
Anin hanya diam saja ketika transducer usg menari diatas perutnya, sedangkan Haikal menatap monitor dengan wajah berbinar.
"Ini dia, bayi sudah berusia 8 minggu, diusia ini bayi sudah bisa bergerak meskipun ibu belum dapat merasakannya". Ujar dokter lembut dan tersenyum kearah Anin.
"A-apa maksudnya?". Tanya Anin dengan suara bergetar.
"Sayang kamu hamil". Haikal langsung menggenggam tangan Anin kemudian mengecup sayang kening istrinya.
"Ha-hamil?". Tanyanya masih tidak percaya.
"Iya nona, anda hamil dan usianya sudah 8 minggu". Dokter kembali menjelaskan.
"Oh my God". Anin terharu dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil menangis. Haikal langsung merangkul istrinya dan mengecup pucuk kepala Anin berkali-kali.
"Janin anda sehat dan sepertinya tidak ada kendala apapun yang anda hadapi selama trimester pertama ini".
"Tentu saja tidak dokter karena akulah yang mengalami semua gejala itu". Seru Haikal. Mendengar ucapan Haikal, Anin langsung teringat jika memang suaminya itu sering mengalami mual muntah.
"Hehe". Dokter terkekeh mendengar ucapan Haikal. "Sepertinya anda sangat mencintai istri anda tuan, nanti saya akan resepkan vitamin untuk nona Anin dan juga obat anti muntah untuk anda".
Haikal menatap Anin penuh cinta lalu mengecup keningnya. "Tentu saja aku memang sangat mencintainya, terima kasih sayang telah melengkapi kebahagiaanku". Ujar Haikal kepada Anin.
"Tapi dokter bagaimana dengan i-itu?". Tanya Anin ragu.
"Itu?, apa maksud anda nona?". Tanya dokter bingung.
Anin ragu menanyakan pertanyaan yang sangat memalukan menurutnya. "Emmh, tidak jadi, lupakan saja".
Haikal tersenyum melihat istrinya salah tingkah, sepertinya dia sangat mengerti arah pembicaraan Anin. "Emmh, bagaimana dengan hubungan suami istri?". Tanya Haikal spontan, membuat Anin membulatkan matanya kearah Haikal.
Dokter kembali terkekeh mendengar pertanyaan itu. "Tidak masalah, asal dilakukan dengan hati-hati dan jangan sampai membuat istri anda kelelahan".
__ADS_1
Anin tidak dapat menyembunyikan rasa malunya ketika dokter menjelaskan hal tersebut, wajahnya bahkan tampak merah merona.
•••••
Ketika keluar dari ruang pemeriksaan Anin dab Haikal langsung disambut oleh Siti, wanita paruh baya itu tampak sangat khawatir dengan keadaan menantunya. Tampak Lila juga berada disana untuk memastikan keadaan nonanya.
"Nak, kamu baik-baik saja kan?". Tanya Siti yang membawa Anin kedalam pelukannya.
"Anin baik-baik saja bu, ibu tidak usah khawatir".
"Syukurlah". Ujar Siti sambil tersenyum. "Lalu bagaimana?, apa cucu ibu sehat?". Sambung Siti lagi.
"Ibu tahu?". Tanya Anin tidak percaya. Lila yng mengetahui kabar kehamilan Anin juga merasa sangat terharu apalagi dulu Anin punya misi yang konyol ketika menikah dengan Haikal.
"Tentu saja sayang, kamu ingat susu yang setiap malam ibu siapkan untukmu itu susu ibu hamil, suamimu yang menyuruh ibu untuk memastikan kamu meminumnya setiap malam". Ujar Siti lembut.
Anin masih tidak percaya bagaimana bisa dia dicintai begitu besar oleh suaminya. Dia terharu menatap Haikal dan Haikal tersenyum manis kepadanya.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan, ayo sekarang kita pulang kamu butuh istirahat tidak boleh kelelahan". Siti langsung menuntun Anin menuju mobil bahkan melupakan putranya sendiri padahal mereka sudah beberapa hari tidak bertemu dan hampir satu bulan tinggal terpisah.
•••••
Hubungan Haikal dan Anin sekarang sudah membaik, jika sebelum mengetahui jika dirknya hamil Anin tidak manja dan cengeng maka sekarang dia terlihat sangat manja dan sangat mudah menangis kadang kala juga membuat Haikal kewalahan, belum lagi sifat cemburu Anin yang tiba-tiba muncul. Sepertinya Anin memanfaatkan momen kehamilannya dengan sangat baik.
Kemanapun Haikal melangkah maka dia harus melaporkannya kepada Anin terlebih dahulu bahkan Anin pernah minta ikut ketika mengetahui Haikal akan melakukan metting dengan seorang wanita.
