Hanya Cinta

Hanya Cinta
Sakit


__ADS_3

Sore itu Haikal baru pulang kerja dan memarkirkan motornya di garasi, dia melihat mobil Anin juga sudah terparkir di sana, tidak biasanya Anin pulang lebih cepat dibandingkan dia apalagi dengan kondisi perusahaannya yang sedang tidak stabil seperti sekarang ini dan Haikal juga sudah memakluminya.


"Anin sudah pulang ya bu?". Tanya Haikal kepada Bu Marta.


"Iya tuan, nona Anin sepertinya tidak enak badan". Jawab Bu Marta.


"Anin sakit?". Tanya Haikal panik.


"Sepertinya hanya demam, tadi nona Anin minta di bawakan obat penurun panas".


"Kenapa tidakk panggil dokter saja?".


"Nona Anin tidak mau tuan, katanya dia hanya kelelahan dan untuk istirahat saja. Nona Anin sering sakit seperti ini tuan dan dia tidak mau ada yang mengurusnya dia cuma mau sendirian".


"Ya sudah kalau begitu". Haikal langsung berlari menuju lantai atas untuk melihat kondisi Anin.


Haikal melangkahkan kakinya dengan perlahan karena melihat Anin yang sedang tertidur pulas di atas tempat tidur. Kemudian dia memegang kening Anin dan terasa sangat panas.


"Demamnya belum turun juga, badannya masih hangat". Haikal meletakkan tas kerjanya dan bergegas menuju dapur untuk mengambil baskom air dan handuk kecil untuk mengompres.


"Kamu pasti sangat kelelahan, makanya sampai sakit seperti ini". Ucap Haikal sambil mengompres istrinya.


Harusnya tugasku sebagai seorang suami adalah melindungimu, tapi aku malah mempertahankan egoku untuk tidak membantu mengurus perusahaanmu, maafkan aku Anin. Gumam sambil memegang tangan Anin.


Melihatmu sakit seperti ini membuat aku semakin sadar kalau aku tidak akan sanggup melihat kamu menderita Anin. Aku tidak tahu apa rasa cintaku padamu ini salah atau tidak, bahkan sekarang aku juga merasa tidak peduli apa kamu akan membalas cintaku ini atau tidak, yang pasti aku sangat ingin melihatmu bahagia membuat kamu bahagia. Sambungnya lagi.


"Tunggu disini dulu ya, istirahatlah yang cukup, aku akan memasak bubur untuk kamu". Haikal mengecup tangan Anin dengan lembut, Anin tersentak saat merasakan benda kenyal itu mendarat dikeningnya. Anin sangat sensitif dengan sentuhan apapun ditubuhnya sedari Haikal mengompresnya dia sudah menyadarinya hanya saja dia ingin melihat apa yang akan dilakukan Haikal saat melihatnya sakit. Hatinya menghangat dengan perlakuan suaminya tersebut dan menatap punggung suaminya menghilang dibalik pintu dengan menyunggingkan sebuah senyuman manis.


Haikal dengan sigap memasak bubur untuk Anin bahkan dia tidak mau para pelayan membantu pekerjaannya itu karena dia ingin memasaknya sendiri. Bu Marta tampak sangat bahagia melihat ketulusan Haikal kepada istrinya itu. Setelah selesai dengan tugasnya di dapur Haikal langsung membawa bubur yang sudah dimasak nya ke dalam kamar.


Haikal menghampiri Anin yang ternyata belum bangun itu dan memegangi keningnya.


"Syukurlah sayang, panas kamu sudah turun". Ucapnya lalu meletakkan bubur di atas nakas. "Sayang, bangun dulu, kamu harus makan biar kamu cepat sehat kembali". Sambungnya dengan sangat lembut.


Anin mengerjapkan matanya dan melihat Haikal di hadapannya.


"Aku tertidur ya". Anin berusaha bangkit dan mengambil handuk kecil di keningnya. "Kamu yang mengkompresku?". Tanya kemudian.


"Iya sayang, Alhamdulillah sekarang panas kamu sudah turun, sekarang ayo kamu makan dulu". Anin merasa sangat bahagia mendengar ucapan Haikal itu, dia tersenyum dan mengangguk.


"Aku bisa makan sendiri Haikal". Anin berusaha merebut mangkok bubur di tangan Haikal.

__ADS_1


"Tidak, aku yang akan menyuapimu". Haikal menyendokkan bubur dan mengarahkan ke mulut Anin. "Aaaaa". Anin kemudian pasrah membuka mulut. "Good girl". Ujar Haikal sambil mengelus kepala Anin.


"Ini bukan masakan Bu Marta, kamu beli dimana?". Tanya Anin yang ternyata cukup hafal dengan masakan Bu Marta.


"Aku sendiri yang masak, bagaimana enak tidak?". Tanya Haikal.


"Kamu?, kamu bisa masak?. Enak banget". Jawab Anin tak percaya.


"Bisa dong, kamu meremehkan kemampuan suamimu ini ternyata, ayo dihabiskan kalau memang enak". Ujarnya Haikal penuh percaya diri dan mengundang gelak tawa dari keduanya.


Benar saja Anin memang menghabiskan semua bubur yang disuap kan oleh Haikal ke dalam mulutnya tanpa tersisa.


"Sekarang ayo kita tidur, kamu butuh banyak istirahat dan ini juga sudah malam". Haikal sudah berada di samping Anin bersiap untuk tidur. Haikal menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Anin dan memeluk pinggang Anin dengan posesif, hal itu tentu saja mampu membuat wajah Anin seketika merona merah.


