
Haikal semakin hari semakin yakin dengan perasaannya terhadap Anin. Tanpa terasa setahun sudah mareka menikah. Haikal terus berusaha untuk menaklukkan hati Anin untuk mencintainya. Haikal selalu memberikan perhatian kepada Anin dan membuat Anin sebagai hal yang paling penting dalam hidupnya.
"Kita mau kemana?". Tanya Anin ketika Haikal yang tengah fokus mengemudikan mobil. Haikal malam itu mengajak Anin untuk makan malam di luar.
"Udah ikut aja, aku yakin kamu pasti suka". Jawab Haikal.
Haikal ternyata membawa Anin makan malam romantis di pinggir pantai. Semua sudah dia siapkan dengan sangat indah sehingga membuat Anin takjub melihatnya.
"Kapan kamu siapin ini semua?". Tanya Anin.
"Rahasia dong, gimana kamu suka nggak?". Tanya Haikal dan Anin menganggukkan kepalanya.
Kemudian mereka berdua makan malam romantis di pinggir pantai yang sudah disiapkan khusus untuk mereka berdua.
"Kamu bahagia malam ini?". Tanya Haikal pada Anin ketika mereka sudah berada di kamarnya.
Anin tersenyum dan mengangguk. "Aku bahagia banget, makasih untuk malam ini Haikal". Ujarnya lembut.
Haikal mendekati Anin dan berdiri tepat dihadapannya. "Aku akan selalu mengusahakan kebahagiaan kamu. Sayang, aku tau kalau hubungan kita di mulai tanpa cinta, entah kapan hati ini memulainya tapi saat ini aku hanya ingin bersamamu selau dan untuk selamanya". Anin melihat tatapan mata Haikal, mata yang penuh dengan kejujuran, manik mereka saling terpaut satu sama lain.
"Aku nggak tau gimana perasaan kamu ke aku tapi aku yakin Anin kamu nggak akan pernah bisa lepas dari aku karena aku nggak akan pernah mau melepaskan mu". Sambung Haikal lagi.
Mereka saling memandang dengan tatapan penuh cinta, Haikal dengan sigap mendekatkan wajahnya ke wajah Anin karena dia tidak tahan dengan godaan bibir tipis milik Anin.
Cup...
Bibir mereka saling terpaut satu sama lain menikmati indahnya malam yang mulai dingin. Ciuman yang awalnya sangat lembut itu berubah menjadi ciuman penuh gairah. Tidak bisa dipungkiri bahwa Haikal selama ini selalu berusaha keras menahan diri untuk menyentuh istrinya namun entah mengapa malam itu dia seperti kehabisan kesabaran untuk menahan dirinya.
Ciuman mereka semakin panas dan bergairah seperti ada ketertarikan satu sama lain untuk saling memberi dan membalas. Tangan Haikal sudah mulai nakal menyentuh gundukan kenyal di dada Anin dan Anin hanya mendesah penuh kenikmatan. Ciuman itu sekarang sudah beralih ke leher jenjang milik Anin. Melihat Anin yang sepertinya memberikan peluang lagi Haikal untuk melakukan hal yang lebih lagi tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Haikal mulai membuka kancing kemeja yang di gunakan oleh Anin sehingga gundukan sintal milik Anin terpampang nyata hanya berbalut bra berwarna hitam. Anin yang tersadar jika aksi Haikal sudah mulai semakin ganas langsung mendorong tubuh Haikal untuk menjauh darinya.
"Haikal, stop". Ujar Anin cukup keras sehingga membuat Haikal terkejut.
"Anin, maafin aku, aku tidak bermaksud begitu aku tau kamu mungkin belum siap. Sayang maafin aku ya aku benar-benar hilang kendali tadi". Haikal mendekati Anin mencoba menjelaskan.
__ADS_1
"Bukan gitu, kita tidak bisa melakukannya karena...". Anin ingin menjelaskan sesuatu namun Haikal langsung memotong pembicaraannya.
"Ya, aku dapat mengerti sayang, aku tidak akan memaksamu lagi. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap dan percaya sama aku. Sekali lagi aku minta maaf ya". Haikal meraih tubuh Anin dan memeluknya dengan erat. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam sebenarnya Haikal kecewa karena dia pikir jika malam itu akan menjadi malam yang indah untuknya dan Anin.
"Haikal aku....".
