
Berada dalam ruang tamu yang begitu sempit nyatanya bukan itulah yang membuat diri Anin tidak nyaman namun kenyataan apa yang akan didengar olehnya nanti yang memvuat dadanya terasa sesak.
Bersalah atau tidaknya sang ayah pasti tetaplah akan membuat dirinya merasa bersalah. Karena jika ayahnya tidak bersalah maka dia merasa berdoaa terhadapa sang ayah namun jika ayahnya memang melakukan kesalah dimasa lalu maka dia akan merasa bersalah kepada anak dari ayahnya yang tidak lain adalah adiknya sendiri meskipun terlahir dari ibu yang berbeda, bagaimana bisa dia melihat kenyataan jika anak sekecil itu harus tinggal digubuk yang tidak layak untuk dihuni itu sedangkan dirinya bergelimpangan dengan kemewahan dan segala fasilitas.
Sambil menunggu wanita paruh baya yang diketahui bernama Mirna itu membuat minuman untuk mereka, Haikal menggenggam tangan Anin menandakan jika ada dia yang akan selalu mendukung sang istri untuk kuat menerima apapun kenyataan.
Mirna dengan wajah tampak pucat dan badan yang sangat kurus melangkah keruang tamu dengan nampan berisi minuman kemudian duduk dihadapan Haikal dan Anin dengan senyuman terpaksa.
"Silahkan diminum dulu". Mirna mempersilakan kepada Anin dan Haikal.
"Tante". Desah Anin, Mirna tahu betul maksud dari ******* tersebut mengisyaratkan jika Anin ingin mendapatkan informasi penting darinya.
"Maaf". Mirna menghela napas kasar. "Tante sangat berdosa padamu dan orang tuamu Anin". Ucap Mirna dengan suara bergetar.
Meskipun hanya itu yang keluar dari mulut Mirna namun Anin sudah dapat menangkap sinyal penyesalan yang mendalam dari nada suara Mirna. Anin memejamkan matanya mendengarkan hal tersebut, air matanya jatuh tanpa bisa dia tahan lagi.
"Kenapa tante tega sekali kepada kami?". Tanya Anin lirih, sedangkan Haikal mencoba menguatkan sang istri dengan terus merangkulnya.
"Tante benar-benar menyesal dengan semua yang terjadi Anin, situasi membuat tante gelap mata saat itu". Mirna kemudian tidak bisa menahan tangisannya dan juga tidak bisa berkata-kata lagi.
Setelah puas menangis Mirna tiba-tiba mendekati Anin dan berlutut dihadapannya. "Anin maafkan semua kesalahan tante, tante tahu jika maaf saja tidak cukup untuk menebus semua yang sudah terjadi tapi tante sudah mendapatkan akibat yang sangat pahit dari semua perbuatan buruk tante". Anin terkejut dan langsung berdiri untuk menghindari Mirna.
Haikal mendekati Mirna dan membantu agar Mirna bangkit dari lantai. "Tidak perlu seperti ini tante". Ucap Haikal kemudian.
__ADS_1
Tanpa menoleh kearah Mirna, Anin kemudian berkata. "Semua ini bukan sepenuhnya kesalahan tante, aku juga ikut andil didalammya. Tolong ceritakan semuanya tante, Anin juga berhak tahu yang sebenarnya". Ucapnya datar namun begitu dia tetap tidak mau mencari kambing hitam atau pembenaran appun karena nyatanya dia dan ibunya juga turut bersalah karena tudak mempercayai sang ayah.
Situasi kembali tenang, mereka kembali duduk di posisi semula, Haikal juga menganjurkan untuk Anin agar minum dulu agar lebih tenang.
Mirna mulai bercerita awal mula kesalahpahaman itu terjadi karena dia dihamili oleh kekasihnya namun sang kekasih tidak mau bertanggungjawab dan hilang tanpa jejak. Mirna yang putus asa akhirnya mengambil jalan buntu dengan menjebak sang bos dengan memanfaatkan kebersamaan mereka saat melakukan perjalanan bisnis keluar kota, agar terkesan jika ayah Anin lah yang menghamilinya sehingga dia tidak perlu menanggung malu sendirian.
Namun diluar dugaannya jika ternyata ayah Anin bukanlah orang yang mudah mengkhianati pernikahannya begitu saja, dia menolak mentah-mentah permintaan Mirna untuk menikahi secara diam-diam meskipun menikah siri dan menjadi istri simpanan.
Yang lebih mengejutkan dari itu semua adalah ketika sang bos ternyata lebih memilih mengakhiri hidupnya daripada menikah dengannya, rasa bersalah yang begitu besar dirasakan olehnya itu terus menghantuinya selama bertahun-tahun bahkan sampai pada dia jatuh sakit, ya, Mirna saat ini mengidap kanker hati stadium akhir, dimana saat ini dia sudah pasrah ketika maut datang menjemputnya.
