Hanya Cinta

Hanya Cinta
HC 60


__ADS_3

Kehidupan Asyraf di hari-hari berikutnya setelah ibunya meninggalkan dirinya seorang diri sudah kembali normal. Anin dan Haikal tidak pernah membiarkan pria kecil mereka itu kekurangan kasih sayang begitu juga dengan ibu Siti. Namun ada yang aneh Maya justru menjauhi dirinya karena untuk menatap wajahnya saja dia tidak mampu apalagi jika harus berbicara secara langsung dengannya.


Asyraf sangat antusias dengan kehamilan Anin, dia bahkan sangat over protektif terhadap Anin melebihi Haikal sendiri, apalagi saat ini bayi Anin sudah sangat aktif bergerak.


"Baby perempuan atau laki-laki kak?". Tanya pria kecil itu.


"Kamu lebih suka apa, perempuan atau laki-laki?". Tanya Anin gemas.


"Perempuan saja, pasti dia akan sangat cantik seperti kak Anin".


"Benarkah?, memangnya menurutmu kakak cantik".


"Sangat cantik, aku sangat suka melihat wanita-wanita cantik seperti kakak".


"Apa?, kamu ini masih sangat kecil untuk mengatakan hal itu sayang". Anin menggelitik gemas Asyraf sehingga dia tertawa terbahak-bahak.


"Ampun kak, aku menyerah, bukankah kita memang harus bicara jujur jadi yang aku katakan semuanya adalah kejujuran, berbohong kan dosa". Ujar Asyraf dengan napas terengah-engah.


Anin terdiam mendengar perkataan bocah itu, hatinya merasa teriris apalagi ketika dia ingat jika pernikahannya diawali dengan kebohongan terutama kepada sang mertua yang belum mengetahui jik dia dan Haikal menikah hanya karen sebuah kesepakatan saja. Jika ibu mertuanya tahu entah apa yang akan terjadi denga pernikahannya akankah ibu Siti membencinya atau bahkan menyuruh Haikal untuk meninggalkan dirinya.


"Dengarkan kakak Asy, kamu harus menjadi anak yang baik tentu saja juga menjadi anak yang jujur, jangan memikirkan hal yang tidak perlu kamu pikirkan, mengerti?". Tanya Anin dan Asyraf menganggukkan kepala tanpa mengerti.


"Jika baby sudah lahir dia akan memanggilku uncle kan kak?". Tanya Asyraf kemudian.


"Hehe, tentu saja uncle Asyraf". Anin tidak habis pikir dengan bocah laki-laki itu, bagaimana bisa di usianya masih sangat kecil memiliki pemikiran yang cukup dewasa.

__ADS_1


Anin kembali terusik dengan perkataan Asyraf tentang sebuah kejujuran, hatinya mengatakan jika dia harus jujur dan minta maaf kepada ibu mertuanya karena sudah memanfaatkan penyakit ibu Siti agar Haikal mau menikahinya namun disisi lain dia juga tidak ingin membahas masa lalu lagi yang hanya akan menambah masalah saja, toh yang terjadi saat ini semuanya berjalan dengan baik-baik saja, dia dan Haikal saling mencintai dan hidup bahagia.


Hari ini jadwal Anin dan Maya melakukan pemeriksaan dirumah sakit, Haikal sedang dalam perjalanan pulang untuk menjemput kedua wanita itu. Haikal sangat penasaran denga jenis kelamin anaknya karena beberapa kali melakukan pemeriksaan USG dokter selalu mengatakan jika jenis kelaminnya tidak terlihat akibat posisi bayi.


Jika Anin dan Haikal sangat bersemangat dan penasaran dengan perkembangan anaknya, maka yang di rasakan Maya sangatlah berbeda, ini adalah kali pertama setelah sekian lama dirinya tidak mengunjungi dokter spesialis kandungan, ada saja alasan agar dia tidak ikut pergi bersama Haikal dan Anin namun kali ini dia tidak bisa menolaknya lagi karena dua sudah habis alasan untuk menghindar.


Hal yang wajar sebenarnya jkka Maya tidak bersemangat untuk memeriksaka dirinya ke dokter karena dia sadar jika tidak ada yang menantikan kehadiran anak didalam kandungan itu, tidak ada yang peduli apapun jenis kelaminnya kelak. Apalagi melihat reaksi Haikal ketika melihat perkembangan anak di dalam kandungan Anin pasti akan sangat menyakitkan baginya bukan.


Asyraf yang mengetahui akan hal itu merayu Anin sebisa mungkin agar mengizinkannya untuk ikut melihat baby yang sudah sangat di nantikannya itu. Anin memang berencana mengajak sang adik namun dia sengaja membuat adiknya itu merayunya dulu karena sangat menggemaskan baginya melihat Asyraf berbicara dengan gaya yang sok dewasa itu.