"Udah tidak apa-apa kok sayang, memang sulit untuk kamu percaya sama hubungan kita ini, apalagi tidak ada dasar cinta dalam pernikahan kita tapi kamu harus tahu Anin, aku benar-benar sangat mencintaimu". Haikal kembali menatap mata Anin penuh keyakinan.
"Tapi Haikal aku...".
"Udah kamu istirahat saja, ini udah malam dan....".
"Haikal stop, kapan aku bisa bicara jika dari tadi kamu selalu menyela pembicaraanku". Bentak Anin cukup keras dan membuat Haikal kembali terkejut.
"Ma-maaf, memangnya kamu mau bicara apa sayang?". Tanya Haikal.
"Aku bukan belum siap". Mendengar ucapan Anin itu Haikal langsung tersenyum sumringah.
"Jadi kamu sudah siap?". Tanyanya sangat antusias sehingga mampu membuat wajah Anin merah merona karena menahan malu.
"Eits, tunggu dulu, aku kan belum selesai bicaranya". Anin menahan tubuh Haikal yang mencoba mendekatinya lagi.
"Apalagi sayang?".
"Tapi kamu harus sabar lagi untuk beberapa waktu lagi".
"Kenapa?". Tanya Haikal bingung.
"Karena aku sedang datang bulan Haikal".
"Apa?". Haikal langsung menepuk keningnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang. "Kesabaran yang seperti apa lagi yang Engkau ingin lihat dariku ya Tuhan?". Ujar Haikal pasrah, Anin langsung tertawa mendengar omelan suaminya itu. "Kapan kamu pertama datang bulan?". Tanya Haikal lagi.
"Tadi". Jawab Anin singkat.
"Baru tadi?". Anin kembali mengangguk. "Berapa lama lagi aku harus bersabar?". Tanya Haikal yang masih penasaran.
__ADS_1
"Emmh, biasanya sih 5-7 hari".
"Selama itu?". Tanya Haikal kesal.
"Iya, bahkan ada yang sampai 10 hari".
"10 hari?. Ini akan menjadi penantian yang paling menyiksakan untuk aku". Ujar Haikal lirih.
"Kamu bisa nahan sampai bertahun, masa baru 10 harian kamu tidak sanggup".
"Sayang, kamu tahu tidak sih dibalik kesabaran aku selama ini ada sesuatu yang sangat tersiksa setiap malamnya saat aku tidur sama kamu di ranjang yang sama".
"Apa?". Tanya Anin polos.
Haikal tersenyum licik dan mengisyaratkan dengan lirikan matanya kearah celananya. Anin langsung membulatkan matanya dan mencubit pinggang Haikal.
"Awww, sakit sayang". Ringis Haikal.
"Lagi pula kamu sangat mesum".
"Kenapa?, aku kan suamimu dan aku hnya mesum dengan istriku seorang, tidak lama lagi kamu juga akan kenalan sama....". Haikal bangkit dari tidurnya karena ingin menggoda Anin yang wajahnya mulai memerah karena obrolan mereka.
"Cukup, aku mau ke kamar mandi mau bersih-bersih dulu. Obrolan kita mulai tidak sehat". Anin ingin pergi meninggalkan Haikal namun tangan Haikal menahannya.
"Ini adalah obrolan yang sangat menyehatkan sayang. Jadi kamu siap-siap saja tidak lama lagi kita akan melakukan hal yang membuat kita sehat bersama-sama". Bisik nakal Haikal di telinga Anin.
"Cukup Haikal". Anin merasa sangat malu dan langsung melepaskan tangan Haikal untuk berlari ke kamar mandi. Melihat tingkah lucu sang istri membuat Haikal tertawa lepas.
"Haha, dia sangat menggemaskan tenyata jika sedang malu seperti itu".
Aku tidak menyangka kalau kamu bisa bertingkah selucu ini sayang, ternyata di balik sikap kamu yang dingin itu kamu tetap wanita biasa. Batin Haikal sambil tersenyum.
Ya Tuhan, bagaimana bisa aku bertingkah seperti anak ABG yang baru merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Hah, harusnya aku tidak malu-maluin begini di depan Haikal tadi. Gerutu Anin kepada dirinya.
***Maafkan saya yang memiliki tugas kenegaraan yang sangat padat sehingga up nya pun jadi jarang* 😁✌️🙈😝
__ADS_1
Jangan lupa like ya biar tambah semangat 💞🤗**