa?, awas saja jika tidak penting".
"Tentu saja penting, apa Tuan melupakan pertemuan penting kita hari ini?".
"Pertemuan penting?". Tanya Haikal bingung.
"Tentu saja ini sangat penting tuan, kita ada pertemuan dengan tuan Marvin satu jam lagi".
"Apa?, tuan Marvin". Haikal menepuk keningnya. "Kenapa kamu tidak mengingatkanku lagi, Bahkan dia datang dari jauh langsung dari luar negeri untuk bertemu dengan kita". Ya, hari ini pertemuan penting itu adalah pertemuan dengan investor dari Inggris.
"Saya bahkan sudah menelpon anda puluhan kal tapi nomor anda tidak bisa dihubungi begitu juga dengan nomor nona Anin, saya juga menelpon kerumah tapi kata pelayan anda sudah berpesan untuk tidak mengganggu anda jadi mereka tidak meberani untuk memanggil anda, maka dari itu saya sendiri harus menjemput anda tuan". Jelas Lila panjang lebar karena dia tudak terima jika harus disalahkan oleh tuannya itu.
Benar saja apa yang dikatakan oleh Lila dia memang sudah berpesan kepada para pelayan untuk jangan mengganggunya seharian ini, bahkan dia mematikan ponsel miliknya dan juga Anin.
"Baiklah, baiklah aku yang salah, tunggulah didepan aku akan bersiap".
"Siapa?, apa ada masalah?". Tanya Anin melihat wajah sang suami yang sangat kesal.
"Lila, dia menjemputku karena ada pertemuan penting hari ini". Haikal melangkah keranjang mengecup bibir Anin sekilas lalu berkata. "Sayang, maafkan aku harus pergi, kita akan menundanya dulu, siapkan dirimu sebaik mungkin nanti malam karena aku akan memastikan tidak akan ada gangguan lagi". Anin mengangangguk dengan wajah merona sedangkan Haikal langsung melesat menuju kamar mandi.
••••••
Hai, hai, otor galau hadir lagi nih, entah setan apa yang merasukiku sehingga ingin menulis lagi novel yang sudah ku tinggal pergi selama 2 tahun 🤣🤣🤣
__ADS_1
Silahkan lanjut membaca bagi yang ingin baca, tapi aku gak maksa karena karya ku ingin memang masih abal- abal banget, tapi aku seperti akan tetap merampungkan novel ini walau bagaimanapun (kalo otornya gak galau lagi dan menghilang lagi namanya juga otor galau) ✌🏻