"Kenapa dengan wajahmu?". Tanya Haikal jahil ketika jarak wajah keduanya sangat dekat.


"Apa?". Reflek Anin memegang pipinya. "Memangnya ada apa dengan wajahku?".


"Haha, kamu sangat menggemaskan". Ucapkan Haikal mampu membuat Anin mengerucutkan bibirnya.


"Haikal". Ujar Anin mencoba mengalihkan pembicaraan mereka tadi.


"Terima kasih".


"Untuk?". Tanya Haikal.


"Untuk semuanya, terutama karena sudah mau mengurusku hari ini". Mendengar hal tersebut Haikal langsung menarik dagu Anin untuk menghadapnya sehingga mengikis jarak di antara kedua. Hembusan nafas mereka terasa menghangat satu sama lain.


"Kamu tau, harusnya kamu tidak perlu berterima kasih kepadaku, karena justru aku yang sudah gagal untuk menjagamu. Kamu itu istriku, tanggung jawab ku dunia dan akhirat, tapi kamu sakit aku bahkan tidak tahu, maafin aku ya sayang". Ujarnya Haikal dengan wajahnya tepat berada di depan wajah Anin. Anin menjadi salah tingkah mendengar ucapan Haikal tersebut.


"Kamu sepertinya udah terbiasa dengan sandiwaramu yang memanggil aku dengan kata sayang di depan orang-orang, padahal kan sekarang kita sedang berdua aja tidak ada orang lain". Anin berusaha mencairkan suasana tegang yang terjadi di antara mereka. Mendengar ucapan tersebut Haikal langsung melahap benda kenyal yang merekah didepannya. Lembut namun sangat menuntut, Haikal memainkan perannya dengan sangat baik disetiap inci rongga mulut Anin dan baru melepaskannya ketika nafas Anin sudah tersenggal.


"Hey, kenapa tidak bernafas?". Tanya Haikal tegas. Haikal kemudian mengulanginya lagi.


Cup...


Begitu cepat tanpa aba-aba bibir Haikal langsung menyambar bibir tipis milik Anin, hal itu membuat Anin spontan memejamkan matanya. Cukup lama ciuman itu berlangsung, mereka saling ******* dan menghisap satu sama lain seperti sepasang suami istri yang sudah sangat saling membutuhkan. Haikal kemudian melepaskan ciuman itu perlahan dengan nafas yang terengah-engah dan memindahkan bibirnya untuk mengecup kening Anin.


Cup...


Sebuah ciuman hangat kembali mendarat di kening mulus Anin.

__ADS_1


"Selamat malam sayang. Ayo sekarang kita tidur, kamu sedang sakit dan butuh istirahat". Ujarnya lembut sambil memeluk pinggang ramping Anin.


Anin tidak bisa menjawab perkataan Haikal lagi, dia hanya mematung dan pasrah dengan perlakuan suaminya, dia juga tidak dapat melukiskan perasaan yang dirasakan olehnya karena perlakuan Haikal tersebut, bahkan terkadang dia merasa jika yang terjadi ini hanyalah mimpi. Malam itu mereka tidur untuk pertama kalinya seperti layaknya suami istri dengan saling berpelukan sepanjang malam.


Entah ini hanyalah sebuah mimpi atau bukan tapi hari ini aku merasa sangat bahagia, jika ini memang mimpi aku ingin tertidur untuk selama-lamanya didalam pelukanmu Haikal. Batin Anin.


°°°°°


"Selamat pagi sayang". Sapa Haikal kepada istrinya.


"Kamu sudah bangun?". Tanya Anin.


"Iya, aku bahkan udah masak untukmu".


"Kamu masak lagi?. Kamu tidak perlu memasak sendiri Haikal, disini kan banyak pelayan".


"Aku ingin istriku hanya memakan masakan yang kubuat sendiri, agar istriku cepat sembuh".


Anin langsung tersenyum mendengar ucapan Haikal. "Kamu sangat berlebihan aku sudah sehat dan aku juga sudah bisa ke kantor lagi hari ini".


"Tidak, kamu tidak aku bolehkan kemana-mana hari ini. Aku mau ke kantor sebentar ada urusan yang harus aku selesaikan begitu urusannya selesai aku langsung pulang dan menemani kamu lagi, oke?".


"Tapi aku....".


"Tidak boleh membantah suami, dosa". Haikal memotong ucapan Anin. "Sekarang ayo sarapan dulu". Sambungnya lagi.


Lagi dan lagi Anin hanya bisa pasrah mengikuti semua kemauan Haikal, dia memilih untuk tidak bekerja hari itu.


"Aku berangkat dulu ya sayang". Haikal beranjak dari ranjang lalu mendekati Anin dan mencium keningnya.


Cup...


"Kamu istirahat ya, awas kalau kamu berani ke kantor dan semua urusan kantor sudah dibereskan oleh Lila, jadi kamu tidak perlu memikirkan apapun lagi". Haikal pergi meninggalkan Anin yang mematung di ranjang.


******Bersambung....


Like dan votenya di kencengin biar cepat adegan hareudangnya di up* 🤭🙈


BTW Dirgahayu Indonesia ku 🇮🇩 semoga kita semua bisa merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya 💞**


#saleumaneuknanggroe***

__ADS_1


__ADS_2