Hanya Cinta

Hanya Cinta
Syndrome Caouvade


__ADS_3

"Menangislah Anakku, terkadang dengan menangis sedikit beban kita akan terobati. Menangislah ibu akan mendengarkan tangisanmu sayang". Ucapan Siti seolah bagai hipnotis di telinga Anin, tanpa aba-aba terlebih dahulu dia menangis sejadi-jadinya dipelukan sang mertua, siti juga yang tadi mencoba tegar dihadapan Haikal pun ikut menangis.


Mereka menangis dalam kesunyian malam itu meluapkan beban didada masing-masing terhadap kekecewaan yang didapatkan dari orang yang selama ini sangat mereka percaya dan mereka cintai.


"Bu, berjanjilah satu hal kepada Anin". Anin menatap intens wajah sang mertua yang sendu itu, lalu Siti menanggapinya dengan anggukan.


"Berjanjilah ibu tidak akan meninggalkan Anin, tetaplah bersama Anin apapun yang terjadi".


"Tentu nak, kamu putri ibu dan ibu akan selalu ada untukmu, ibu janji". Jawab Siti penuh kesungguhan kemudian semakin mengeratkan pelukannya kepada sang menantu.


•••••


BURG....


Suara koper yang didorong sedikit kasar kearahnya membuat Haikal tersadar dari lamunannya yang seolah baru terbangun dari mimpi.


"Ambil barang-barangmu dan cepat pergi dari sini". Siti mengucapkan hal tersebut tanpa menoleh kearah Haikal sedikitpun dia ingin menunjukkan kepada anaknya jika dia membencinya padahal yang sebenarnya adalah dia sedang hancur berkeping-keping melihat keadaan anaknya saat ini.


"Bu, Haikal tidak bisa jauh dari ibu dan juga Anin, Haikal mohon bu l, Haikal akan memperbaiki semua keadaan ini seperti semula". Pinta Haikal.


"Ibu bahkan sangat jijik melihat foto-foto itu Haikal, lalu bayangkan bagaimana perasaan istrimu?".


"Bu, Haikal yakin jika itu hanya sebuah jebakan, Haikal tidak bersalah dan yang terpenting adalah anak itu bukan anak Haikal".


"Kalau begitu buktikan, ibu membesarkanmu dan mendidikmu sendiri, banyak orang yang meragukan ibu saat itu Kal, sekarang ibu baru yakin kalau yang orang katakan jika ibu akan gagal untuk membesarkanmu sudah terbukti, semuanya sia-sia". Tembok pertahanan Siti roboh begitu saja dihadapan anaknya dia tidak mampu membendung air matanya lagi.


"Bu, jangan bicara begitu, Haikal akan membuktikan jika ibu tidak gagal dalam mendidik Haikal. Maafkan Haikal bu, Haikal sudah mengecewakan ibu tapi dihati Haikal hanya ada Anin seorang". Haikal merangkul sang ibu lalu memeluknya dengan sangat erat, hal itu tidak luput dari pandangan Anin wanita itu merasa hancur melihat pemandangan tersebut.


•••••

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan ibunya Haikal memacu mobil membelah kesunyian malam tujuannya sekarang adalah apartemennya, ya untuk sementara dia harus meninggalkan rumahnya dan tinggal di apartemen hal itu juga atas saran Siti, agar suasana hati Anin lebih tenang dengan tidak adanya Haikal dirumah.


Hampa, itulah yang dia rasakan saat ini, tidak ada lagi canda tawanya bersama sang istri juga tidak ada lagi makanan kesukaannya yang sering ibunya buatkan setiap hari. Maya hampir setiap saat menghubunginya namun Haikal tidak pernah mengangkat telpon darinya. Muak itulah perasaannya terhadap Maya saat ini dia tidak menyangka jika Maya gadis bersahaja dan baik hati itu tega menjebaknya kedalam kesalahan yang dia sendiri tidak dapat mengingatnya lagi.


Sudah satu minggu Haikal menetap di apartemennya, dia bahkan tidak pernah keluar dari sana meskipun itu untuk ke kantor, Rama tentu saja dibuat kewalahan dengan tingkah Haika yang tidak memperdulikan apapun. Rama tidak hanya kewalahan dengan urusan kantor namun juga mengurus segala kebutuhan Haikal selama berada diapartemen.


Rama semakin kehabisan akal untuk menghadapi Haikal apalagi tubuh Haikal juga terlihat sangat lemah dari hari ke hari bahkan dia sering muntah-muntah sehingga dia berinisiatif untuk menghubungi para sahabat. Nino dan Rian langsung meluncur ke apartemen tersebut begitu mendengar kabar tentang Haikal.


"Kal, loe kenapa bisa jadi begini, kenapa nggak menghubungi kami?". Tanya Rian menatap iba sang sahabat yang lerlihat sangat menyedihkankan itu, tubuhnya yang terlihat sedikit lebih kurus, wajah tampannya terlihat pucat bahkan bulu-bulu halus mulai memenuhi wajahnya.


"Semuanya sudah berakhir Yan, gue sudah hancur". Jawab Haikal datar.


"Kal, ini bukan loe yang kita kenal, loe cerdas tapi kenapa cinta membuat loe sampai semenyedihkan ini". Nino juga ikut berkomentar.