Kata demi kata yang keluar dari bagai sembilu yang menusuk tepat dijangtung hati Anin, bagaimana bisa di tidak mempercayai sang ayah yang memang sangat tulus mencintainya., bahkan dia tidak pernah mengunjungi makam kedua orang tuanya lagi sejak hari pertama mereka dimakamkan, sungguh miris bukan.
Lamunan Anin yang melayang entah kemanapun buyar ketika muncul sosok anak lelaki kecil berusia 7 tahun dengan ceria masuk kedalam rumah tersebut dan memanggil Mirna. "IBUUU, Asyraf pulang". Teriaknya riang, ketampanan sangat mendominasi diwajah anak lekaki tersebut meskipun usianya masih kecil.
Anak lelaki itu langsung menuju Mirna dan memeluknya erat, Mirna yang tadinya tampak sedih seketika wajahnya memencarkan kebahagiaan. "Beri salam dulu nak, jangan teriak-teriak begitu". Ujar Mirna.
Mirna tersenyum sambil mengusap pucuk kepala anaknya. "Walaikumsalam".
Asyraf kemudian melihat sekelilingnya dan mendapati Anin dan Haikal disana. "Oh, ada tamu". Asyraf langsung mendekati Anin dan Haikal lalu menyalami mereka bergantian dengan mencium punggung tangan mereka, hal itu mampu membuat mereka merasa tersentuh dengan kesopanan anak sekecil Asyraf, anak kecil yang sempat dianggap Anin sebagai adiknya.
Ketika Anin sudah mengetahui semua fakta yang terjadi dia memutuskan untuk segera pergi dari rumah Mirna karena ada hal yang menurutnya sangat penting untuk segera dia lakukan yaitu mengunjungi makam kedua orang tua yang hanya sekali dilihat seumur hidupnya.
"By, kita kemakam papi dan mami dulu ya". Ucap Anin lirih.
__ADS_1
"Baiklah, apa perlu kita ketoko bunga dulu?". Tanya Haikal dan di respon dengan anggukkan oleh Anin.
Dalam perjalanan tersebut Anin hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun, pandangannya terpaku kearah jendela. Haikal mengerti perasaan Anin saat ini, dia merasa sangat terpukul dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Sayang". Haikal mengusap pucuk kepala Anin. "Jangan terlalu dipikirkan lagi ya, kasihan baby kita kalau kamu stres memikirkan banyak hal dia juga akan merasakan hal yang sama nanti". Kemudian mengusap perut Anin.
Anin menangkap tangan Haikal dan menggenggamnya dengan erat. "Maafkan aku by". Ucapnya bergetar dan wajah yang menunduk.
"Untuk?".
"Aku juga pernah meragukan darimu dan terimakasih banyak".
"Terimakasih?".
"Terimakasih kamu mau berjuang untuk keutuhan rumah tangga kita, aku bahkan sangat malu menunjukkan wajahku dihadapanmu". Ucap Anin lirih.
Haikal langsung menepikan mobilnya lalu menarik Anin dalam pelukannya. "Sayang, jangan lagi memikirkan hal itu, sekarang kita sudah bahagia bahkan Maya juga tinggal bersama kita jadi anggap semua ini tidak pernah terjadi dan jadikan ini semua pengalaman agar kita saling menjaga kepercayaan satu sama lain heem". Haikal mengecup kening Anin.
"Kamu tahu, aku juga pernah merasa putus asa tapi keyakinanku pada hati dan cintaku yang membuat aku bangkit dan berjuang mendapatkan kepercayaanmu lagi, apalagi ketika aku tahu dia hadir disini, aku tidak akan biarkan dia kekurangan cinta kita sedikitpun". Kemudian dia mengecup perut Anin.
"Kamu juga harus menjadi ibu yang kuat untuknya heem, karena Anin yang aku cintai adalah sosok wanita tangguh jadi jangan biarkan dia bersedih disini". Anin menganggukkan kepala. "Janji?". Tanya Haikal lagi.
"Iya aku berjanji mulai sekarang aku akan selalu percaya padamu apapun yang terjadi by, dan aku akan menjadi ibu yang kuat untuk anak kita".
__ADS_1
Lega, itulah yang dirasakan oleh Anin saat ini meskipun waktu sudah tidak mungkin untuk diputar kembali tapi setidaknya dia sudah bisa berdamai dengan masa lalunya dan menjadikan pengalamannya itu sebagai sebuah pelajaran berharga.
•••••