Haikal mengamati dengan seksama kearah layar monitor ketika dokter memeriksa kandungan Anin, hal yang sama juga dilakukan oleh Asyraf dengan sok dewasanya dia mengikuti setiap gerak gerik Haikal, menjadi pria yang tampan dan berkharisma seperti Haikal memang impiannya.


"Bagaimana dokter?". Haikal langsung mencecar pertanyaan kepada dokter kandungan tersebut padahal belum juga sang dokter duduk dikursinya.


"Babynya perempuan atau laki-laki dokter?". Pertanyaan itu bukan dari Haikal melainkan dari Asyraf, sehingga membuat sang dokter tertawa mendengarkannya.


Haikal, Anin dan Maya juga ikut tertawa melihat tingkah gemas sang adik.


"Sepertinya uncle sudah tidak sabar menunggu babynya lahir ya?". Tanya dokter kepada Asyraf sambil mencubit gemas pipi bocah itu. "Babynya perempuan". Sambungnya lagi.


"Yee, baby perempuan". Asyraf dengan manjannya memeluk perut buncit Anin.


Bukan hanya Asyraf yang tampak sangat antusias dengan apa yang dikatakan oleh dokter, raut wajahnya bahagia juga tidak bisa disembunyikan oleh Haikal, jauh-jauh hari memang dirinya sangat yakin jika anaknya memang berjenis kelamin perempuan karena dia memang sangat menginginkannya.


Aneh memang jika pada umumnya banyak pria yang menyukai anak pertamanya berjenis kelamin laki-laki Haikal justru sebaliknya karena membayangkan saja sudah membuat dirinya gemas ketika ada gadis kecil yang memanggilnya ayah dan selalu bergantung padanya dalam segala hal.

__ADS_1


Namun bagi Anin apapun jenis kelamin anaknya itu tidaklah penting karena baginya bayinya tumbuh sehat dan normal saja susah sangtlat dia syukuri.


Sementara itu sekarang giliran Maya yang akan diperiksa, dokter meminta Maya untuk naik ke ranjang dan melakukan tindakan USG. Tidak ada raut wajah antusias diwajah cantik khas wanita Indonesia itu, tidak ada juga rasa penasaran yang terlihat disana, Haikal dan juga Anin sangat mengerti situasi yang di rasakan Maya saat ini.


"Bagaimana dengan keponakanku dokter?". Tanya Haikal antusias, dia sebisa mungkin menampakkan wajah penasarannya agar Maya merasa diperhatikan. Akan tetapi apada dasarnya Haikal memang peduli pada Maya dan juga kandungannya tanpa harus dia buat-buat, hanya saja bagi Maya itu hanyalah sebuah sandiwara belaka.


"Anda sangat beruntung nona Maya, anda mengandung sepasang bayi kembar dan mereka sangat sehat dan kuat". Jelas dokter.


Pantas saja ukuran perut Maya memang terlihat jauh lebih besar dari usia kehamilan sesungguhnya jika Anin masih bisa mensiasati perutnya dengan memakai dress over size maka hal itu tidak berlaku pada Maya, Anin dan Haikal bahkan sempat khawatir apalagi Maya selalu menolak untuk mengunjungi dokter, namun sekarang terjawab sudah kenapa hal itu bisa terjadi.


Wajah Haikal, Anin dan juga Asyraf berbinar mendengar hal tersebut. Mereka merasa sangat bahagia karena setelah sekian lama Maya tidak mau memeriksakan kandungannya dengan berbagai alasan ternyata dokter malah memberikan kabar yang sangat membahagiakan.


"Selamat May, aku sangat bahagia untukmu kmu bukan hanya akan memiliki satu bayi tapi dua sekaligus". Seru Anin sambil memeluk Maya.


"Rumah kita pasti akan ramai dengan kehadiran mereka, selamat May, aku juga sangat bahagia, semoga keponakan-keponakan ku ini tidak menyusahkan mommynya". Ujar Haikal.


"Terimakasih kak, terimakasih Anin". Entah apa yang ada dibenak wanita itu namun untuk tersenyum saja sangat sulit untuk dilakukannya.


"Mereka ada dua, untuk menjadi ibu dari satu anak saja belum tentu aku mampu lalu bagaimana bisa aku menjadi ibu untuk dua anak sekaligus". Batin Maya melihat orang-orang disekitarnya saat ini sangat berbahagia untuk membuatnya merasa terharu.


Asyraf juga tak kalah bahagia dia juga berkali-kali memeluk perut buncit Maya dan berbicara seolah mereka telah lahir kedunia ini.


•••••


Mohon dukungannya ya, novel ini memang sangat jauh dari kata bagus tapi mau gimana lagi hobyku memang nulis tapi kemampuanku pas-pasan 😅

__ADS_1


__ADS_2