"Haikal sudah mati, hidup gue sudah nggak ada gunanya lagi".


"Kal, kalau loe memang yakin loe tidak bersalah dan ini semua hanya jebakan ayo kita buktikan, loe nggak sendiri ada gue dan Rian yang akan bantu loe".


"Bagaimana keadaanya dok?". Tanya Rian serius.


"Tidak ada masalah, semuanya baik sepertinya tuan Haikal mengalami Syndrome Caouvade, apa istrinya sedang hamil?". Pertanyaan dokter tersebut mampu membuat Haikal menatap sang dokter intens seolah ingin mengetahui lebih banyak informasi lagi.


"Syndrome Caouvade, apa itu dan apa hubungannya dengan kehamilan?". Tanya Rian Serius.


"Syndrome Caouvade disebut juga kehamilan simpatik, dimana pada trimester pertama kehamilan biasanya seorang wanita mengalami mual muntah akibat perubahan hormon maka pada kasus tuan Haikal terjadi sebaliknya, tuan Haikal yang mengalaminya sedangkan istrinya tidak bahkan terkadang seorang suami juga mengalami ngidam". Penjelasan sang dokter sontak membuat 3 orang pria tampan itu tersentak kaget bukan main. "Tidak perlu di khawatirkan saya akan buatka resep obat anti mual dan muntah, jaga kesehatan dan pola makan anda tuan dan semua akan menghilang dengan sendirinya". Lanjut dokter dengan menyerahkan sebuah resep kepada Rian. "Kalau begitu saya permisi tuan, hubungi saya lagi jika terjadi sesuatu". Dokter tersenyum ramah lalu pergi dari sana.


"Ternyata benar, Maya sedang mengandung anak loe Kal". Ucap Nino masih tidak percaya.


"Nggak, itu bukan anak gue, gue sangat yakin No".

__ADS_1


"Loe nggak dengar penjelasan dokter tadi, gue bahkan nggak percaya kalau melakukan penjebakan ini adalah Maya karena yang kita kenal Maya adalah gadis yang baik, gue malah benci sama istri loe dulu, maaf yaa Kal".


"Bukan Maya yang hamil anak gue tapi Anin". Dengan wajah yang berbinar entah kenapa hati kecilnya sangat yakin jika Anin memnag benar hamil meskipun dia atau Anin sendiri belum pernah melakukan pemeriksaan secara langsung.


"Haah, jadi Anin lagi hamil?, wah tokcer juga loe". Tanya Nino terkejut.


"Gue belum tahu pastinya, Anin juga mungkin belum sadar dengan kehamilannya tapu gue mengalami Syndrome Caouvade ini sudah lebih dari 1 bulanan".


"Jadi loe benar-benar yakin anak yang Maya kandung bukan anak loe?". Tanya Nino lagi.


"Jadi loe meragukan gue No".


"Nah, kalau loe yakin itu buka anak loe kenapa loe malah menyerah begini, ayo kita cari bukti apalagi sekarang loe yakin kalau Anin lagi hamil apa loe mau anak loe lahir tanpa sosok ayah disampingnya, sekarang harusnya loe punya alasan untuk bangkit". Ujar si bijak Rian panjang lebar.


"Loe benar Yan, gue harus cari bukti kalau gue nggak salah demi anak, istri dan ibu gue, tapi bagaimana caranya?".


"Terkadang untuk menemukan kelemahan musuh kita harus berpura-pura menjadi teman baik dari musuh kita". Rian menepuk pundak Haikal sembari tersenyum simpul dan Haikal tahu maksud dari sahabatnya itu.


•••••


"Nona, besok acara wisuda anda, acara yang sangat penting tidakkah anda ingin mengundang tuan Haikal?". Tanya Lila kepada Anin saat mereka sedang berada dibutik untuk melakukan fitting baju kebaya untuk acara besok. Ya, besok adalah hari bahagia bagi Anin namun dia bingung rasa bahagia yang bagaimana yang harus dia tunjukkan, namun satu hal yang dia syukuri adalah sang mertua dan Lila selalu setia menemani hari-harinya yang berat.


"Sepertinya aku tidak perlu menanggapinya Lila". Jawab Anin singkat.


"Nona, jika saya boleh memberi saran tidakkah seharusnya nona mencari tahu kebenaran tentang yang terjadi saat ini, maksud saya jika memang tuan Haikal berniat mengkhianati anda harusnya tuan Haikal saat ini sudah merasa bahagia dan menikmati waktunya bersama dengan nona Maya tapi yang terjadi justru sebaliknya, tuan Haikal terpuruk dengan situasi ini".


Anin menghela napasnya dengan kasar hati kecilnya juga berkata begitu namun dia terlalu takut untuk berharap. "Jika memang dia tidak bersalah dia tentu akan membuktikannya bukan malah pasrah dengan keadaan, terkadang sisi egoisku sebagai wanita juga muncul Lila, aku ingin diperjuangkan oleh suamiku". Ucap Anin dengan tatapan kosong kedepan.


•••••

__ADS_1


Novel acak adul, banyak kalimat-kalimat yang nggak nyambung dan tulisan-tulisan yang typo, jadi mohon di maafkan. Semoga terhibur 🤗💖


__ADS_2