Namun dari perubahan sikap yang dialami Anin ada hal yang sangat membuat Haikal merasa beruntung dan terpuaskan secara batin, Anin selalu merasa membutuhkan Haikal dimalam hari, apalagi kalau bukan urusan saling bertukar peluh dan *******. Anin yang dulu sangat pemalu sekarang menjadi sangat agresif jika berurusan dengan urusan yang satu itu. Mungkin itu pengaruh hormon kehamilannya.
"Apa menurutmu semua wanita hamil sama seperti istriku?". Tanya Haikal pada Rama. Saat ini mereka tengah melakukan pertemuan penting dengan seorang CEO cantik dan tentu saja dimeja yang berbeda Anin memantau suami itu dari kejauhan.
"Saya rasa yang anda rasakan belum seberapa tuan". Jawab Rama datar.
__ADS_1
"Belum seberapa?, apa kamu tidak lihat dia mematai-mataiku seperti aku sedang berselingkuh saja dan yang lebih konyol lagi asistennya itu mau menemaninya". Desah Haikal frustasi.
"Seperti yang saya katakan tuan jika itu belum seberapa, bahkan ada ibu hamil yang ngidam diluar nalar manusia normal, beruntung sekali nona Anin tidak mengalami ngidam".
"Benarkah?, contohnya seperti apa?. Apa ada ibu hamil yang menginginkan tas brended?, mudah saja jika itu permintaannya dibandingkan harus diikuti seperti ini". Tanya Haikal penasaran.
"Sungguh itu sangat mudah tuan, tapi ada ibu hamil yang ingin dielus perutnya oleh lelaki lain seperti artis atau lelaki tampan versi mereka, dan mereka berdalih jika itu bawaan dan keinganan bayi, apa itu masuk akal?".
"Hah, yang benar saja, aku pasti akan mematahkan tangan lelaki itu".
"Coba saja, bahkan untuk memarahinya saja anda tidak akan mampu karena ibu hamil yang mengalami ngidam konyol itu yang akan lebih dulu mematahkan tangan kita".
"Apa serumit itu?".
"Tentu saja tuan, mereka sepertinya sangat memanfaatkan kehamilannya untuk menindas kita kamu lelaki. Maka bersyukurlah dan nikmati saja tingkah aneh istri anda karena seperti yang saya tadi jika itu belum seberapa".
Haikal hanya mengangguk-anggukan kepalanya mecoba mencerna jawaban dari Rama lalu kemudian menatap aneh wajah penuh misteri sang asisten. "Apa dia sudah menikah dan punya pengalaman pribadi tentang wanita hamil samai dia tahh semua hal itu, sepertinya dia tahu banyak hal". Batin Haikal.
Sampai detik ini Haikal belum mengetahuo seluk beluk kehidupan pribadi Rama, selain Rama yang hanya bicara seperlunya saja dan tidak mau membicarakan masalah pribadi saat bekerja dia juga tidak itu serta dalam menyeleksi sang asisten karena Rama dipekerjakan atas rekomendasi bagian HRD dan juga Anin sendiri.
Dalam diamnya Haikal tiba-tiba teringat akan nasib Maya, wanita muda itu hamil tanpa suami dan mengalami morning sickness yang lumayan merepotkan belum lagi ngidam berbagai macam hal karena Haikal juga pernah ikut andil dalam menyaksikan dan menuruti ngidam Maya.
Sudah satu minggu sejak kejadian dia meminta maaf kepada Anin, Haikal sama sekali sudah tidak tahu menahu tentang Maya, Anin beberapa kali mengajaknya untuk menjenguk Maya namun langsung ditolak oleh Haikal karena dia masih sakit hati dengan rencana busuk Maya yang mempertaruhkan nasib rumah tangganya itu.
Namun setelah mendengarkan semua penjelasan dari Rama tadi membuat hati kecil Haikal merasa iba dan penasaran bagaimana nasib Maya sekarang.
"Bagaimana keadaannya sekarang, apa tuan Darmadi sudah sadar?". Gumamnya dalam hati.
Benar kata Anin jika Maya melakukan semua rencana jahatnya mungkin bukan tanpa sebab, dia hanya malu dan lelah menanggung beban sebesar itu sendirian. Kemudian dari kejauhan dia menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan, dia tidak bisa membayangkan jika Anin yang mengalami hal tersebut.
"Aku harus ikhlas menerima maaf Maya setidaknya karena kejadian ini hubunganku dengan Anin sekarang sangat baik". Batinnya lagi.
__ADS_1
•••••
Semoga terhibur yaa manteman semua, novel ini masih sangat jauh dari kata bagus, cuma buat seru-seruan aja dan nyalurin hoby yang gak jelas, maafkan aku yang kadang kagak nyambung yaa ✌🏻